Skip to main content

Mereka Kembali Menuntaskan Dendam






Barangkali memang, manusia lahir diiringi dendam masing-masing. Dendam yang kelak membuatnya tetap tegar menjalani kehidupan walau berkali-kali telah dikalahkan atau bahkan dihancurkan. Sejarah punya data soal itu. Lihatlah bagaimana sebuah imperium dipertahankan dari generasi ke generasi.

Manusia punya cara mempertahankan sekaligus melegalkan dendam agar dapat diterima khalayak. Menjadi semacam jalan yang perlu dilalui untuk meraih pengakuan. Jalan itulah yang menjadi ruang pertarungan sekaligus pertaruhan. Di posisi itu, karena dendamlah manusia terus hidup. Mewariskan peta menuju jalan tanpa finis. Berputar terus menerus hingga usainya hidup.

Kita tidak diberi alamat menuju jalan pertarungan dendam itu. Sebab jika demikian, boleh jadi kita enggan menyiapkan bekal ke sana. Kita berjalan saja tanpa tahu telah sampai atau malah sudah bertarung tanpa disadari.

Waktu sudah lama berhenti dan lupa segala perisitiwa yang melingkupinya. Tiba-tiba saja kita merasa sudah bertemu lagi dengan orang-orang yang dahulu datang menghampiri dengan membawa sekeranjang senyum. Duh! Orang-orang tersebut sebenarnya sudah dilupakan. Persisnya, telah menghilang dari ingatan dalam kelipatan waktu lima tahun. Kini, ia muncul lagi di lorong menuju kediaman. Sebagian lebih dekat karena telah hadir menyambut kita di pintu rumah. Dari mana datangnya orang-orang ini. Sudahlah, berhenti bertanya soal itu. Tegasnya, kini mereka telah kembali mengajak kita bertarung menuntaskan dendam.

Orang-orang tersebutlah yang mengingatkan bagi orang-orang yang tidak sadar dengan dendam yang lahir bersamanya. Pada permukaannya, dendam memiliki sebutan lain. Perlu dimaklumi kalau penyebutan dendam amatlah mengganggu. Dibutuhkan terjemahan lebih halus agar orang-orang tidak berdiam diri di rumah dan apatis dengan situasi. Bisa celaka dan pupus impian bagi mereka yang menggelorakan dendam. Semakin ramai dendam tumbuh ke dalam kelompok-kelompok.  Itulah indikasi keberhasilan perayaan dendam.

Wujud arena penuntasan dendam itu masih dikemas dalam pemilihan kepala daerah sebagai sebutan paling halus yang dilegalkan.  Usianya belumlah seabad, tetapi telah menjadi pemantik rindu menuntaskan dendam. Di tahun 2015 kini merupakan tahun ketiga setelah ditetapkan di tahun 2005 silam.

Sebab apa sesungguhnya sehingga dendam ini perlu melibatkan banyak orang. Dan, mengapa pemilik rindu pemantik dendam masih yang itu-itu saja. Sebenarnya ada mundur karena sudah dijegal aturan. Ada pula yang emoh karena tahu diri bakal kembali kalah. Nah! Mereka yang kembali itu sesungguhnya perindu sejati dalam hal menyelesaikan dendam setuntas-tuntasnya.

Pemilihan kepala daerah telah menjadi kisah, kasih, dan kisruh. Ketiganya hadir bersamaan lalu mewujud satu-satu. Kadang pula muncul sendiri-sendiri kemudian tampil bersamaan. Apa pun  kehadirannya. Semuanya memupuk dendam terus tumbuh.

Serupa Fiksi

Realitas itu seperti fiksi atau sebaliknya. Pertanyaan klasik yang klise yang terus hadir. Ujungnya, berhenti sebagai pertanyaan saja tanpa perlu dijawab. Manusia terlampau lelah dengan urusan berputar di tempat yang sama.

Tetapi, manusia tetaplah manusia yang memiliki rindu menyelesaikan dendam atau melupakannya. Jika bukan yang bersangkutan maka majulah manusia  yang lain mencuri luka yang tidak diwariskan.

Fakta ini dari fiksi. Ajo Kawir, tokoh dalam novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Ia tidak menyangka kalau ada manusia yang bakal melakukan pembalasan dendam yang dulu ingin sekali ia tuntaskan. Adalah Ietung, perempuan jago berkelahi yang diperistri yang melakukannya.

Ajo Kawir sendiri dalam perjalanan hidupnya telah melupakan dendam itu. Ia berdamai dengan masa lalunya ketika di suatu malam ketangkap basah mengintip dua orang polisi memerkosa perempuan sinting. Karena dipaksa bersetubuh, penis Ajo Kawir mendadak tertidur yang membuatnya tak bisa melakukan persetubuhan normal bahkan dengan istrinya sendiri.

Sial bagi Ajo Kawir, ada paradoks dalam diri Ietung yang tak bisa dihentikannya. Setelah Ietung hamil akibat perbuatan lelaki lain. Ajo Kawir berlari menjumpai petak kehidupannya di situasi yang baru. Ia ingin melupakan segalanya. Peristiwa masa kecilnya dan juga Ietung.

Namun, begitulah dendam. Akan terus tumbuh sebelum dituntaskan walau bukan lagi dari sang pemilik dendam itu sendiri. Ia terwariskan meski tidak disetujui. Setelah Ietung keluar dari penjara karena membunuh lelaki yang membuntinginya. Ajo Kawir sudah kembali selaku manusia yang terlahir kembali. Ia ingin hidup bersama kembali dengan Ietung beserta anak yang dilahirkan istri yang tidak diceraikannya itu.

Lagi, paradoks yang tak bisa dihentikan. Ietung justru kembali membunuh polisi yang dulu memaksa  Ajo Kawir menyetubuhi Rona Merah, perempuan sinting yang diperkosa dua polisi itu. Selesai sudah dendam itu.

Sepertinya dendam memang tak bisa dihentikan dengan aturan. Etika pun terlampau abstrak dijadikan pengingat. Begitulah yang terjadi pada pertarungan orang-orang dalam pemilihan kepala daerah. Rindu merengkuh kekuasaan dilanjutkan oleh anak, saudara, besan, hingga kerabat yang merasa punya hak melanjutkan kekuasaan. Mereka mempertaruhkan dendam dengan petarung dendam yang lain yang dulu kalah dan berniat kembali dalam proses suksesi.

Situasi sosial politik pemilihan kepala daerah tentu memiliki konteksnya masing-masing. Tetapi, motifnya tetap sama. Menuntaskan dedam akibat kerinduan akan kekuasaan.

***
Pangkep-Maros-Makassar, 10 September 2015

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…