Skip to main content

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas



#1

Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for Social Transformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia menemukan buku itu tergeletak seadanya di rak paling bawah. Jika tidak salah, harganya tidak sampai lima belas ribu rupiah. Murah sekali.

Karena cuma satu-satunya, seorang teman lagi yang kepengen membelinya harus mengalihkan keinginan membeli News Letter On/Off saja yang harganya lebih mahal rokok Djarum sebungkus. Hanya seribu rupiah, kawan. Rencananya, sepulang ke Makassar, media itu akan kami jadikan rujukan membuat buletin.

Nama akbar Mansour Fakih dan Roem Toepatimasang lah, yang mengundang kami ke sana. Tidak perlu cemburu. Undangan yang dimaksud di sini, bukanlah berupa kiriman email atau sepucuk surat yang diantarkan petugas pos yang menempuh perjalanan sesat mencari alamat kelompok diskusi kami di dalam kampus. Bukan. Bukan sama sekali. Kami pongah saja menyebutnya undangan. Padahal Mansour dan Roem sebatas kami kenal dari karya mereka. Sesat Pikir Teori Globalisasi dan Sekolah itu Candu, dua buku itulah yang kami jadikan pegangan saat merancang perjalanan ke Yogyakarta.

Putuhut EA, begitulah nama pengarang kumcer yang berani sekali memasang kata “Kitab” di judul bukunya. Tahukah dia, kalau kitab bagi kami di kelompok diskusi merupakan buku suci. Mana beranilah kami membacanya kalau tidak diawali dengan wudhu. Meski kami jarang salat. Tetapi, di beberapa buku filsafat yang dibaca, tidak afdal jika tidak menyucikan diri terlebih dahulu. Ini semacam berhala yang kami bangun sendiri. Dan, seorang teman dengan bangga sehormat-hormatnya menuliskan catatan di papan tulis. Membaca buku dua bab, pahalanya sama dengan menunaikan salat sunat 12 rakaat. Heroik sekali, bukan.

Karena buku kumcer itu tidak bakal ditemukan di toko buku manapun di Makassar. Ya, jelas tidak mungkinlah. Toko buku di kota ini tidak penting amat. Saking tidak perlunya, jumlahnya bisa dihitung jari. Jadi, buang jauh-jauhlah impian muluk mendambah di Makassar terdapat ruang semacam Shoping Center kayak di Yogya. Lagi pula, kalau pun ada, siapa yang mau membaca. Di kota ini, ah, sudahlah!

Atas provokasi teman itu pula. Sedikit bertambah banyak, saya mulai membaca beberapa buku sastra. Sesekali, jika berkunjung ke indekosnya, Kitab yang tak suci itu saya buka halaman demi halaman. Saya buka saja sebab gejolak mencurinya lebih besar ketimbang membacanya. Di kalangan teman diskusi, kebiasaan saling meminjamkan buku tidaklah beroleh tempat  memadai. Kami selangkah lebih anarkistik, cukup seorang saja membeli buku asli. Selebihnya, buku itu kami fotokopi dan menjilidnya serupa model skripsi. Dan, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Kami punya dalil yang kuat. Sebagai anak rantau di kota, tak sudi kiranya kiriman orangtua dihabiskan beli buku. Pesan orangtua, tak ingin tahu soal itu. Selesaikan studi dan kerja. Persoalan mau baca buku atau tidak, itu hal-hal yang tidak akan diselesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Memoto kopi buku tak selamanya dilakukan. Ada titik kesadaran kalau ada hak penulis yang kami kebiri. Di titik itulah kami berhenti dan merenung. Cukup penulis berbagi royalti dengan penerbit, distributor, dan toko buku. Jangan lupakan pemerintah, atas nama pajak, ada hak yang harus dipotong. Kami insyaf. Lebih baik membeli buku asli kalau benar-benar sadar dan sudah ihklas menjalani puasa nabi Daud, sehari puasa sehari tidak. Atau, meski tidak ada dalilnya, saling mencuri buku adalah jalan menemukan kebahagiaan tertentu.

Tetapi, kitab yang tak suci itu tidak saya curi, kok. Saya senang membuka halaman-halamannya saja jika datang berkunjung. Berhenti melakukan kebiasaan mencuri. Tidak ada alasan yang perlu dijabarkan. Yang diketemukan hanyalah keganjilan. Saya membayangkan, di lingkungan kelompok diskusi kala itu, kami serupa orang-orang dalam cerpen Kambing Hitam, karya Italo Calvino, sastrawan asal Italia. Ada sebuah negara yang semua penduduknya adalah pencuri. Ajaibnya, tidak ada yang kaya dan miskin. Mengapa, karena semuanya bertindak sama. Begitulah, tidak ada yang merasa kehilangan buku sebab semua melakukan hal serupa.

Semua selesai usai studi rampung. Pulang ke kampung masing-masing dan putus komunikasi. Telepon genggam sudah marak dijual, tetapi belum ada yang memiliki satu pun. Harga. Itu alasan utama.

#2

Di tahun 2004, Dua Tangisan pada Satu Malam, kumcer Puthut, tidak tahu kumcer ke berapa., diterbitkan Kompas menjadi pelepas dahaga setelah Sebuah Kitab yang Tak Suci gagal saya curi. Gerakan membolak-balik halaman sesungguhnya hanyalah trik. Berharap kawan itu lalai mengawasi. Setelah sadar itu merupakan cerpen, sebagaimana biasanya antologi, ada semacam cerpen pamungkas yang dijadikan judul buku. Sialan, Sebuah Kitab yang Tak Suci bukanlah salah satu judul cerpen. Dalam hati, kok bisa ya. Menerbitkan kumpulan cerpen bisa dilakukan seperti itu. Suka-suka penulisnya.



Jika direnungkan berdasarkan akumulasi pembacaan mengenai buku sebagai sesuatu yang formal. Puthut melawan arus. Dengan bangga, tentu kita baca seorang penulis menegaskan dengan catatan pendek perihal kepada siapa buku itu dipersembahkan. Misalnya saja, dituliskan begini: Kepada dua putra dan satu putriku. Muhsin, Kadir, dan Sukma. Ada juga seperti ini: Buku ini kupersembahkan kepada ayah dan ibuku yang setia dan penuh kasih telah membesarkanku. Dan semacamnya.

Tetapi, Puthut, tidak. Ia seolah mengejek, memangnya buku yang kau tulis dengan susah payah dan berdarah-darah menerbitkannya hanya untuk dibaca orang-orang di sekitarmu saja. Lalu, untuk apa diterbitkan. Mending mencetaknya dengan printer saja kemudian kau beri ke orang-orang tercintamu. Selesai.

Sedikit lebih absurd, Puthut hendak melawan atau menafikan hal yang sudah banyak dilalui para penulis. Seolah mengolok, Puthut menuliskan kalimat pendek di halaman persembahan: Sejujurnya, bukan untuk siapa-siapa. Plis! Kumcer Dua Tangisan pada Satu Malam untuk siapa, dong!

Seorang teman diskusi lainnya yang lahir di tahun yang sama dengan Puthut, tahun 1977. Mengutarakan keiriannya, katanya, ia sudah membaca lebih dari 200 judul buku, namun belum bisa menulis. Menggarap makalah saja ribetnya minta ampun. Satu lagi teman, tersenyum ketika saya menyebutkan buku kumcer itu. “Itu kritik untuk hal-hal yang disebut arus utama.” Tukasnya.

Di edisi kedua News Letter On/Off terbitan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), link lembaga INSIST yang bergerak di bidang kebudayaan terbit di tahun 2002. Nama Puthut EA tertera di sana selaku editor.

Di catatan editor disebut Zlink! Ada kalimat pembuka:

“Kami tidak pernah benar-benar tertidur, entah. Semenjak edisi perdana kami merayapi banyak kamar tidur, laci, dashboard, tas kuliah, bersanding dengan Sinchan, Padi, Kahlil Gibran, Irex,Supernova, Larung. Sebab pasti anda merasa kurang sempurna menjadi manusia jika tidak mengakrabi benda-benda yang kami sebut-sungguh, lelap adalah peristiwa langka. Untuk sementara, kami rela menukar lenyapnya lelap kami dengan sebuah edisi kedua on/off, bagi anda semua….”

Di tengah, edisi kedua On/Off, Media Orang Biasa

Akhirnya, ketika menerbitkan buletin kampus, saya mereparasi kalimat di atas sebagai catatan pengantar. Tidak ada perdebatan di meja redaksi. Bukan karena di sekretariat memang tidak ada meja. Sepakat tidak sepakat, saya harus menuliskannya. Kalimat di atas serupa catatan pembuka novel-novel legendaris. Tidak jelas siapa yang menuliskannya, karena tidak disebutkan nama penulis. Hanya ada tulisan: “Zlink” dan di bawahnya “Editor”. Karena Puthut selaku editor, saya menebak saja atas azas praduga benar. Puthut yang menuliskannya.

Di lembaran akhir Dua Tangisan pada Satu Malam, Puthut merasa perlu menuangkan ihkwal proses kreatifnya yang, judulnya, ah, nilai sendirilah: Sejumlah Alasan-alasan yang Mungkin Anda Butuhkan: Semacam Ingatan atas ‘Proses (tidak) Kreatif Puthut EA.

            yang tertangkap basah
            pada mata dan telingaku
            berhati-hatilah
            telah kupersiapkan
            perjalanan tanpa tujuan

Tidak jelas, apakah itu sebentuk sajak atau bukan. Dari bentuknya, bisa saja dianggap demikian. Dan, lima larik di ataslah yang perlu dibaca lebih dahulu sebelum menjejal kalimat berikutnya yang, disebutnya sejumlah alasan. Puthut membeberkannya layaknya menulis cerpen. Penuh imajinasi liar yang menghubungkan beragam hal.

