Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2014

Nurdin Parinding dan Secuil Narasi Kehidupan di Tator

Yengga, Pembecak yang Tertinggal di Masa Lalu dan di Masa Depan

Hujan dan Merindukan Si Tambun

“Ayo, Ma. Kita main hujan. Matikan saja dulu kompor itu. Nanti Mama lanjutkan memasak ikan …” – aku agak memaksa (Asdar Muis RMS dalam Malu Lagi edisi 3 Desember 2013)

Di seri rubrikasi Malu Lagi yang pertama kali melayar di Facebook pada 8 Mei 2013, melanjutkan rubrik Malu yang tuntas diselesaikan di sepanjang tahun 2012 tanpa alpa sekalipun. Dari seri catatan harian itulah saya mengetahui kalau lelaki tambun, Asdar Muis RMS mencintai hujan.
Suatu malam di tahun 2012 di rumah karibnya, Budi, yang juga berbadan tambun. Ia memperlihatkan rekaman monolognya, tampak ia sedang mentas dibawah guyur hujan. Saya heran saja, kok, Asdar Muis RMS yang sudah tua masih menyenangi hujan laiknya bocah.
Ini yang belum terjawab hingga ia wafat. Namun sudahlah, ini kegelisahan saya saja, tak kunjung paham tentang tingkah seniman serba bisa tersebut. Bila bermain hujan di siang hari, mungkin wajar-wajar saja. Tetapi bagi Asdar, tengah malam buta pun bukan halangan.
“…Ternyata, rintik hujan mengharuskan k…