Skip to main content

Mahasiswa yang Tidak Pernah Tua






Di sisa sore sebelum azan magrib berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari kampus, beberapa mahasiswa berpeluh riah di tanah lapang menendang bola plastik. Di antara mereka, terdapat satu hingga tiga orang memiliki bakat pesepak bola andal jika berada di tempat seharusnya. Tetapi sudahlah, mereka kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Darud Da’wah wal Irsyad (STAI DDI) Pangkep, ditempuh guna melengkapi catatan takdir hidupnya. Begitulah nasib, jalan sunyi masing-masing. Petuah ini pernah diingatkan penyair Chairil Anwar. Dan, mereka menikmati semua.

Tanah lapang itu dulunya sawah. Persis, di lokasi yang sama. Di situlah gedung STAI DDI dibangun. Andai saja gedung perpustakaan tidak berada di tengah, tentu lengkap denah bangunan berbentuk huruf U. Mahasiswa yang kritis, menganggap pembangunan gedung itu tidaklah visioner. Lihatlah, kehadirannya sudah tidak dibutuhkan dalam hal apa pun selain bahan mengumbar humor. Pasalnya, jadwal kunjungan selalu sepi. Sudah bisa disebut banyak jika ada tiga mahasiswa membaca di sana.

Mahasiswa yang akan menggelar kegiatan atau mahasiswa pemilik imajinasi kalau setiap tanah kosong adalah ruang menyepak bola, untunglah tidak dibayangkan stadion. Selalu merasa terganggu dengan gedung yang satu itu. “Siapa yang bisa memindahkan perpustakaan ke sudut, berjejeran dengan gedung yang lain, bakal diganjar beasiswa dua semester. Guyon demikian beredar luas di kalangan mahasiswa.

Semakin petang hampir berlalu, semakin bersenang-senanglah para mahasiswa yang sepertinya tidak memiliki jadwal perjalanan pulang ke rumah, sebagaimana mereka seolah tidak memiliki agenda menuntaskan kuliah sebagaimana seharusnya. Empat tahun.

“Sudah, nak! Waktunya salat magrib,” seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka sebelum berlalu menunggangi sepeda motor Honda keluaran tahun 2007.

“Iya, ustaz!” Balas di antara mereka.

Begitulah mahasiswa menyebut ketua STAI DDI Pangkep, sapaan akrab ketimbang menyapanya “Pak”.

Permainan tidak sungguh terhenti. Di antara mereka tetap sibuk mengoper bola melanjutkan permainan yang sempat tertunda.

“Seandainya di kampus sudah ada masjid, ustaz! Kita tidak perlu berjalan keluar. Cukup di sini saja. Di dalam kampus.” Pio, mahasiswa paling senior di antara mereka yang mengucap kalimat pamungkas itu.

Mendengar sedang dikritik, ketua hanya membalasnya dengan senyum tanpa kedua bibirnya berjauhan. Senyum itu sungguh khas. Alam, mahasiswa yang dikenal pandai meniru gestur ketua, sering memeragakannya guna memantik tawa.

Ketua segera berlalu. Seiring terdengar suara mengaji dari masjid selaku tanda kalau azan magrib akan menggantikan setelahnya. Di petak jalan tanah menghubungkan ke jalur poros, deru ban sepeda motor ketua menerbangkan debu. Bola kembali menggelinding dari kaki ke kaki.

“Goool!!!” Pekik Tokek, mahasiswa yang tergabung di lembaga Mahasiswa DDI Pecinta Alam (Mahaddipala). Di lembaga ini, semua anggota yang dinyatakan lulus, akan memeroleh nama hewan. Termasuk Zulkarnain yang disematkan binatang melata itu. Tokek dikenal selaku mahasiswa oportunis. Tidak banyak cakap. Selalu patuh terhadap senior. Tetapi, di belakang, ia sering sesumbar.

Gol yang diciptakannya bukanlah hasil usaha merebut bola atau sedang membangun gerak umpan dengan satu pemain. Melainkan bola liar mendatanginya. Sedari tadi, ia hanya berdiri di depan dua tiang kecil tertancap di tanah seluas satu langkah yang dijadikan gawang. Jelaslah, hanya sekali sentuhan, bola itu melewati sela dua tiang itu. Berlari dan berteriaklah dia layaknya Filippo Inzaghi di AC Milan merayakan gol.

Permainan baru selesai kalau satu hingga tiga orang di antara mereka berhenti. Setelahnya, di depan ruang sekretariat mereka melepas lelah. Membicarakan apa saja yang melintas di benak. Sedikit beruntung kalau ada yang memiliki sebungkus rokok. Atau, di saat bersamaan, hadir senior membawa kebahagiaan. Meneraktir mereka makan malam di warung Hala. Lengkaplah kehidupan di hari itu.

Tepatnya, di magrib itu, suara imam dari masjid sudah terdengar membaca surah Alfatiha. Keringat masih membasahi tubuh mereka. Dan, hembus angin kemarau membuat mereka betah duduk di rumput yang semakin tumbuh lebat. Bukan hanya rumput, area kampus ditumbuhi semak ilalang. Usaha dari Mahaddipala, sudah menanam puluhan mahoni. Berharap pohon itu tumbuh merindangi kampus yang gersang. Nyatanya, pohon itu sulit berkembang. Konon, tanah timbunan yang digunakan merupakan tanah hitam. Itulah musabab mengapa pohon tetap sebagaimana semula. Tetap kerdil dan perlahan mati.

Suara imam di masjid sudah membaca Alfatiha kedua. Namun, mereka ogah beranjak. Keringat mulai hilang di tubuh. Tokek sudah berlalu ke sumur membanjur tubuhnya. Ia tahu, jika tidak sigap mengamankan kasur lusuh di sekretariat. Maka, ia harus ikhlas berbaring di karpet plastik hingga pagi. Sebelumnya, hanya Syam yang bersegera mendirikan salat magrib sendirian di sudut ruang sekretariat. Sisanya: Adi, Agus, Yuhar, Pardi, Safar, dan Pio. Bertahan menikmati semilir angin.

Begitulah, entah siapa yang mulai melontarkan ide untuk membuat kegiatan. Gagasannya tidaklah baru. Namun, jika terwujud, menjadi pertama di kampus. Mereka tidak main-main. Hendak membuat perkampungan di puncak musim kemarau. Wuis! Kesepakatan langsung dideklarasikan saat itu juga. Melibatkan dua lembaga kampus sekaligus. BEM dan Mahaddipala.

Esoknya, proposal dikerjakan di rumahnya Dato, wakil ketua BEM. Menggunakan fasilitas sekretariat jelas tidak mungkin. Komputer di sana hanya bisa digunakan memutar tembang. Selebihnya, jika memaksakan diri menggunakan program yang lain. Sama halnya membuang waktu. Karena komputer lembaga, semua orang bebas menjamahnya. Mencolok flashdisk untuk mengambil atau memindahkan data sesuka perut. Peduli setan dengan virus yang ikut berpindah lalu membangun dinasti. Jadilah komputer itu tak berdaya.

***
Dato tidak hadir di malam deklarasi. Sore harinya, ia sempat ikut menendang bola dan pulang lebih awal. Rumahnya memang dekat dengan kampus. Persisnya, di samping masjid. Ketika Yuhar datang membawa agenda. Dato duduk rapi saja di depan komputer mendengar ocehannya.

Seolah sudah dijadwal. Pio, Adi, dan Tokek datang bersamaan. Ketiganya memang berada di kendaraan yang sama. Sepeda motor Honda butut milik Pio. Di setiap kesempatan, Pio selalu menyebutnya sebagai kendaraan operasional. Sejarahnya bermula sejak motor itu menemaninya di semester tiga.

“Sebaiknya, hari ini juga proposal dijalankan. Saya siap memulainya dari dosen ke dosen. Saya yakin akan memperoleh dana awal.” Yuhar membuka obrolan.

“Tidak ada kertas!” Suara Dato jelas.

Tanpa dikamando. Yuhar, Adi, dan Pio bersamaan menatap ke Tokek.

Takdir sudah ditetapkan. Hanya Si Tokek yang mampu mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Mereka tentu mengingatnya. Pernah di suatu malam, Mahaddipala kedatangan tamu tiba-tiba. Rombongan mahasiswa pecinta alam dari kampus UIN Makassar. Jumlahnya tidak banyak, hanya tujuh orang, tetapi sebagai tamu, layaklah disambut sebaik-baiknya. Sebenarnya, sesama mahasiswa yang memiliki pengalaman sama tinggal di sekretariat. Mahasiswa UIN sudah paham dengan situasi.

Dasar Tokek, anggota baru yang belum menahun mendekam di sekretariat. Tidak ada juga perintah dari seniornya. Sekonyong-konyong berlalu begitu saja ketika tamu baru saja dipersilakan masuk. Tidak yang menggubris. Adi sempat melirik agar Tokek segera membuat kopi sebagai satu-satunya hidangan yang dapat disajikan. Tanpa suara Tokek berlalu. Tidak sempat lagi menahan, Adi memalingkan perhatian dan berusaha ramah dengan tamu. Di malam itu pula, ketua dan dosen sedang berkumpul. Hanya dipisahkan dua petak ruangan. Mereka sedang rapat membahas penyambutan tamu dari pusat esok hari. Petugas asesor dari BANPT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi). Tak berselang lama, Tokek muncul kembali dengan kantong kresek berisi sepuluh nasi bungkus. “Kami hanya bisa menyiapkan ala kadarnya,” ucapnya sembari tersenyum.

Obrolan mereka sempat terhenti. Agus yang sedang menyiapkan kopi, melempar senyum. Hal yang sama dilakukan Pardi. Safar berdiri menyambut sambil memukul-mukul pundak Tokek. Yuhar kemudian menerima kantong itu dan membagikannya. Tinggallah Adi dan Pio saling menatap.

Sejak itulah, Tokek disepakati malaikat penyelemat. Dan, hari itu. Sungguh, atas nama Kampung Kreatifitas Pelajar Se Kabupaten Pangkep, sebagai nama kegiatan yang telah disepakati. Jasa Tokek kembali dibutuhkan. Entah bagaimana caranya, Adi, Yuhar, Pio, dan Dato mengharapkan dalam waktu yang tidak lama sudah harus ada kertas.

Seperti biasa, Tokek berlalu tanpa kata.

“Rencananya bagaimana, apakah semua SMA diundang!” Yuhar memulai obrolan begitu Tokek membunyikan sepeda motor.

“Tentu! Undang saja semua,” Pio membalas.

“Bagaimana kalau ada yang tidak hadir, senior!” Adi menanggapi

“Sudah bukan urusan kita lagi!”

“Tetapi, begini senior! Kita perlu pertimbangkan akomodasi. Maksud saya, kita rilis saja sekolah yang berpotensi ikut mendaftar.”

“Dengan cara apa menentukan. Apakah kau punya data atau telah melakukan penelitian tentang SMA di Pangkep yang doyan ikut lomba!”

“Heheheheh. Sederhana sekali, senior! Kita undang saja sekolah negeri. Beres,kan!”

“Itu tidak adil. Kita ini mahasiswa yang perlu memberi ruang seluas-luasnya pada semua sekolah. Ingat! Di kegiatan ini tidak ada kelas.”

“Saya sangsi, senior. Kalau semua SMA diundang. Itu sama saja buang-buang waktu dan dana. Cukup kita tetapkan saja sekolah, jika ada lima atau tujuh yang mendaftar. Itu sudah lumayan hebat! Lagi pula, senior. Di undangan tidak disebutkan jumlah hadiah.”

“Jangan pikirkan hadiah dulu. Kegiatan ini lebih dari lomba. Ini sosialisasi terselubung. Kita perlu sebar informasi kalau di Pangkep ini ada kampus yang namanya STAI DDI Pangkep. Itu intinya.”

“Jika demikian, kita perlu sampaikan ke pihak kampus. Siapa tahu saja dibantu dana yang lumayan.”

“Hahahahaha. Kau ini bagaimana! Memangnya dosen rutin menerima gaji setiap bulan. Memangnya mahasiswa rajin membayar iuran semester. Kau saja! Hingga sekarang belum bayar apa pun! Lantas dana apa yang kau harap.”

Dato dan Yuhar hanya diam mendengar perbincangan Pio dan Adi. Keduanya selalu begitu. Dato tahu diri, tak cakap beretorika. Namun, memiliki kemampuan mengoperasikan komputer. Setidaknya jauh lebih baik dibanding mereka. Yuhar yang berasal dari pulau, sepertinya belum bisa membebaskan dirinya dari belengu minder. Setelah memulai perbincangan, ia diam saja. Tetapi, ia pekerja lincah. Tak pernah menolak jika dipinta mengantar proposal ke instansi. Tokek pernah melempar guyonan kalau wajah Yuhar memang pas. Orang yang tadinya marah mendadak iba jika melihat parasnya.

Tidak ada kesepakatan. Baik Adi dan Pio. Keduanya memilih diam. Kamal, mahasiswa seangkatan Pio yang telah selesai. Namun, masih sering bertandang ke kampus. Mengusulkan agar fokus saja dahulu pada pengadaan proposal. Jika dana sudah ada, bisa diagendakan rapat. Kalau saja Kamal tidak muncul, perbincangan Pio dan Adi bakal panjang sebagaimana yang sudah-sudah. Disaat itu, Dato sedang mengatur desain proposal.

Suara sepeda motor sudah terdengar. Harapan mereka, Tokek datang dengan kertas. Tuhan memberkati. Anak itu tidak hanya memecah kebekuan. Ia kembali menegaskan kalau dirinya memang layak dinamai malaikat penyelamat.

“Dapat dari mana?” Yuhar bertanya.

“Tidak usah banyak tanya, anak pulau. Ini rahasia perusahaan!”

“Kau bilang apa pada Irma, ha!” Adi menyambung.

“Kau mencuri kertas itu di ruangannya Ibu Irma!” Kata Kamal.

“Hehehehehe. Tenang saja, bendahara telah saya hipnotis dengan cerita penemuan kuburan lelaki tampan yang hidup kembali. Jika ketahuan. Saya pastikan nama kalian tidak terseret.”

“Kalaupun ketahuan, saya sudah siap.” Pio menimpali.

“Lalu, bagaimana dengan nasi bungkus itu, senior!”

Semuanya tertawa. Peristiwa nasi bungkus di malam itu sudah menjadi bahan humor. Walau, Tokek telah meneteskan setitik nila di ember berisi susu. Karena, ketua STAI DDI Pangkep sempat mengeluarkan surat edaran larangan bagi semua mahasiswa menginap di kampus.

***
Lima tahun sudah sejak mereka mewujudkan kegiatan kampung kreatifitas pelajar tingkat SMA. Di antara mereka ada yang sudah selesai dan berkeluarga. Sisanya tinggal merampungkan tugas akhir, skripsi. Dan tentunya, melunasi pembayaran yang sengaja ditunda.

Bagaimana pun. Mereka, para mahasiswa kere akan diingat di tahun-tahun mendatang selaku pelaku sejarah. Nama mereka, mungkin, akan diceritakan kembali oleh mahasiswa setelahnya layaknya dongeng. Bahwa, di kampus ini pernah ada mahasiswa yang lebih mementingkan kegiatan ketimbang duduk manis di ruang kuliah. Merekalah para legenda di angkatannya masing-masing.

Kegiatan yang lahir dari kelelahan bermain bola itu sempat dilanjutkan oleh mahasiswa berikutnya hingga dua kali pelaksanaan. Setelahnya, barulah terjadi kevakuman. Tentu saja, dua edisi berikutnya tidak lagi diramaikan oleh semua perancang pertama. Tuntutan hidup menyeleksi mereka untuk menetapkan pilihan. Membusuk di kampus atau keluar meski belum sarjana. Adi, Tokek, Agus, Safar, Pardi, Syam, Dato, Yuhar, dan senior mereka, Pio. Malah lebih dahulu menikah ketimbang menghabiskan waktu menulis skripsi. Kampus memang tidak benar-benar sepi. Tetapi, tanpa kehadiran mereka. Ah! Sudahlah, sepertinya ada kesedihan jika harus menjabarkannya.

***
STAI DDI Pangkep baru seminggu telah menggelar acara wisuda. Karena jumlah mahasiswa tiap angkatan tidak lebih dari 30 orang. Wisuda itu dirapel dengan tiga angkatan. Terkecuali Pardi, Safar, dan Syam. Hanya Adi, Tokek, Yuhar, Agus, dan Dato yang tidak ikut serta. Sedangkan Pio sudah didesak oleh salah satu dosen untuk segera selesai setahun sebelumnya.

Seolah belum ada yang selesai. Adi, Yuhar, Agus, dan Dato kembali memproklamirkan untuk menggelar kegiatan yang pernah mereka rancang lima tahun lalu itu. Mereka kembali dari perantauan masing-masing. Di sisa sore, sama dengan lima tahun sebelumnya. Mereka berkumpul di sekretariat. Bedanya. Kini, mereka telah ditemani pasangan hidup. Istri dan anak. Satu-satunya alasan pihak kampus menerima mereka. Karena masih menyandang status mahasiswa. Sebenarnya. Jika ingin lebih jujur. Mereka masih punya tunggakan pembayaran yang perlu dilunasi.

Begitulah. Mereka berencana mengulang pengalaman lama. Mendekam di sekretariat.

Kira-kira. Setelah seminggu kembali aktif. Mendiskusikan kemungkinan mewujudkan kegiatan kampung kreatifitas yang, bagi mereka telah dicampakkan begitu saja oleh mahasiswa baru. Persoalan klise kembali muncul. Rupanya, mereka tidak benar-benar siap. Mereka sadar, kalau Tokek masihlah mahasiswa. Statusnya persis sama dengan mereka. Tegasnya. Tokek dirindukan. Berharap ulangan kebersamaan lima tahun silam menjadi sempurna.

Adi telah menghungi Tokek. Katanya, Tokek akan datang dua atau tiga hari kemudian. Ia berjanji akan membawa serta istri dan anaknya.

Hari yang dijanjikan jatuh pada hari Sabtu. Lagi. Di sisa sore mereka kembali berjumpa. Tokek tidak lagi berambut panjang sebahu. Tubuhnya sedikit berisi. Parasnya sungguh bersih. Jika diperhatikan seksama. Penampilannya kurang lebih mirip dengan Bucek Dep. Kali ini ia menepati janji. Istri dan anaknya turut serta. Sebelumnya, Adi sangsi dengan semua itu.

Azan magrib menunda reuni kecil mereka. Ketua STAI dan beberapa dosen yang kini bermukim di area kampus karena sudah ada lokasi perumahan. Sudah nampak di depan masjid. Kini, di kampus pun sudah berdiri rumah ibadah. Hal yang selalu menjadi alasan mahasiswa yang tinggal di sekretariat untuk menolak ajakan ketua agar salat di masjid di luar area kampus. Sekarang. Apa lagi alasan mereka. Di luar dugaan, Tokek pamit ingin salat berjamaah. Adi dan Agus tertawa mendengar penuturannya. Usai salat, Tokek kembali ke sekretariat melanjutkan kangen yang tertunda. Di saat itulah Adi dan Yuhar menyampaikan maksud mengajaknya kembali ke kampus.

“Mahasiswa sekarang tidak kreatif, justru ketika fasilitas sudah memadai.” Adi memulai.

“Padahal sekarang jumlah toilet sudah tiga. Ingatlah dulu saat kegiatan kampung kreatifitas. Kita sedih melihat peserta antre menggunakan toilet.” Yuhar menambahkan.

“Intinya, sekarang kita ingin menggelar kegiatan serupa. Tetapi tidak ada kertas untuk mencetak proposal.” Dato menyambung yang disambut tawa oleh semua.

“Aduh, kawan! Kalian rupanya belum tobat juga.” Balas Tokek sambil mengisap dalam rokoknya.

“Kita senang mengulang dosa yang membahagiakan, kawan!” Agus menanggapi.

“Bagaimana, kawan! Bersediakah kau terlibat sekali lagi!” Kata Adi.

“Dasar! Kalian ini mahasiswa yang tidak pernah merasa tua. Sudahlah, kawan! Kita sudah berbuat sebangga-bangganya. Sehormat-hormatnya.” Balas Tokek.

“Kau ini diundang ke sini bukan untuk mengulang-ulang tulisan Pramoedya Ananta Toer. Kau ini mau terlibat atau tidak. Itu saja, kawan!” Tegas Adi.

“Saya tidak tahu, kawan!” Ucap Tokek melirik istrinya di sudut sekretariat yang berusaha menenangkan anaknya yang menangis karena meminta pulang.

***
Pangkep-Makassar, 8 April 2015

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap