Skip to main content

Nurdin Parinding dan Secuil Narasi Kehidupan di Tator




Nurdin Parinding, di area persawahan di kampungnya (Sumber di sini)


Kehidupan keagamaan dan sosial di Tana Toraja (Tator) tampaknya berjalan seirama mencipta harmoni kehidupan. Hal ini sangat terasa dengan kuatnya daya magis etnik di Tator sehingga orang-orang tanpa bosan dan takut untuk selalu berkunjung ke sana untuk menyelami kehidupan beragam kebudayaan yang tumbuh subur di tengah arus modernisasi.

Selayang pandang ini seolah mengajak kita untuk membayangkan jalannya kehidupan di negeri ini, mestinya seperti yang terjadi di Tator. Meski berbeda agama, tetapi masyarakat selalu bekerja sama dalam menjaga warisan adat istiadat tanpa risi dengan menonjolkan identitas. Dan, ragam upacara adat yang selalu dilaksanakan seolah menjadi perekat utama keharmonisan itu.

Saya teringat ketika menanyakan keberadaan babi yang memang banyak hidup di Tator kepada seoarang kawan dari sana. Babi dalam pandangan Islam adalah jenis binatang yang haram untuk dikonsumsi, kecuali dalam keadaan mendesak. Namun, masyarakat Tator sebagaimana yang pernah saya saksikan ketika berkunjung ke sana sedang melakukan pembakaran babi dengan cara di panggang yang dilakukan di halaman rumah salah satu warga. Baunya yang menyengat jelas mengganggu saya yang baru mencium aroma daging babi panggang.

Motif pertanyaan saya perihal saudaranya yang beragama Kristen. Apakah di rumahnya sering mengkonsumsi babi, dan bagimana dengan alat dapur yang digunakannya, apakah bercampur dengan makanan yang sering ia makan. Nurdin Parinding, nama kawan saya itu, menjawabnya tegas, kalau di rumahnya tidak pernah ada babi yang dimasak, meski saudaranya ada yang beragama Kristen. Saudaranya pun tidak pernah mengkonsumsi babi.

Sejenak saya baru sadar dan merenung kembali, kalau mengkonsumsi babi bagi masyarakat Tator bukanlah hal yang begitu istimewa dan selalu diperdebatkan secara fikih. Nurdin Parinding sendiri melihat babi sebagai binatang peliharaan bagi masyarakat Tator yang bernilai ekonomis, tidak lebih dari itu, meski dalam pelajaran agama di sekolah atau ceramah keagaman yang sering saya ikuti bersama Nurdin, jenis makanan tertentu masih sering didakwakan oleh sebagian ustaz sebagai bentuk peringatan. Salah satunya yang selalu diulang-ulang adalah daging babi itu.

Tetapi di Tator, realitas mengkonsumsi babi bukanlah bom waktu menuju konflik sosial mengatasnamakan agama. Mengkonsumsi babi tetap merupakan pilihan demokratis bagi siapa saja. Bagi Nurdin Parinding sendiri yang lumayan mafhum hukum Islam soal haramnya mengkonsumsi daging babi, tidaklah dijadikan pelampung bahan dakwah dalam menjalankan keyakinan agama yang dipilihnya untuk selalu ia dendangkan pada sanak dan kerabat yang memilih agama berbeda dengannya.

Nurdin Parinding, berasal dari desa Kandora, kecamatan Mengkendek, Tana Toraja. Ia memilih sekolah di Makassar tahun 2000 atas undangan beasiswa dari Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Makassar (YBW UMI). Mengikuti jejak teman sekampung lainnya yang lebih dulu memenuhi tawaran itu. Yayasan ini sendiri selain mewadahi Universitas, juga membangun sekolah tingkat pertama (SLTP) dan sekolah tingkat atas (SMU/SMK).

Untuk meneruskan bakatnya dalam dunia elektrik. Nurdin memasuki jurusan elektro di SMK UMI ketika itu. Meski saya memilih jurusan listrik, namun untuk pelajaran umum seperti: Pendidikan Agama Islam, PPKN, dan lainnya kami selalu satu kelas.

Berawal dari keakraban inilah, Nurdin sering menceritakan pengalaman keagamaan di kampungnya. Berdasarkan penuturannya, ia masuk Islam bukan karena genetik atau warisan dari orang tuanya. Tetapi atas pilihan sadar setelah beberapa teman sekampungnya yang menimbah ilmu di perguruan agama di Makassar (UMI) sering melakukan dialog dengannya. Sehingga ia baru memeluk Islam setelah mengamini beasiswa untuk sekolah di SMK UMI. Namun, bukan karena beasiswa itu Nurdin memilih agama Islam. Melainkan dorongan orang tuanya sendiri yang saat itu masih memeluk agama Kristen. Itulah kemudian ia baru belajar mengaji setelah tinggal di Makassar. Tak jarang ia mendapat ledekan dari teman-teman sekolah lainnya jika Nurdin mendapat giliran mengaji di depan kelas. Dengan sangat terbata dan tertatih ia mengeja huruf arab yang baru saja dikenalnya.

Kini, setelah 15 tahun, sepenuhnya saya putus kontak dengannya, kabar terakhir ketika bertemu salah satu teman sekampungnya di Makassar di tahun 2010 silam, menceritkan kalau Nurdin Parinding sudah menetap di kampungnya dan telah berkeluarga. Tetapi, rasanya perlu mencarinya di dunia maya, setelah melakukan pencarian di Google, saya menemukan akun Facebooknya. Rupanya, sekarang ia tak lagi di kampung halamannya karena telah bekerja di PT AKR Corporindo TBK, perusahaan nasional bergerak di bidang trading, distribusi, dan logistik.

Watak inklusif dalam keluarganyalah secara khusus dan masyarakat Tator secara umum yang kemudian saya coba elaborasi kembali untuk menuliskan jejak kesaksian narasi kehidupan di Tator sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang merawat semangat toleransi keberagaman dalam menajalani kehidupan.

Latar belakang Nurdin memang bukan lahir dari ruang-ruang diskusi, atau berasal dari keluarga yang memiliki koleksi buku-buku pemikiran sehingga dalam satu atap mereka bisa membangun keluarga meski berbeda agama. Semuanya itu tampaknya jauh, lebih tepat jika dikatakan kalau kehidupan masyarakat Tator adalah warisan leluhur turun temurun. Tator sendiri merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, berjarak sekitar 350 Km di sebelah utara Kota Makassar. Dibutuhkan waktu hingga 8 jam melalui jalur darat untuk sampai di sana.

Namun, yang membuat saya takjub, adalah realitas sosial di Tator yang sangat menghargai perbedaan. Bahkan pernikahan beda agama bukanlah masalah yang mesti diperdebatkan. Jika yang ingin menjalankan itu sudah saling sadar akan cinta mereka, maka orang tua dan agama tidak dijadikan tembok penghalang untuk menghalangi kebahagiaan bagi mereka yang tetap ingin menikah meski berbeda keayakinan agama. Dan selanjutnya, anak-anak mereka kelak bebas untuk memilih agama yang ingin dianut.

Nurdin Parinding hanyalah salah satu pemuda Tator yang dalam catatan ini saya jadikan refleksi ingatan akan toleransi keberagaman di daerah dan keluarganya. Sebuah harapan yang selalu dicari dalam teori mazhab pemikiran. Dan, di Tator hal itu sudah menjadi realitas sudah sejak dulu.

Bahwa apa yang terjadi di Tator merupakan pengalaman sejarah dan warisan leluhur yang sangat berharga bagi pembangunan toleransi masyarakat Toraja hingga kini. Meski Nurdin Parinding mengenyam pendidikan modern yang berlabel agama Islam. Tidak serta merta menjadikan dirinya sebagai polisi fikih dalam keluarganya dan lingkungan sosial di mana ia tinggal.

Pengalaman mungkin lebih kuat tertanam di benaknya. Kalau keberagaman di Tator seakan tak memerlukan penjelasan lebih lagi untuk saling menjunjung tinggi nilai toleransi dalam menjalani kehidupan masyarakat inklusif.

***
Pangkep-Makassar, 29 November 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…