Skip to main content

Luka Air dan Kenangan pada Lubang




Di tapak waktu tahun 1994, usia sepuluh tahun sudah cukup menyimpan ingatan kenangan. Di musim kemarau. Ketika tanah retak. Sumur mengering. Setiap rumah tangga akan melakoni perjalanan menuju sumur komunal berjarak sekitar setengah kilo dari rumah saya dan lebih dari 2 km bagi sebagian orang.

Di sana, terbangun kebersamaan sekaligus memantik luka sosial. Bagaimana tidak, lubang cuma satu dengan debit air tanah yang payah. Perlu menunggu berjam-jam baru bisa antre menimbah.

Di titik itu, air adalah berlian. Menjadi penyembuh dan pencipta luka. Ada penantian panjang juga aktivitas melebihi membajak sawah demi memperoleh air se ember menyembuhkan luka dahaga. Kemarau kadang bertahan hingga tujuh bulan, dimulai Juni hingga akhir November. Di sepanjang itu, mengantre di sumur komunal menjadi aktivitas bersama. Semua anggota keluarga yang sudah bisa menjinjing wajib dalam perayaan.

Bagi saya, saat itu bukanlah derita. Memahaminya sebagai perputaran waktu saja. Sebab, siklusnya terulang kembali hingga saya menginjak SMP.

Dua puluh tahun setelahnya. Perlahan muncul tanya menuntut jawab. Mengapa ada desa yang didindingi pegunungan kekurangan pasokan air di musim kemarau. Kukira, pengalaman ini hanya dialami generasi saya. Namun, keterangan dari cerita orang-orang yang terpaut usia 20 tahun, juga mengalaminya di masa mereka kecil. Di dekade 70-an. Tetua di kampung menerjemahkannya sebagai proses alamiah. Bumi sudah tua dan kekurangan air. Tegasnya, merupakan takdir.

Enam belas tahun sebelum saya lahir, berjarak dua desa dari kampung saya, perusahaan semen pertama di Sulawesi Selatan juga di kawasan Indonesia bagian timur mulai beroperasi di tahun 1968. Menempati lokasi bernama Tonasa di kecamatan Balocci kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep)

Tidak ada yang tidak membutuhkan air. Dalam prosesnya, pembuatan semen pun memerlukannya. Air menjadi wajib bagi industri dan rumah tangga. Dari keduanya, tentulah terjadi penggunaan sesuai kadar yang diperlukan. Jelas, perbandingannya jauhlah berbeda. Menghidupi industri sebesar perusahaan semen tidaklah cukup se ember layaknya orang-orang di kampung menganggapnya penemuan paling hebat di musim kemarau.

Sebab sumur berupa galian, air yang didamba muncul dari dasar yang merupakan rembesan air hujan yang mengendap di tanah, bebatuan, serta tumbuhan melalui akarnya juga menjadi bank air tanah. Ketika pasokan air dari atas berkurang. Endapan air itulah mulai keluar dari penampungan.

Jika tidak ada penggunaan berlebih. Ukurannya berdasar kebutuhan rumah tangga yang kira-kira memerlukan pasokan air 200 hingga 300 liter perharinya. Maka, kebutuhan domestik sangat dimungkinkan tercukupi.

Letak desa saya, berada di sisi barat pabrik semen, berjarak sekitar sepuluh kilometer yang kini sudah tidak beroperasi lagi. Dan, jika orang-orang di kampung telah mengalami kekurangan air di musim kemarau medio 1970-an, di mana pabrik semen beroperasi di tahun 1968. Dugaan saya, pertempuran (dominasi) perebutan air tanah memang terjadi. Keberadaan pabrik di sisi timur memotong rembesan air tanah ke barat. Kira-kira begitu logika sederhananya.

Berkurang hingga menghilangnya resapan air tanah di sebagian besar sumur warga, tak pelak lagi dipengaruhi dominasi penggunaan air. Praktis, sumur komunal berkedalaman melebihi rata-rata yang dipunyai warga, disebabkan juga lokasinya tak jauh dari sungai yang airnya kadang mengering di puncak kemarau, menjadi satu-satunya lubang pertolongan.

Mengimpikan resolusi hijau di masa sekarang dan mendatang, ketersediaan pasokan air menjadi tumpuan. Jangan membayangkan tumbuhnya benih atau menjulangnya pohon-pohon jika akar tidak dibasahi air. Kehidupan warga pun demikian. Menuju kerontang tak bertepi.

Menegaskan misi untuk melestarikan daratan dan perairan yang menjadi sandaran bagi semua kehidupan. Tepat sekali, tidak ada kehidupan tanpa air. Air menjadi titik peradaban sekaligus konflik jika tidak dipandang sebagai wahana kehidupan bersama.

Sungai Yordan, misalnya, menjadi rebutan empat wilayah. Lebanon, Israel, Suriah, dan Yordania. Di hilir bagian barat, kaum Kristiani meyakini Yesus dibaptis di situ. Melalui perusahaan air Mekorot milik Israel, menjadikan air sungai Yordan sebagai sumber dasar menyuplai kebutuhan warganya. Di sisi lain, beberapa wilayah di Lebanon, Suriah, dan Yordania tidak memiliki akses. (National Geographic, Edisi Khusus Air, April 2010)

Kasus tersebut hanyalah bagian kecil konflik perebutan air yang melahirkan kesenjangan. Di belahan bumi yang lain, kasus serupa juga terjadi. Tengoklah di India atau sebagian besar negara di benua Afrika. Hal yang terjadi di kampung saya, tentu saja merupakan fenomena yang terwujud karena adanya dominasi.

Apa yang terjadi setelahnya, adanya korporasi penguasaan air walau itu milik pemerintah, tetap saja menjadi pengamputasi akses bagi masyarakat memperoleh air bersih secara cuma-cuma melalui lubang resapan disebut sumur. Di kemudian hari, menjalarnya pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) seolah menjadi malaikat penyelamat.

Kehadirannya kontan menjawab kekurangan pasokan air di musim kemarau. Di satu sisi, memudahkan warga, namun ada kebudayaan komunal menyangkut air yang hilang. Sebab, antar warga bertetangga tak lagi berbagi air gratis, melainkan melalui perantara uang. Itulah yang dialami bagi mereka yang tak kuasa membayar pipa PDAM terpasang di rumahnya.

Sebenarnya, jalan memastikan pasokan air tetap mencukupi bisa ditempuh dengan menjamin tata kelola ekosistem di lingkungan warga. Sungguhlah naif bila di sebuah desa yang masih memiliki kawasan hutan dan limpahan karst terbesar kedua di dunia setelah China kehabisan pasokan air tanah.

Beberapa desa di kabupaten Pangkep dan Maros yang masuk wilayah taman nasional Bantimurung, menjumpai realitas demikian saban tahun. Di kedua kabupaten ini memang beroperasi perusahaan semen, PT Semen Tonasa di Pangkep dan Semen Bosowa di Maros.

Berpindahnya operasi pabrik di desa yang lain. Dampak ekologis yang dialami di desa bersangkutan mengulang fenomena serupa yang pernah dialami desa saya. Bagaiamana pun, rusaknya ekosistem jelas menganggu ketersediaan pasokan air.

Berkurangnya air menjadi luka semua jenis makhluk hidup. Tantangan inilah saya kira, perlu memperoleh perhatian guna memastikan warga yang bermukim di tanah kelahirannya bertahun-tahun dan sekejap mata menerima takdir getir. Industri menjadi primadona ekonomi sekaligus pencetus luka.

Air bukanlah sumber daya alam yang tak habis, jika dieksploitasi dan sumbernya dihancurkan, akan melahirkan kelangkaan. Harapan warga tentu mendamba pasokan air melalui lubang kehidupan yang digali di belakang atau di depang rumah. Ketersediaan airnya hanya bisa dipastikan jika sistem ekologis tumbuh sebagaimana layaknya.

Sehatnya ekologis di lingkungan warga tidak hanya menjamin sumur menjadi lubang penyimpanan air. Lebih dari itu, ada tradisi berkumpul, berdialog, dan mensyukuri anugerah alam yang sesungguhnya terbatas. Namun, bila sistem ekologis rusak, air akan memantik luka dan warga hanya mengingat sumur sebagai lubang kenangan.

***
Pangkep, 21 Januari 2015
Catatan terkait: Endapan Luka Air

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…