Skip to main content

Tiga Lelaki di Sudut Malam yang Ingin Menguasai Dunia dan Dua Tiga Langkah Teka Teki yang Tidak Perlu Dijawab


Tepatnya di sudut tembok bangunan kafe, dulunya mini market, harus tutup setelah mengucapkan selamat kepada pesaingnya. Saya sebut saja kafe untuk menunjukkan lokasi,  merupakan transaksi jual beli segala hal yang dibutuhkan untuk duduk santai melepas penat, berdialog, berjumpa menuntaskan janji, atau apa sajalah yang hendak ditunaikan. Walau sebenarnya, nama tempat itu tidak memakai kata ‘kafe’ atau warung kopi. Tetapi, di sana, kopi bisa dipesan sebagaimana ragam es krim yang, memang jualan utamanya. Menjadi pertama di kabupaten yang baru saja menggelar hajatan pemilihan kepala daerah dan menyisakan banyak soal yang belum tuntas dijawab. Utamanya, mengenai indikasi penggunaan ijazah palsu. Apa boleh buat, pengukuhan sudah dilakukan. Ucapan sudah dipublikasikan, transaksi telah lama berlangsung, janji sudah usang disebut-sebut. Dan, doa-doa telah usai dibayar. Sungguh, jumlah yang kecewa dengan bahagia bisa disebut imbang.

Saya yakin, seorang lelaki dari tiga lelaki di malam itu. Kedua bola matanya akan fokus pada dua kata yang sengaja saya tebalkan di paragraf pertama di atas. Peduli setan. Sudah bukan urusan saya jika ia harus tersenyum atau akan mengulang petuahnya soal demokrasi santun.

Frans Kafka, menganggap kalau apa yang telah ia tulis selalu saja tidak sempurna. Beberapa manuskrip novelnya hendak ia bakar. Termasuk The Trial. Dan kini, adakah penulis prosa setelahnya yang menolak merujuk kepadanya.

Murtadha Muthahari, sekali waktu pernah dikritik, diakibatkan menulis buku yang mudah dipahami. Bagi pengritik itu, seorang filsuf harusnya menulis traktat filsafat yang sukar dipahami. Muthahari bergeming. Ia kukuh pada jalan yang ditempuh. Pledoinya, buku seharunya ditulis dengan bahasa sederhana dan didistribusikan dengan mudah agar umat dapat memahami. Bukankah pecinta Rasul setia seringkali ada di kaum mustadafin.

Seorang lelaki lagi, sosok di balik berubahnya gedung mini market itu menjadi ruang tunggu melawan kejenuhan di rumah. Secara tidak sadar atau disadari, ia telah memindahkan meja tamu di rumah kita ke dalam imajinasinya. Imajinasi peleburan lalu lintas ekonomi yang, bisa saja tidak dipikirkan seorang pemikir ekonomi liberal, WW Rostow. Tetapi, ini sungguh, malam itu saya rasakan sendiri setelah memutuskan singgah setelah setahun lebih ruang tamu komunal itu diingat masyarakat kabupaten yang kepala daerahnya akan melawan bayangnya sendiri seiring teriakan penolakan ijazah palsu (untuk seorang lelaki di malam itu, gunakanlah mata …..?) Semangat ekonomi pertumbuhan, gagasan Rostow dulu, mondar mandir menghampiri siapa saja.

Malam itu sepenuhya bukanlah jawaban atas janji yang telah dilayangkan di media sosial di mana ribuan pasang mata membacanya sehingga kesakralan sebuah janji ternodai. Juga bukan atas dasar menuntaskan dendam melepas rindu karena lama tidak berjumpa. Sama sekali bukan. Semuanya berjalan begitu saja. Serupa penjaja sarabba menunggu pelanggan di pinggir Sungai Pangkajene yang di dekade 1990an, airnya sempat berubah menjadi kuning. Dan, di tahun belum lama berselang, mahkluk hidup berumah di dalamnya sontak mati mendadak. Begitulah semuanya terjadi.