“…harus kuakui, dunia fiksi bagiku adalah sejarah dendam dan sejarah keinginan-keinginan...”

Saya sudah lupa, sudah seberapa sering membaca kumcer ini. Dari keseringan itu saya juga lupa apa yang saya baca dan merasa tidak pernah menuntaskannya. Sepenuhnya salah saya. Mungkin di lain waktu saya butuh menyusun alasan-alasan mengapa dari membaca buku filsafat tak juga menjadi jalan lapang memahami sastra. “Filsafat itu induk pengetahuan.” Ulang teman-teman di lingkungan diskusi. Di tahun ketika membeli kumcer ini, buku filsafat masih mendominasi rak buku. Rak buku penjual buku langganan kami. Heranlah saya, sebab pengarangnya justru alumni filsafat dari salah satu universitas mitos di negeri ini, Universitas Gadja Mada.

Mengapa bisa begitu. Saya tidak tahu apa alasannya.

Bertahun-tahun selanjutnya. Aduh, maafkanlah, saya harus mengulang kata-kata klise ini yang diilhami kalimat pembuka novel Seratus Tahun Kesunyian. Kata ini banyak digunakan oleh mereka yang merasa perlu menuliskannya untuk membuktikan kalau mereka telah membaca karya Gabriel Garcia Marquez.

Karena memang lebih dari dua atau tiga tahun. Kira-kira di tahun 2010, tahun yang menandai saya melek internet ditandai dengan adanya kata kunci yang harus kuingat jika ingin membuka alamat email. Tidak berselang lama, kata kunci yang lain harus lagi saya ingat untuk akun Facebook. Begitulah selanjutnya setelah seorang teman membantu membuatkan blog.

Saya pernah membaca tulisan di sebuh website kalau perpustakaan terbesar abad ini adalah Google. Apa saja yang dicari, sisa memasukkan kata kunci. Di situasi tertentu, saya kira, sikap ragu layak dipelihara. Saya menuliskan Phutut EA lalu mengklik, eh, entar dulu. Tombol Enter laptop saya sedikit bermasalah. Laptop teman di samping saya segera kugunakan untuk membuktikan tesis yang kelewat mengagungkan teknologi informasi itu. Hasilnya, kun fa yakun, ada beberapa deretan yang perlu diklik lagi. Pilihannya, tentulah nomor urut satu. Layar laptop berubah. Ada tampilan ke abu-abuan mendekati hitam. Ah, saya tidak tahu persis gradasi warna yang muncul. Pastinya, ada beberapa kata bergerak jika kursor menyentuhnya. Tidak salah lagi, itulah website resmi Puthut. Untuk memastikan lebih detail, saya mengklik rubrik bibliografi, muncullah pajangan buku karya Puthut. Tetapi, saya tidak menemukan novel berjudul Tanda Tangan Merah. Informasi ini saya baca di halaman perihal penulis di kumcer Dua Tangisan pada Satu Malam. Entahlah, novel itu hanyalah igauan semata atau telah dituliskan dengan judul  yang lain. Saya tidak tahu, dan memang tidak perlu saya tahu. Namun, ada banyak sampul di sana, termasuk wajah Tora Sudiro dijadikan cover di salah karyanya.

Isi website (sebelum konten berubah seperti saat ini) saya geledah dari segala sudut. Rupanya, Puthut sudah pernah ke Makassar mengisi kelas menulis yang diselenggarakan Ininnawa atau lembaga yang berafiliasi ke lembaga itu. Ia berkawan lekat dengan M Aan Mansyur dan Nurhady Sirimorok termasuk dengan Anwar J Rachamn juga Ishak Salim. Nama terakhir pernah menulis catatan perjalanan yang saya muat di News Letter yang saya terbitkan bersama kawan-kawan di kota asal, Pangkep, sekitar 50 km di sebelah utara kota Makassar. Di catatan itu, Ishak menantang Puthut yang dikenalnya pecandu kopi untuk bertandang ke daerah Ulu Salu di kabupaten Enrekang, lebih jauh lagi di sebelah utara Makassar. Memerlukan perjalanan darat sekitar empat atau lima jam.

Membaca catatan di website itu, Puthut, rada menulis apa adanya. Suka-suka dirinya merekam apa yang hendak dituliskan. Begitulah, Bob. Merupakan catatan sepetak perjalanan hidup seorang perupa yang tubuhnya penuh tato. Keren sekali.

Efek dari dunia maya, kita begitu jauh tetapi dekat. Saya mengajukan pertemanan di Facebook dan ditanggapi. Tentulah, tanggapan itu semata untuk menambah teman saja baginya. Saya menduga. Teman yang tidak penting, namanya juga dunia maya.  Atau, jangan-jangan, Puthut khilaf menanggapi permohonan pertemanan saya. Ya, Tuhan! Mafkanlah hambamu ini.

Di blog, saya tidak tahu siapa adminnya, Kumpulan Cerpen Kompas, menjadi jelajah lanjutan membaca cerpen Puthut yang dimuat di media itu. Ibu Tahu Rahasiaku. Cerpen ini, ya berupa cerpen. Sama dengan cerpen Puthut yang lain.

Di dua paragraf pendek di akhir Proses (tidak) Kreatif. Dituliskan begini:

            “Orang butuh alasan-alasan, dan telah kupaparkan dengan sangat cerewet.”
           
“Maafkanlah.”

Tak lupa diterangkan penanda ruang dan tarikh: Ruang Sesat, Maret 2003.

Begitulah, Puthut membeberkan perlawanan literasi dari yang dianggap arus utama yang tak dapat dijamah, diubah, dan akan tidak dianggap sebagai bagian dari yang arus utama itu. Ingat, ya. Ini pendapat saya saja. Jika tidak sepakat. Silakan saja.

#3

Teringat catatan Eka Kurniawan di jurnalnya, “Saya akan membuat peta sendiri di dunia sastra,” tulisnya. Siapa Eka siapa Puthut. Keduanya pernah berkhidmat di AKY. Di edisi kedua On/Off, Eka menurunkan catatan, Sup Barbie: Secangkir Mitos, Seiris Biografi, 3 Sendok Fantasi. Dijelaskan kalau tulisan itu merupakan cuplikan novel yang sedang digarapnya, Cantik Itu Luka.

Puthut menerbitkan kumcer Sebuah Kitab yang Tak Suci di tahun 2001, usianya boleh dikatakan belia, 22 tahun. Di tahun ini, di laman Facebooknya, kumcer pertamanya itu diterbitkan ulang. Sebelumnya, secara ekslusif, Indie Book Corner, asuhan Irwan Bajang, telah pula menerbitkannya. Terjadi kesalahan kecil, di halaman keterangan buku. Dituliskan kalau kumcer ini mulanya diterbitkan Jendela di tahun 2004 yang, harusnya tahun 2001. Bonus. Bernard Batubara, penulis yang sering kukunjungi blognya, bisikanbusuk, memeroleh penghormatan didaulat memberi catatan prolog.

Ada juga toko buku offline di Makassar menjual Kitab ini.
Di tahun 2013, ketika ada peluang menerbitkan kumcer perdana saya memakai sistem print on demand (POD) oleh penerbit Leutika Prio. Jadi, kumcer itu memang tidak beredar luas di toko buku manapun. Tetapi dipesan via penerbit di website. Harus kuakui, kumcer itu buruk sekali. Saking jeleknya, tidak ada yang pernah memesannya. Namun, ada juga teman yang mau meluangkan waktu meresensinya. Sila baca di sini

Judul yang kupakai, Sejumlah Ingatan dan Cerita-Cerita, juga bukan salah satu judul cerpen. Saya berani menggunakannya karena kumcer Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya juga memberikan catatan proses (tidak) kreatif di halaman akhir. Merujuk pada Dua Tangisan pada Satu Malam.

Dan kini, mazhab menulis ala Puthut sudah bergentayangan ke banyak anak muda di seluruh Indonesia. Jika belum bisa menerima asumsi ini. Anggap saja setengahnya saja. Jika tetap tidak bisa. Sepertiga. Seperempat. Seperlima. Seperenam. Begini saja, anggap saja Puthut tidak memiliki pembaca militan. Selesai.

Namun, hadirnya media daring Mojok.co. Bisakah kedua mata ini ditutup terus menerus. Kedua telinga disumbat dengan kapas. Mojok.co, adalah media selow yang mewadahi tulisan para penulis yang punya energi serta kreativitas berlebih. Sebuah media alternatif dengan konten segar dan menghibur. Media untuk bersenang-senang dan bergembira bersama. Itulah diktum yang digelorakan.

Andai. Ini andai saja, ya. Kalau saja buku 33 Sastrawan Paling Berpengaruh tidak menempatkan nama Denny JA di sana dan digantikan Puthut EA. Mungkin, buku itu akan lolos saja tanpa ada huru-hara. Dan, Saut Situmorang tidak perlu dibui. Tetapi, ini hanya andai.

***

Makassar, 16 Februari 2016

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep