Skip to main content

Tentang Lelaki yang Fotonya Terkenal Itu



Saat itu, ia masihlah pemuda berusia 15 tahun yang terdampar di pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar di suatu malam di tahun 1999. Ke mana tujuan. Sama sekali tak diketahuinya. Ia seorang diri.

Masih di malam itu, setelah kapal memuntahkan isi lambungnya. Ia mengikuti saja perintah dari arahan petugas untuk segera menaiki sebuah truk militer menuju suatu tempat. Kembali ia tidak tahu hendak dibawa ke mana. Satu-satunya yang ia sadari, kini ia berpijak di negeri asing. Terpisah dari tanah kelahiran dan kedua orangtuanya.

Kisah di atas dituturkan AB Yoga, kawan masa sekolah di tingkat menengah atas. Kami angkatan tahun 2001 di SMK 1 LPP YBW UMI Makassar. Walau setiap hari bertemu, kekariban baru terjalin di tahun 2003, tahun terakhir menyelesaikan masa studi.

Saya mengingatnya sebagai siswa pendiam dan selalu memisahkan diri dari kelompok teman-teman. Mungkin karena merasa seorang eksodus dari Timor-Timur (kini Timor Leste) dan muallaf, sebuah pilihan di tengah pergulatan hidup yang dilakoni setelah terdampar di Makassar. Mungkin pilihannya cuma itu, sebab rupanya truk militer yang mengangkutnya di malam itu membawanya ke sebuah asrama yang diasuh salah satu universitas berlabel Islam.

Mulanya, saat melihat Yoga, begitu ia disapa, berjalan di suatu siang menuju gerbang sekolah. Seragam putih telah ia tanggalkan. Kaos ketat hitam melekat di tubuhnya yang kekar. Gambarnya! Wow! Sebuah kepala bertopi baret dengan sorot mata tajam. Gambar itu sebelumnya kulihat di kaos seorang mahasiswa yang kerjanya hanya berdemo. Jadi, kesimpulannya, Yoga ini rupanya telah menyembunyikan sesuatu selama dua tahun. Pikirku.

Saya menghampiri dan langsung menanyakan perihal dari mana ia mendapatkan kaos itu. Jika harus membeli, saya pun mau. Saat itu memang, kaos bergambar kepala bertopi baret belumlah marak. Saya sudah mencoba mencarinya di toko. Hasilnya nihil.

Yoga menerangkan kalau kaos yang dikenakannya itu pemberian seorang mantan aktivis mahasiswa. Setelah kejadian itu, Yoga menjadi teman jalan dalam berbagai kesempatan. Belakangan kuketahui, kalau ia pun doyan membaca buku (bukan buku pelajaran sekolah). Maka, jadilah barter. Saya meminjamkan buku Pemikiran Karl Marx karya Frans Magnis Suseno, dan ia meminjamkan kaos keren itu. (sekadar gagah-gagahan saja kala itu).

Selanjutnya, saya membawa Yoga terlibat di kegiatan diskusi yang dijalankan kelompok mahasiswa. Sebaliknya, Yoga memperkenalkan saya pada mantan aktivis mahasiswa yang telah menghadiainya kaos. Lewat dialah kemudian saya mendengar informasi dan tertarik dengan Che Guevara, sosok gambar di kaos itu.

Hingga kemudian saya menemukan buku tipis berjudul Catatan Revolusioner, diterbitkan Yayasan Litera Indonesia. Itulah buku pertama yang kubaca tentang Che setelah saya tidak menemukan lagi buku Revolusi Rakyat terbitan Teplok Press yang pernah beredar di toko buku Gramedia.

Sumber

Sumber

Buku itu kemudian raib di asrama tempat saya tinggal selama bersekolah di Makassar. Saya yakin, yang mengambilnya tentu orang-orang di sekitar saya yang juga tertarik dengan sosok pejuang revolusi Kuba itu.

Selanjutnya, wacana tentang Che sepertinya telah menjadi endapan ingatan. Mungkin sudah tersimpan sebagai mitos sekaligus realitas bahwa ia benar-benar pernah hadir di muka bumi ini. Bahkan, pertemuannya dengan Soekarno seakan gambar lalu yang dengan mudah dapat dijumpai di internet.

Kini, setelah sebelas tahun berlalu. Candu Che kembali mengajak untuk dirindu. Setelah sebelumnya saya tampik untuk membeli buku yang mengulas tentang sepak terjanganya yang seolah seperti kisah superhero dalam film Holywood. Adalah komikus kelahiran Amerika Serikat, Spain Rodguez yang telah membuat biografi grafis. Edisi Indonesia telah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama tahun 2008 yang diterjemahkan Ratih Kumala, penulis novel Gadis Kretek.


Di tahun 2005 saya juga tak kuasa menolak membeli buku tipis Perang Melawan Penindasan-Che’s Speak diterbitkan oleh Narasi. Isinya berupa kumpulan pidato Che Guevara. Saya pikir, setelah membacanya, bekal pengetahuan tentang pemikiran Che sudah cukup. Namun, kembali ke biografi grafis itu. Mendaras jejak hidup Che nampaknya perlu. Tentang penyajian secara visual, penerbit Insist Press juga pernah mempublikasikan buku Che untuk Pemula-Hasta la Victoria Siempre. Karena angkuh, merasa sudah cukup. Buku itu saya lewatkan saja.

Sumber
Saya kira, saya tak perlu lagi menuliskan nama lengkap begitupun tempat lahir. Itu sungguh klise. Tak mungkinlah Wikipedia melewatkan sosok yang satu ini. “Ia manusia paling lengkap pada masanya,” kata Jean Paul Sartre, filsuf asal Prancis yang menemuinya di tahun 1960.

Begitu terkenalnya, gambar wajahnya dapat dijumpai di hampir segala pernik. Seperti di korek api, sampul kaset, poster, gantungan kunci, stiker, botol minuman, dan, tentu saja kaos. Bahkan Maradona membuat tato itu di lengan kanannya. Tak terbayang kiranya, foto hasil jepretan Alberto Diaz Guetierrez di tahun 1960 kala Che menghadiri pemakaman massal 80 pejuang korban La Coubre di Havana akan tersebar luas hingga kini.

Korda, panggilan akrab Alberto, menjepret spontan dan menangkap amarah di bawah baret. Rambut gondrong yang acak seolah melengkapi dan menyiratkan kesedihan sekaligus pernyataan takkan menyerah. Foto itu lalu mulai beredar luas ketika penerbit kiri di Italia, Gianfiancomo Feltrinelli mendapatkan satu kopian. Bermula dari situlah, foto itu beranak pinak ke dalam ragam desain. Misalnya, Che sedang mendengarkan musik melalui headset dan lambang bintang di baretnya tergantikan dengan logo centang ala produk Nike.

Di biografi grafis ini, Spain Rodrigues hanya kembali mengingatkan kisah perjalan Che yang dimulai bersama kawan kentalnya, Alberto Granado. Seperti lelaki patah hati pada umumnya, perjalanan melintasi Amerika Latin mengendarai sepeda motor, mulanya dipicu karena Ernesto Guevara putus dengan kekasihnya, Chichina, putri seorang aristokrat.

Penyematan ‘Che’ yang berarti ‘Anak atau Nak’ pertama kali diperoleh dari seorang yang menolongnya. Orang itulah yang memberikan tumpangan menginap di gudang tokonya. Sebagai imbalan, Ernesto dan Alberto harus membantu orang itu mengangkat kayu bakar.

Selain lulusan sekolah kedokteran dengan keahlihan khusus penyakit kusta. Che juga piawai bermain bola. Dua keahlian itulah yang menjadikan modal baginya dalam bergumul dengan komunitas warga yang didatanginya. Hingga kemudian berjumpa dengan Fidel Castro di Meksiko di tahun 1955.

Sebagai pemimpin gerilya, Che tetaplah manusia. Menikah dan membangun keluarga. pertama, bersama Hilda, seorang aktivis dan kemudian bercerai. Che lalu menikah lagi dengan Aleida dan dikaruniai enam anak. Jalan revolusi yang tak selesai, membuat Che mengubah penampilan dan menyamar menjadi Ramon, seorang pengusaha yang akan berangkat ke Bolivia. Ironisnya, dengan penyamaran itulah, Che pamit dengan anak-anaknya.

Begitulah selanjutnya, kita ketahui kalau Che pada akhirnya dieksekusi di sana. Diingatkan kembali dalam biografi grafis ini, Che keliru membuat strategi dengan memisahkan anak buahnya ke dalam dua kelompok. Pada 8 Oktober 1967, Che tertangkap dalam keadaan terluka.

Spain Rodrigues tidak menuangkan visual secara detail mengenai proses eksekusi Che, yang kita tahu sungguh sadis, sebab tangan kiri Che ditebas sebelum dibunuh. Justru, Spain Rodrigues menegaskan kalau orang yang membunuh Che itu rupanya menderita katarak dan dioperasi di Kuba secara gratis. Sebab Kuba memiliki layanan kesehatan terbaik ketiga di dunia. Begitulah kisahnya tentang lelaki yang fotonya terkenal itu.

Foto yang Terkenal Itu (Sumber)

***
Makassar, 19 Oktober 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…