Satu-satunya alasan yang bisa dikambing hitamkan. Ialah kebetulan. Namun, alasan ini klise sekali. Saya menolak menggunakan alasan ini di sejumlah ruang karena beberapa sebab yang tidak perlu saya musababkan di sini. Apa itu kebetulan. Bisakah disebut semacam serendipity (saya tidak menemukan padanan serapan kata ini, meski serendipity sendiri sudah merupakan adaptasi fonetik dari bahasa asalnya: Inggris). Visualnya, kira-kira seperti laku penemu hukum gravitasi, Newton, yang melihat apel terjatuh ke bawah. Atau penemu hukum berat, Archimedes, berteriak Eureka kala sedang mandi. Itulah serendipity. Pokok yang melintas di pikiran dari keseluruhan kerja otak berhari-hari untuk menyimpulkan suatu keputusan. Namun, jangan anggap itu kebetulan. Kualitasnya jelas berbeda.

Saya menyesal karena dulu melewatkan Metamorfosis di toko buku. Covernya rada absurd dan saya benci visual yang tidak jelas. Bahagianya, Pendidikan Kaum Tertindasnya Paulo Freire berhasil saya curi di perpustakaan sekolah.

Hingga hari ini, tak satupun novel pengarang Rusia saya tuntaskan. Pecundang, Jiwa-Jiwa Mati, Catatan Bawah Tanah, dan Rumah Tangga yang Bahagia. Semuanya lelap di rak. Ali Syariati kerap saya dengar berteriak tiap kali berkunjung ke perpustakaan kecil di rumah orangtua. “bebaskan saya dari himpitan buku-buku di kiri kanan saya,” katanya penuh gusar.

Kawan lama bingung ketika kupinta buku Imagine Community. Saya yakin, buku itu masih ada padanya. Sama yakinnya kalau ia tidak pernah membacanya.

Atau begini saja. Saya ceritakan peristiwa. Contoh ini tentulah sudah klise sekali. Mau tidak mau, saya harus gunakan, karena itulah yang paling mudah. Jadi begini, terjadilah tabrakan dua pengendara sepeda motor di depan lampu merah depan kafe ruang tamu komunal itu. Keduanya dari arah berlawanan. Ya, ialah berlawan, kalau searah itu konvoi namanya. Kejadian terjadi tepat di pukul sebelas lewat lima puluh delapan menit, dua menit lagi kedua jarum jam bertemu di angka dua belas. Pas ketika dua remaja sesama jenis bergandengan tangan (Aduh, ini seksi sekali, seorang lelaki yang lain di malam itu di beberapa status Facebooknya menghujat LGBT). Saya bisa saja mengganti remaja berbeda jenis, tetapi, bukankah ini sepenuhnya kuasa saya? Umberto Eco, novelis cum filsuf yang baru saja wafat, mengajukan tesis kalau tanda itu simbol kebenaran sekaligus berpotensi kesalahan.

Saya lanjutkan, ya. Tabrakan itu menggaduh ketenangan hari yang panas. Suaranya terdengar keras sekali. Rupanya, pengendara sepeda motor dari arah utara membawa lima gas elpiji, dua tabung meledak. Duaaaaaarrrrr. (Bisakah ini dipercaya sekalu pun hanya contoh? Ah, sudahlah, percaya saja dahulu. Tidak logis memang. Tetapi, Bukankah pejabat yang dicurigai terindikasi ijazah palsu itu ketika menerangkan kalau ijazahnya memang asli, para pendukungnya meyakininya seyakin-yakinnya. Haqqul Yaqin jika harus meminjam bahasa agama. Begitulah kebenaran bekerja dalam ukuran Umberto Eco)

Saya lanjutkan lagi, ya. Kedua remaja sesama jenis itu sontak kaget dan berlari keluar. Tidak jadi memesan es krim kegemarannya dan duduk rapi sambil merancang revolusi tentang Negara tanpa mazhab. Tidak hanya lari, begitu mendengar ledakan tabung kedua, keduanya bertatap muka sejenak dan bersamaan berteriak: “Ada bom. Kabupaten ini diserang teroris!” Ini lebay, tidak perlu dipercaya.

Tunggu dulu, sebenarnya saya sedang menjelaskan apa, ya?

Mendengarkan tembang Father and Son Cat Stevens yang kini mualaf dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Kualitasnya sama saja ketika dahulu ia gondrong. Videonya saya nonton di You Tube. Saya juga memutar beberapa tembang Neil Yong dan Jimmi Taylor. Kalian bisa mendengarnya juga, saya sarankan Old Man dan You’ve Got A Friend. Satu lagi, Piano Man dari Billi Joel, layak jadi teman berpikir.

Dialog Dini Hari. Band bergenre folk ini meniupkan terompet pertempuran. Dankie, vokalis sekaligus gitaris, mengingatkan banyak hal yang belum pernah saya jumpai. Ia juga masih memegang gitar di Navicula.

Saya ingat sekarang. Saya mengajukan ketidaktepatan penggunan kebetulan kaitannya dengan perjumpaan di malam itu. Kita sepakat dulu, malam itu bukan malam Jumat Pahing, istilah DN Aidit ketika malam 1 Oktober. Orde baru menyebutnya malam 30 September.

Jadi, malam itu bukanlah kebetulan, tetapi sudah kepastian. Sebagaimana contoh tabrakan dua pengendara. Mau dibolak-balik bagaimana pun, poros waktu berputar pada intinya. Keteraturan. Itu logikanya.

Di malam itu, saya juga menghubungi satu lagi lelaki melalui pesan pendek. Ia menolak datang karena waktunya sudah larut. Lelaki itu, saya kira bisa diajak dalam orhanisasi. Ingat, orhanisasi. Bukankah di malam itu kita sedang membicarakan pembentukan perkumpulan yang kira-kira bisa menampung ide-ide yang mustahil ditampung di media massa mana pun. Solusinya harus buat media sendiri. Malam keburu semakin larut. Dan, ini sepenuhnya derita saya. Tidak bisa berlama-lama lagi dan harus menyepakati kesimpulan besar atas apa yang telah diperbincangkan. Seorang lelaki di malam itu selalu mengejek saya untuk masuk kandang tepat pada waktunya.

Jika harus jujur. Pembahasan hanya soal etik tidaknya seorang jurnalis menulis tentang pocong. Keren tidaknya media daring menulis isu seksi tetapi setelah diklik, pembahasannya tidak mendalam. Perlu tidaknya menulis di akun Facebook dengan sasaran pembaca tertentu sembari menawarkan judul marketable sebagaimana ulasan seorang lelaki di malam itu. Ia mengeluhkan kalau seseorang menulis cenderung bicara banyak. Semuanya ingin diceritakan tanpa jeda.

Andai, jalan ini mau ditempuh Indonesianis yang menghibahkan waktu puluhan tahun di daerah penelitian. Perlas, umpamanya, hidup 20 tahun lebih di tanah Bugis di beberapa kabupatan di Sulawesi Selatan, memang harus menuliskan semuanya dengan cerewet. Tetapi, tetap saja pembacaan seorang kawan dari daerah yang menjadi lokasi penelitiannya menanggapi kalau Manusia Bugis hanyalah rangkuman saja. Tidak tuntas. Padahal, Pelras sudah bicara banyak di buku itu.

Misal yang lain, Marx, aduh, kasihan sekali filsuf ini, ajal keburu menjemput sebelum menuntaskan karya puncaknya. Das Kapital yang dua jilid saja itu sudah bikin mumek. Bukankah filsuf harusnya menyederhanakan konsep rumit. Marx, sepertinya sangsi dengan asumsi sederhana begituan. Maklum, jenggotnya lebat, di belahan bumi, tidak ada yang tidak terpengaruh dengan idenya. Walau kemudian, ini terdengar utopia, tetapi sungguh terjadi, di hari pemakamannya, jumlah kepala yang runduk bisa dihitung jari.

Padahal, urusan menulis sama sekali tidak ada hubugannya dengan teori pemasaran. “Menulis ya menulis saja,” ujar Pram, novelis agung Indonesia yang semua judul bukunya, menurut saya, sama sekali tidak layak jual. Kaku. Tidak marketable gitu. Tetapi, bisakah kita menutup mata, kalau pembacanya sudah berlapis generasi.

Rutinitas rutin yang sudah lima tahun saya geluti ini sedikit lagi mengubahku menjadi kecoak. Serupa Gregor Samsa di novela Kafka. Terbangun di pagi dan menemukan diri sudah dalam kubangan kontrak dan target yang perlu dikejar. Saya perlu piknik. Saya lakukan bersamaan rutinitas. Menjelajahi kehidupan masa lalu dan masa kini pesepakbola di PanditFootbal. Fandom Footbal. Juga ada peta menuju ruang kreatif para penggerutu di Fiksi Lotus. Dari sana saya melangkah ke ruang piknik yang saya anggap perlu dikunjungi. Banyak sekali.

Bukan tulisan yang mencari pembaca. Pembacalah yang mencari gagasan melalui tulisan. Metamorfosis. Itu judul novela Franz Kafka. Apanya yang menarik dari segi pemasaran. Orang yang sudah makan asam garam kesusatraan pun bakal mengira kalau judul itu mengarah pada buku pelajaran biologi.

Sebagaimana membaca. Menulis itu tindakan paling egois. Itu layak dipertahankan. Sartre menangkap semangat itu ketika menolak menerima Nobel Kesusastraan di tahun 1964. Semangat zaman kaitannya dengan kesusastraan kala itu mestinya diberikan kepada Pablo Neruda. Menurut sang filsuf.

Menulis di sudut tertentu hanyalah igauan dan kesenangan belaka. Fredy S, juga Abdullah Harahap, termasuk penulis sejenis di angkatannya yang dianggap “medioker” dalam kekuasaan politik sastra tertentu, tidaklah serta merta berang dan mengubah haluan. Justru orang-orang dalam kekuasaan yang menyebutnya medioker yang kelimpungan mendapati penulis yang disebutnya “medioker” itu memilik anteran pembaca dari pintu tiap generasi.

Tidaklah adil saya kira jika dalam tapak membaca puluhan buku filsafat harus gugur di hadapan satu judul buku pemasaran. Itu tindakan berengsek. Sama tidak adilnya membandingkan media yang satu dengan media yang lain padahal konsepnya berbeda.

Gerimis di malam itu tidak cukup berubah menjadi selimut. Ia harus mengalah. Mundur perlahan sebelum dibenci. Ini konyol, tetapi selalu diyakini kalau malam minggu merupakan malam yang panjang. Bukankah perputaran waktunya sama dengan malam-malam yang lain. Ini menujukkan apa. Di sana ada gagasan yang menolak tata aturan logika yang ada. Jadi, ya, begitu.

Lalu, sudahkah semuanya saya tuntaskan di sini hanya untuk mengulas perjumpaan di malam itu. Di ulasan ini saya berusaha memasukkan beragam aspek walau tidak saling berhubungan. Namun, rasa-rasanya belum tuntas. Masih banyak yang perlu diulas, layaknya menduga-duga jawaban apa yang layak atas teka-teki di meja makan kita. Itu. (membayangkan ekspresi Mario Teguh menyudahi ulasannya sambil menutup dengan kata; ITU)

***
Makassar, 26 Februari 2016
Catatan:

1.    Ini ulasan mengenai perjumpaan dengan kawan di malam minggu lalu
2.    Ada beberapa paragraf sengaja saya tebalkan (bold) dan kalimatnya miring. Keseluruhan catatan ini bisa dibaca dengan melewatkannya. Itu maksudnya apa. Saya belum tahu, tetapi semacam teka teki agar jeli membaca gagasan atau kecerewetan. Saya sering mengalaminya jika membaca novel. Bisa juga dibaca kalau saya sedang membeberkan hal-hal yang saya gemari mengenai musik, buku, dan website termasuk aktivitas yang batasnya tipis saja dengan terbelenggu dengan kebebasan.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…