Skip to main content

Kiper Diserang Elegi dan Eulogi


Sepak bola adalah permainan tim, tentulah dipahami. Sepak bola merupakan duel memenangkan pertandingan, memang begitulah esensinya. Sepak bola menunjukkan kejayaan, itulah hal yang hendak dicapai. Kira-kira, gambaran inilah yang membuat kita membangun asumsi menyangkut olahraga paling masyhur di dunia.

Jika dikatakan sempit. Boleh-boleh saja, dan itu bukan masalah. Sebab geliat sepak bola di era kini, saya kira hal semacam itulah yang dihadapi. Membuat kita begadang demi menyaksikan tim idola bertarung sambil memasang perisai hingga topeng sekalipun walau tim andalan babak belur jauh sebelum wasit meniup sempritan tanda pertandingan telah usai.

Di perhelatan liga di Eropa, sepak bola menjadi ruang pamer para pemilik klub. Bukti eksistensial oleh pemain dan pelatih, dan terkadang berubah wujud individual. Adalah perhelatan awarding oleh ibu sepak bola dunia, FIFA, yang membangun podium bagi insan yang berjibaku di lapangan. Tentu tak semua pemain dan pelatih berhak berpidato di sana. Hanya mereka yang telah membangun monumen di kepala kita yang berhak mengantongi satu tiket untuk kemudian disahkan suara terbanyak.

Tersebutlah nomine pemain, pelatih, dan gol terbaik sejagad. Adanya kategori gol adalah hinaan bagi kiper. Memangnya siapa yang mau gawangnya kebobolan, tetapi begitulah kita mengingat beberapa adegan penyerang ataupun gelandang meruntuhkan kekuasaan seseorang yang berdiri di bawah mistar. Ronaldinho melakukannya di perempat final piala dunia tahun 2002 di Korea-Japan. Tendangan bebasnya seolah mengatakan kalau David Seaman bukanlah lelaki maco berambut gondrong.

Ajang yang dimulai tahun 1991 ini, telah mencatat 14 nama dari 22 kali perhelatan: Lothar Matthaus, Marco van Basten, Roberto Baggio, Romario, George Weah, Ronaldo (1996, 1997, 2002), Zinedine Zidane (1998, 2000, 2003), Rivaldo, Luis Figo, Ronaldinho (2004, 2005), Fabio Cannavaro, Kaka, Cristiano Ronaldo (2008, 2013), dan Lionel Messi (2009, 2010, 2011, 2012).

Jika diperjelas posisi pemain, ada 9 gelandang, 4 penyerang, dan seorang bek. Saya memasukkan Rivaldo, Cristiano Ronaldo, serta Lionel Messi selaku gelandang, karena posisi dasar ketiga pemain ini memanglah demikian. Naluri gol yang tinggilah yang membuat mereka lebih mentereng ketimbang penyerang itu sendiri.

Lantas! Di mana nama seorang kiper di ajang itu. Tidak ada. Kiper bukanlah posisi ideal, berdiri dengan mata awas di bawah mistar hanyalah pemandangan ganjil, serupa penyabung menyaksikan ayamnya bertarung.

Ingat-ingatlah bila kita dahulu bermain bola di kampung, semua anak berlomba mengambil peran di lapangan. Giliran hendak memulai permainan, sejenak baru sadar kalau penjaga gawang tidak ada. Terjadilah tunjuk menunjuk yang ujungnya jatuh pada anak berusia lebih muda di antara kerumunan. Sebenarnya bukan pilihan, sebab menyibukkan diri berdebat dengan anak yang lebih tua  bisa berakhir fatal. Tidak diikutkan dalam permainan. Begitulah keberadaan kiper, menjadi pilihan terpaksa.

Jonathan Wilson, kolumnis sepak bola, dalam buku The Outsider: A History of the Goalkeeper menerangkan pandangan orang-orang di zaman Victoria dekade 1800. Kiper dicap kambing hitam, biang segala bencana, dan disalahkan bila kebobolan yang berujung kekalahan. Posisi ini memang kadang diisi oleh mereka yang tidak cakap dalam bermain. Kemudian dilupakan bila tim memenangkan pertandingan. Karena yang disanjung adalah mereka yang mencetak gol.

Sepak bola modern, tentulah tidak separah itu. Di pusat pelatihan, kiper memiliki porsi latihan lebih. Atas dasar benteng terakhir, dituntut untuk melakukan penyelamatan. Bila perlu membangun tembok di depan gawang.

Hasilnya, Si pelontos, Fabian Barthez melumpuhkan kegarangan Rivaldo di final piala dunia di negerinya, Perancis di tahun 1998. Selanjutnya Gianluigi Buffon menepis sundulan mematikan Zidane di final piala dunia 2006 di Jerman. Ada juga Iker Casillas, memaksa Belanda di Afrika Selatan menandatangani perjanjian selaku juara tanpa trofi di gelaran final piala dunia 2010. Itu terjadi setelah kaki kanannya membelokkan arah bola yang ditendang Arjen Robben.

Di gelaran pertandingan sepak bola terakbar 2014 di Brasil. Di tengah gempuran gelandang penjelajah dan ketajaman penyerang, hadir pula lelaki penyendiri yang punya kuasa atas sebagian lapangan. Di area itulah sang kiper berhak memeluk bola, menendangnya, atau memainkannya seorang diri. Taktik yang sering dilakukan bila timnya sudah menang, mengulur waktu menanti penyerang lawan mendekat.

Menyebut Manuel Neur, sudah pasti wajar di antara punggawa tim nasional Jerman yang menundukkan Brasil sebelum memastikan gelar juara dengan memaksa Argentina mengakui kekalahan bermodal sebiji gol usaha Mario Goetze.

Di fase grup G, salah satu peraih pemain terbaik sejagad, Cristiano Ronaldo sepertinya lupa menendang bola ke arah gawang sebelum pertandingan usai. Lelaki jangkung berusia 28 tahun, Neur, nampaknya tidak berpeluh. Skor 4-0 sudah cukup sebagai bukti.

Di partai puncak, Argentina dan Jerman mewakili kutub berbeda, kedua tim ini di edisi sebelumnya telah saling membunuh. Argentina melakukannya di Mexico tahun 1986, empat tahun berselang, giliran Jerman di Italia tahun 1990.

Sebenarnya penghargaan individu bukanlah sesuatu yang melewati tragedi, ini semata persoalan giliran saja atau katakanlah semacam arisan. Asumsi ini pasti ditolak mentah-mentah. Sebab bagaimana mungkin deretan nama yang pernah meraih pemain terbaik digolongkan dalam mazhab ini. Terlalu mengada-ada, saya kira.

Baiklah, kita resapi bersama. Tahun ini, otoritas tertinggi tentang sepak bola, FIFA, telah merilis tiga nama yang bakal memperebutkan trofi FIFA Ballon d'Or. Gagasan yang bermula dari Gabriel Hanot, penulis di majalah France Football di tahun 1959. guna menghormati pemain yang telah memberikan hasil terbaik di musim sebelumnya. Penghargaan ini mulanya diperuntukkan bagi pesepakbola dari Eropa saja. Karena itulah Maradona dan Pele tidak sempat menerimanya.

Barulah di tahun 1995 setelah terjadi perubahan aturan yang memungkinkan pemain non Eropa yang bermain di klub Eropa berhak masuk nomine. Tercatatlah George Weah yang bermain di AC Milan selaku pemain dari luar Eropa yang pertama kali menerimanya. Sebelum resmi digabung dalam kategori pemain terbaik dunia versi FIFA,  Ballon d’Or France Football hanya sekali mencatat nama seorang kiper, yakni Lev Yashin dari Rusia di tahun 1963. Setelah digabung pada 2010, akhirnya dikenal luaslah penyebutan FIFA Ballon d'Or, yang berarti bola emas.

Dari dua nama bakal peraih FIFA Ballon d’Or tahun 2014 yang akan diumumkan FIFA, tidak ada bek dan penyerang dalam artian sesungguhnya. Sebagaimana disebutkan sejak awal, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi merupakan gelandang dipemaknaan yang luas. CR7, misalnya, sejak bermain di Sporting Lisbon, ia menjelajah di saya kiri . Begitupun ketika di Mancester United hingga kini di Real Madrid. Jika bergeser, paling ke kanan atau di pasang penyerang lubang. Messi sendiri tak jauh berbeda, karir awalnya di tim inti Barcelona dipasang di sayap kanan sebab Ronaldinho masih Berjaya kala itu. Barulah kini beroperasi di tengah, begitupun di tim Tango, setelah Requelme tak lagi di sana. Si Kutu, julukan Messi, yang menguasai posisi itu.

Kedua pemain ini akan ditantang seorang kiper, siapa lagi jika bukan Manuel Neur. Ini kali kedua seorang kiper mengisi tiga besar perebutan penghargaan bergengsi di dunia sepak bola setelah di tahun 2002, Oliver Khan mencatatkan namanya.

Tetapi, berkaca pada sebelumnya, kiper sudah cukup mendekap pujian dalam tim saja. Iker Casillas yang bersinar di tahun 2010 bahkan tenggelam di deretan tiga gelandang di ajang serupa di tahun 2011. Inilah elegi yang menghampiri Neur dan kiper yang lain. Aksi gemilangnya di piala dunia 2014 sepertinya atau akankah mengaburkan kecepatan CR7 dan kelincahan Si Kutu.

Andai, CR7 dan Si Kutu satu tim, kemudian berdua menyerang gawang yang dikiperi Neur. Hayalan ini sungguh utopis, bukankah Neur telah membuktikan di piala dunia 2014.

***
Makassar, 4 Desember 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…