Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Tiga Lelaki di Sudut Malam yang Ingin Menguasai Dunia dan Dua Tiga Langkah Teka Teki yang Tidak Perlu Dijawab

Tepatnya di sudut tembok bangunan kafe, dulunya mini market, harus tutup setelah mengucapkan selamat kepada pesaingnya. Saya sebut saja kafe untuk menunjukkan lokasi, merupakan transaksi jual beli segala hal yang dibutuhkan untuk duduk santai melepas penat, berdialog, berjumpa menuntaskan janji, atau apa sajalah yang hendak ditunaikan. Walau sebenarnya, nama tempat itu tidak memakai kata ‘kafe’ atau warung kopi. Tetapi, di sana, kopi bisa dipesan sebagaimana ragam es krim yang, memang jualan utamanya. Menjadi pertama di kabupaten yang baru saja menggelar hajatan pemilihan kepala daerah dan menyisakan banyak soal yang belum tuntas dijawab. Utamanya, mengenai indikasi penggunaan ijazah palsu. Apa boleh buat, pengukuhan sudah dilakukan. Ucapan sudah dipublikasikan, transaksi telah lama berlangsung, janji sudah usang disebut-sebut. Dan, doa-doa telah usai dibayar. Sungguh, jumlah yang kecewa dengan bahagia bisa disebut imbang.
Saya yakin, seorang lelaki dari tiga lelaki di malam itu. Kedu…

Perjalanan Pulang

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…