Skip to main content

Ruang Pertaruhan dan Doraemon







24 November 2011, tulisan pertama saya dimuat di rubrik opini Tribun Timur. Di tahun itu rubrik ini masih menayangkan sejudul saja. Jadi, daftar antre dapat dibayangkan sungguh padat. Belum lagi jika ulasan sudah ketinggalan momentum, hilanglah ulasan di benak redaksi.

Saya menyadarinya, dan perlu membuat ulasan terbaru. Mengejar batas deadline yang kubuat sendiri sebelum mengirimkannya ke email redaksi. Informasi seorang kawan yang bergelut di media cetak, menyampaikan agar tulisan sudah benar-benar fiks, utamanya di paragraf pertama. Sebab itulah dasar utama redaktur menetapkannya sebagai pilihan di antara banyak tulisan.

Saya mengamini dan menerapkannya. Hasilnya, ada yang dimuat, ada pula ditolak. Bahkan, ada kalanya satu ulasan saya kirim hingga tiga kali. Di situasi demikian, besar kemungkinan terdapat ulasan serupa dari penulis ternama. Namun, di sepanjang pengalaman sejak tahun 2011, redaktur opini Tribun Timur membaca gejala geliat penulis pemula.

Setelah menerapkan penayangan dua judul di rubrik opini ditambaH kolom Persfektif. Saya kira, itulah jawaban atas padatnya kiriman ulasan diterima redaktur. Wujudnya, penulis ternama dapat bersanding dengan pemula.

Selaku media cetak yang masih berusia belia, sebelas tahun, menghibahkan ruang yang bisa diisi iklan guna menunjang pertumbuhan, sungguhlah pertaruhan. Meski hanya sehalaman, ruang itu dapat menghasilkan rupiah jika saja manajemen Tribun Timur menolak menghiasinya catatan yang justru perlu dibayar.

Membaca Zaman

Diakui, di warkop atau di outlet koran, pengunjung antre membaca Tribun Timur. Tegasnya, koran ini menjadi bacaan pertama mencecap informasi.

Di tengah gempuran media online yang membentuk kelas pembaca, Tribun Timur juga hadir di sana melengkapi kebutuhan ragam informasi. Edisi cetak pun dapat diakses gratis selepas pukul satu siang. Lagi, sebuah pertaruhan. Celah ini bisa saja menjadi titik bagi pembaca menolak membeli edisi cetak. Namun nampaknya, Tribun Timur memang menghibahkan.

Ulasan berita berbasis internet kemudian dilengkapi dengan tampilan News Video (video on demand), bagi mereka yang hendak melanjutkan jalinan informasi melalui gambar bergerak, dipersilakan mengunjungi link tersedia. Kehadiran format ini memberikan situasi berbeda bagi pembaca yang tak cukup dengan teks.

Situasi zaman yang ditandai ramainya perangkat elektronik, merupakan fase yang terus berkembang. Sepakat atau menolak, realitasnya telah terwujud. Umat manusia bergulat di dalamnya. Informasi hadir tanpa jeda. Kelompok media menolak absen, di lintasan media sosial pun, akun personal bertautan dengan akun penyampai warta.

Fanfage Facebook Tribun Timur Berita Online Makassar, umpamanya, berjubel status yang terposting, akun ini hadir mengkuti irama. Memberikan alternatif informasi yang tak dimuat edisi cetak. Atau menjawab fenomena peristiwa secepat mungkin. Bagaimanapun, manusia butuh warta valid. Serupa Nobita yang selalu bergegas butuh media atas masalah yang dihadapi. Dan, Doraemon segera menjawabnya.

Begitulah, peristiwa letusan menggelegar di waktu lalu yang menggemparkan warga Makassar memunculkan ragam spekulasi asumsi. Di antaranya, menganggap kalau hal tersebut letusan gunung Lompobattang. Atau mati lampu serentak di hampir wilayah Sulawesi Selatan yang melahirkan kekacauan informasi.

Pada siapa masyarakat bertanya perihal penjelasan rasional atas peristiwa yang tiba-tiba itu? Pilihannya tentu menengok lalu lintas di dunia maya. Sebab, layanan itulah yang paling mudah dijangkau. Layaknya Doraemon, serial komik gubahan Fujiko F Fujio, layanan online Tribun Timur menampilkan penjelasan akurat dalam enjawab kekisruhan kesimpulan yang sulit dinalar.

Jajak pendapat Litbang Kompas pada 4-6 Februari, hasilnya tayang edisi 9 Februari. Mengurai respons masyarakat menyangkut rujukan infromasi. Media cetak menempati urutan kedua setelah televisi sebagai sumber informasi.

Sedangkan di sisi kriteria penyajian informasi sebenarnya, mendidik, dan menjaga kerukunan. Tanggapan publik memandang media cetak relatif memenuhi tingkat kepercayaan, memberikan edukasi, dan penyajian berimbang terkait situasi sosial guna menjaga ketentraman kehidupan warga.

Sejak mula masyarakat umum diberi akses mengabarkan hal di lingkungan mereka. Citizen Journanlism adalah ruangnya, ruang ini juga dapat dibaca pertaruhan, porsinya lumayan luas dan menjadikan Tribun Timur koran pertama menerapkannya di Sulawesi Selatan. Hal inilah yang menjadikan Tribun Timur dilirik para netizen. Saban hari dimuat ragam informasi hasil ulasan warga, dengan demikian Tribun Timur mendorong warga aktif mengabarkan situasi yang dialami.

Begitulah saya kira, di usianya menginjak sebelas tahun. Tribun Timur membaca dan menjawab situasi zaman. Setia memberikan ruang para pembacanya, layaknya Doraemon menjawab kegelisahan Nobita.

*** 
Pangkep-Maros-Makassar, 9 Februari 2015

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap