Skip to main content

Sebuah Desa, Mata Air, dan Kisah yang Melingkupinya






Air dari slang itu terus mengalir memenuhi kolam di dalam toilet. Syamsuddin, tuan rumah tempat kami tinggal dalam menjalani proses Kuliah Kerja Nyata Lapangan (KKLP) tahun 2012 silam, mengimbau, bila kolamnya sudah terisi penuh, maka pindahkan slang ke bak di luar toilet. Itulah yang dilakukan Ronal, seorang teman kami memenuhi pesan Pak Syam, sapaan akrabnya, sebelum berangkat ke kebunnya pagi itu bersama istrinya.

Sambil menunggu tuan rumah kembali, kami berbagi tugas menjalankan tugas selaku mahasiswa yang sedang praktik kuliah lapangan. Syamsiah dan Uni kebagian ke sekolah dasar dekat posko untuk mengajar. Rosmawati bertugas menyiapkan santapan makan siang. Saya dan Ronal memilih membersihkan halaman sebelum ke kantor desa melakukan riset data kependudukan. 

Dari kanan: Syamsiah (istri Pak Syam), Rosmawati, Syamsiah, Uni, Daus (Penulis), Ronal, Pak Syam

Sekitar pukul sebelas siang, saya dan Ronal kembali ke posko. Nampaknya Syamsiah dan Uni sudah tiba lebih awal. Di teras, mereka berbincang dengan Pak Syam. Kami berdua langsung melibatkan diri dalam obrolan.

Pak Syam, bapak satu anak ini, rumahnya memang kerap dijadikan posko oleh mahasiswa yang sedang KKLP di desa Tompobulu, kecamatan Balocci, kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sekitar 50 km di sisi utara kota Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Ia bercerita kalau sumber air warga berasal dari sumber yang sama di sebuah kawasan hutan berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya. Di sana telah dibangun kolam yang dijadikan penampungan dari mata air. Dari kolam itulah warga memasang pipa menuju rumah masing-masing.

Jadi, di kolam itu memang terdapat banyak pipa untuk distribusi air ke rumah warga di dusun Bulu-Bulu. Desa Tompobulu sendiri terletak di kaki gunung Bulusaraung dan terdiri dari tiga dusun. Dua dusun yang lain, Bajeng dan Tanete  juga menggunakan sistem pengairan yang sama dengan sumber mata air berbeda karena tiga dusun ini saling berjauhan sekitar 10 km.

Kantor desa Tompobulu

Setelah Rosmawati menyiapkan hidangan, pembicaraan dilanjutkan di meja makan, Pak Syam menceritakan jalan panjang pergulatan warga merawat hingga merancang manajemen pengelolaan air agar warga yang mendiami desa di ketinggian mencapai 880 mdpl senantiasa tidak kekurangan air. Di masa kecilnya, Pak Syam dan sejawatnya memiliki rutinitas ke sumber mata air guna memanggul air keperluan rumah tangga. Di saat itu sudah ada praktik di mana rumah warga yang dekat mata air menggunakan bambu sebagai alat yang dialiri air ke rumahnya. Masalahnya, warga yang rumahnya jauh tentu tidak dapat menerapkan metode itu.

Namun, Pak Syam kecil menjalani rutinitasnya itu dengan bahagia sebagai pengalaman hidup. Di tempat itu, warga terkadang berebut dengan babi hutan atau anjing. Inisiatif mengantisipasinya dengan memagari sumber mata air agar warga tetap bisa menggunakan air dengan bersih. Dalam perkembangannya, jumlah penduduk bertambah seiring rumah tangga. Tantangan inilah yang membuat warga berusaha mengembangkan sistem pengairan agar dapat dinikmati bersama secara adil, termasuk dengan hewan liar yang tentu memerlukan juga air.

Mengingat air terus mengalir, membangun kolam penampungan menjadi solusi agar warga tetap bisa menggunakan air secara bersamaan. Untuk menjaga sumber mata air tetap bersih, aktivitas mengambil air hanya dilakukan di kolam yang telah dibangun. Kawanan ternak  dan habitat hewan liar memperoleh air dari sungai kecil yang juga bersumber dari mata air. Tegasnya, sumber mata air itu menghidupi segala mahkluk hidup di desa Tompobulu.

Para pendaki gunung bukan hanya di kabupaten Pangkep, tetapi juga di Sulawesi Selatan sangat familiar dengan desa Tompobulu. Gunung Bulusaraung menjadi alternatif melakukan kegiatan menaklukkan ketinggian selain gunung Lompobattang atau Bawakareng. Di desa inilah para pendaki singgah sebelum melanjutkan jalan menanjak ke puncak Bulusaraung.

Puncak Gunung Bulusaraung

Bertahun-tahun, warga Tompobulu mengandalkan sumber air dari mata air yang keluar dari ceruk karts yang disuplai dari pepohonan. Warga memahami kalau air merupakan anugerah Tuhan, karena itu patut disyukuri dan menghormatinya dengan menjaga kawasan hutan di sumber mata air. Pohon di area itu tidak boleh ditebang untuk keperluan rumah tangga sebagai bahan kayu bakar ataupun keperluan membangun rumah. Selain itu, dalam tradisi masyarakat dalam hajatan pernikahan, kedua mempelai diwajibkan menanam lima batang pohon sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan. Lokasinya tidak mesti di area mata air, yang pastinya masih dalam lingkungan desa.

Saat melakukan KKLP, pas sekali saat itu ada jadwal warga memperbaiki pagar sumber mata air. Kami pun ikut terlibat merombak pagar yang bambunya sudah keropos dengan yang baru. Di hari itu, aktivitas dimulai dari masing-masing rumah warga dengan membawa bambu yang, sebelumnya telah dikabarkan kepala desa di masjid. Dari rumah Pak Syam, kami berlima membawa sekitar sepuluh batang bambu. Sesampai di lokasi, bahan baku itu dikerjakan bersama. Ada yang membela bambu, mengikat, dan menggali tanah untuk pancangan tiang pagar. Kesemuanya berlangsung alamiah tanpa ada yang mengomandoi. 

Saat mengangkat bambu menuju lokasi mata air

Teologi Air

Air, dalam bahasa Arab. Urdu, dan Hindustan, disebut Ab atau Abad Raho yang berarti salam untuk kemakmuran dan kemelimpahan. Demikian tulis Vandhana Shiva dalam bukunya, Water Wars: Privatisasi, Profit, dan Polusi. Di semua tradisi agama atau kepercayaan umat manusia, air menempati posisi agung sebagai media dalam prosesi keagamaan. Sebutlah umpamanya, ritual ibadah haji umat muslim, niat untuk mereguk mata air peninggalan keluarga nabi Ibarahim, air zamzam menjadi salah satu tujuan untuk meminumnya. Dalam Surah Al Anbiya ayat 30 diterangkan: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman”.

Memasuki kehidupan sosial, air adalah pemersatu sekaligus bom konflik horizontal jika dalam penggunaannya terjadi penguasaan. Data menyebutkan sudah banyak mengenai hal ini. Majalah National Geographic Indonesia edisi khusus April 2010, dengan tema: Air, Dunia yang Dahaga, menurunkan liputan sejumlah wilayah di belahan dunia yang mengalami konflik karena persoalan air. Ada yang politis maupun proses perubahan iklim. Sungai Yordan, umpamanya, menjadi objek penguasaan atas air antara Israel, Palestina, Suriah, Lebanon, dan Yordania. Membaca konflik perebutan air itu, sungguh, nama sungai ini, Yordan, bertentangan dengan maknanya dalam Alkitab,  yakni ketenangan rohani.

Begitulah, jika air tidak dilihat sebagai wahana bersama menjalankan kehidupan di bumi. Padahal, air, jika sebab keberadaannya tidak dijaga dengan baik, maka air tentu akan habis. Lebih lanjut dijelaskan Vandhana Shiva, siklus hidrologis merupakan proses ekologis di mana air diterima oleh ekosistem dalam bentuk hujan atau salju. Jatuhnya uap air mengisi ulang mata air, resapan air, dan sumber air tanah. Ketersediaan air dalam suatu ekosistem tergantung pada iklim, fisiografi, vegetasi, dan geologi wilayah yang bersangkutan.

Peristiwa yang saya saksikan di Tompobulu dalam menjaga sumber air, adalah sebentuk perayaan terhadap ketersediaan air di wilayah mereka. Sejauh ini memang, belum ada peristiwa di desa  yang didiami 525 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sebanyak 1.842 jiwa berdasarkan data desa tahun 2010, mengalami bencana kekeringan sekalipun di musim kemarau panjang.

Proses pemagaran mata air

Manajemen pengelolaan sumber daya air dilakukan berdasarkan pengetahuan turun temurun dan terus berlangsung ke generasi selanjutnya. Menyangkut pembuatan kolam, misalnya, masyarakat hanya menggali permukaan tanah tidak begitu dalam, kolam itu pun dipetak tiga bagian. Petak pertama, ukurannya sekitar tiga kali empat meter, di tengah lebih luas berukuran delapan kali enam meter, sedangkan petak ketiga, ukurannya kembali lebih kecil. 

Warga bersama membangun pagar

Jadi, mata air yang mengalir mula-mula mengisi petak pertama, kemudian kedua dan ketiga. Petak pertama berfungsi sebagai penyaring alamiah  sebelum air merembes ke petak kedua di mana pipa yang mengalirkan air ke rumah warga dipasang. Petak terakhir, air mengalir terus sampai ke sungai kecil yang menjadi sumber irigasi area persawahan.

Tampak dua warga membawa kayu untuk tiang pancang pagar

Warga tetap bertahan dengan metode itu meski pernah ada bantuan dari pemerintah daerah berupa penggalian kolam lebih luas dan dalam yang dibangun menggunakan bahan semen. Harapannya, kolam itu menampung air lebih banyak. Sayang, di musim penghujan ketika curah hujan tinggi. Luapan air lebih besar hingga menjebol kolam itu. Heri, seorang warga yang sering mendampingi selama KKLP, menceritakan kalau proyek pembangunan kolam itu sempat ditentang oleh warga karena tahu posisinya yang rawan longsor, benar saja, kolam itu akhirnya tidak berguna setelah jebol.

Kolam jebol karena tak kuat menahan arus air di musim hujan

Selain peremajaan pagar yang dilakukan sekali dalam enam bulan. Setiap warga yang melakukan aktivitas di area mata  air atau pun sedang melintas kemudian mendapati banyak sampah berupa daun atau ranting pohon yang jatuh di kolam, maka wajib membersihkannya jika pada saat itu yang bersangkutan mampu melakukannya.

Sejauh pengamatan saya kala melakukan KKLP selama dua bulan, pasokan air mampu mencukupi kebutuhan warga. Penggunaan mesin pompa hanya digunakan oleh warga yang lokasi rumahnya lumayan jauh. Sedangkan di rumah Pak Syam dan beberapa tetangganya, daya air mengalir cukup kencang sehingga tidak membutuhkan mesin. 

Dalam satu kesempatan program penanaman pohon melibatkan warga, KPA, dan anak sekolah

Meski desa Tompobulu berada di ketinggian dengan kondisi hutan terjaga dengan baik, kegiatan menanam pohon sangat menggeliat. Usaha tersebut menggerakkan kelompok tani untuk menyiapkan bibit. Anak sekolah dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) yang berkunjung dilibatkan dalam gerakan penanaman pohon tersebut di sejumlah titik.

Warga paham kalau keberadaan pohon merupakan sumber penampungan air hujan yang baik. Melalui pohon itulah resapan air hujan ke tanah tertampung dan menjadi bank air kala musim kemarau. Sungguh sebuah usaha agar sumber air tetap dekat.

***
Pangkep, 1 Oktober 2015

Comments

  1. Ah jadi inget KKN tahun kemarin.
    Dan sekarang pun rumah saya, yg masih pakai air sumur, lagi krisis juga.

    ReplyDelete
  2. Arif, terima kasih sudah membaca,

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap