Skip to main content

Jalan(an) Demonstran



 
Menjadi demonstran itu pilihan sadar, saya membedakannya dengan demonstran hasil mobilisasi. Berdemonstrasi adalah langkah protes paling dekat yang bisa ditempuh ketika saluran berpendapat terpotong.

Sejak mula, melawan dengan massa merupakan perilaku orang-orang sadar dengan keadaan yang sedang atau yang akan dihadapi. Meneriakkan realitas lain di ruang terbuka tentu merupakan hasil proyeksi atas imaji pembuat keputusan.

Sejarah mengingatkan, begitu banyak suara tumpah di ruang terbuka, utamanya di jalan. Mengapa, sebab di jalanlah etalase paling strategis yang memungkinkan terjadinya pergumulan bila sepaham dengan isu yang diteriakkan dan memungkinkan pula menjadi medan laga.

Tentu tak semua jalan bisa dijadikan ruang pertunjukan, hanya beberapa ruas jalan saja di mana titik temu dimungkinkan mengundang kerumunan. Karena itulah sulit membayangkan jalan Perintis Kemerdekaan, Urip Sumihajo, Andi Pangeran Pettarani, dan Sultan Alauddin sepi dari riuh demonstran.

Ke empat jalan protokol di kota Makassar itu sepertinya ditakdirkan sebagai jalan para demonstran yang tak hanya dilakukan mahasiswa tetapi juga jalan bagi demosntran dari kelompok sosial yang lain.

Sejak berembus isu kenaikan BBM di era pertama pasangan Jokowi-JK, mahasiswa di Makassar telah menjawabnya dengan pemblokiran jalan. Perlawanan klasik dan bisa juga menjadi klise. Kadang, bila terlalu larut, para demonstran ini berhadapan dengan satuan pengamanan. Tren terbaru, masyarakat yang jenuh dengan pagelaran itu juga terlibat bentrok.

Dengan demikian kita perlu mengajukan tanya, sebab naiflah sang orator bila tak menyebutkan tolak perjuangan mereka demi masyarakat. Ataukah demonstrasi itu sendiri telah menjadi candu bagi mahasiswa dan kejengahan bagi sebagian masyarakat.

Orator, tembang lawas Ebiet G Ade, menggambarkan demonstran selaku sepasukan burung garuda jantan yang hendak merebut kota dari cengkaraman kaum munafik, lobak, dan tamat. Konteksnya tentulah berbeda, namun pada dasarnya aksi massa adalah pengingat atau seperangkat alat guna membasmi pengkhianat.

Jalanan bagi demonstran tak hanya tempat menggantungkan cita-cita sebagaimana yang diterangkan di tembang Bongkar yang dipopulerkan band Swami di mana Iwan Falls merupakan salah satu personelnya. Menduduki jalanan bagi demonstran merupakan protes itu sendiri walau tanpa orasi dan membakar ban bekas.

Ini perwujudan kesadaran dari kelompok sosial yang masihlah bagian masyarakat terbuka. Mereka tumpah ke jalan setelah sebelumnya dilakukan rapat massal untuk menentukan isu dan jenderal lapangan. Setelahnya, mereka kembali ke kampus dan berkhidmat di organisasi, melakukan evaluasi guna mengukur tingkat pencapaian target penyebaran isu.

Demonstrasi bukanlah tren, tetapi perlawanan, terlepas hasil akhir yang terjadi. Proses melibatkan emosi banyak orang adalah strategi untuk menginjeksikan pengantar kesadaran. Kelompok sosial manapun akan menempuh jalur yang sama guna menegaskan ketidaksepakatan tentang sebuah keputusan.

Karena demonstrasi merupakan saluran aspirasi, maka menjadi penting menelisik karakter kelompok sosial yang mementaskannya. Mahasiswa misalnya, jika dalam praktiknya terjadi tindakan brutal, kita tak bisa melakukan pembacaan sapu rata. Tak semua mahasiswa sebatas menyibukkan diri di ruang perkuliahan, di antara yang banyak terdapat mahasiswa intens melakukan kajian analisis terkait isu.

Jaringan mahasiswa yang demikianlah, saya kira, pelaku demonstran yang turun ke jalan karena ditopang kesadaran. Di hari-hari yang dilewati di kampus terjadi pergumulan wacana dan interkasi dalam dialog. Tegasnya, label mahasiswa selaku kontrol moral dan agen perubahan menjadi pertaruhan sebelum menanggalkan kemahasiswaan.

Demonstran dan demonstrasi, adalah tragedi yang saling bertautan. Pertama menunjukkan pelaku, yang kedua massa dalam satu teriakan membangun jalan cerita yang ujungnya sulit diterka. Tidak ada sutradara yang merancang walau demonstrasi rawan ditunggangi.

Soe Hok Gie, mahasiswa dan demonstran di dekade 1960, di catatan hariannya yang kelak dibukukan ke dalam Catatan Harian Demonstran, menuliskan: “…di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas-batas sejauh-jauhnya…”

Bagi mahasiswa demonstran yang telah membaca buku catatan harian itu, dapatlah memahami arti penting pergolakan di dalam jiwa dalam membaca realitas. Dan, menegaskan jalan kalau berdemonstrasi adalah pilihan kesadaran.

***
Pangkep-Makassar, 19 November 2014

Comments

  1. Jom join Giveaway !

    http://kylifa.blogspot.com/2014/11/simple-1st-giveaway-segment-by-beba-ifa.html

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap