Skip to main content

Edisi Koran Minggu

   
 
Minggu merupakan hari libur, dikatakan demikian karena kantor swasta maupun negeri tutup. Tetapi, koran tetap terbit dan loper setia mengantar ke pelanggan. Termasuk di kantor tempat saya bekerja, di salah satu dealer kendaraan roda empat di Makassar.

Di tahun 2012 lalu, saban Sabtu saya pulang ke kampung, desa Kabba kecamatan Minasatene kabupaten Pangkep. Sekitar 120 Km di sisi utara ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, yakni Makassar. Maka, Senin pagi saya bergegas menempuh perjalanan menunggangi sepeda motor selama satu jam lebih kembali ke kota Daeng, sebutan akrab untuk Makassar. Tujuannya, tentu saja kembali bekerja dan berharap menemukan koran edisi Minggu di pos satpam.

Bila beruntung, empat koran, Tribun Timur, Fajar, Sindo Makassar, dan Kompas langganan kantor edisi Minggu akan kujumpai. Bila tidak, sore hari saya mesti mencarinya lagi di lapak koran di pinggiran jalan. Kadang di jalan Perintis Kemerdekaan depan universitas Cokroaminoto atau di jalan Andi Pangeran Pettarani, depan eks kampus UIN Makassar.

Saya menyenangi koran edisi Minggu, kira-kira dimulai di tahun 2002 atau 2003. Sebab ada rubrik sastra. Maunya saat itu, saya ingin selalu membeli Fajar dan Kompas, namun kemampuan ekonomi yang tak mencukupi, salah satunya harus dilupakan dan saya memilih Kompas saja. Pertimbangannya, kualitas cerpen di koran yang berdiri sejak 28 Juni 1965 itu lebih berkualitas. Dedikasi untuk rubrik seni yang lain pun lebih beragam. Ada ulasan pameran seni rupa, streep cartoon, pertunjukan musik, tari, teater, hingga ulasan film.

Sejak saat itu, saya rajin mengkliping rubrik seni hingga tahun 2006. Sayang, raib entah ke mana. Sepulang rantau dari Sorong, Papua Barat di pertengahan tahun 2007. Saya mulai lagi melakukan proses pengumpulan naskah yang dimuat di edisi Minggu. Mulanya saya kumpul saja dan memilahnya sesuai rubrikasi yang ada. Proses pengklipingan itu sungguhlah biasa. Sekadar mengumpulkan dan menumpuknya begitu saja. Niatnya memang untuk kesenangan pribadi. Dan, edisi tahun 2007 (hanya sebagian) hingga tahun 2009 (saya rasa juga tidak lengkap) kembali hilang. Dugaan saya, tumpukan kertas koran itu dibuang oleh saudara di rumah karena dianggap sampah yang menumpuk di kamar saya.

Walau begitu, saya masih membeli koran edisi Minggu di tahun 2010 hingga 2011. Tetapi, itu hanya kadang-kadang. Ya, bila ada kesempatan dan kelonggaran ekonomi merelakannya. Untuk kali ini, saya mulai menggunakan penyimpanan naskah di dalam map yang masih tersimpan sampai sekarang.

Di tahun 2012, ketika mulai bekerja di Makassar, saya menemukan map di gudang arsip kantor. Map itu sepertinya dirancang khusus untuk penyimpanan berkas (saya tidak tahu sebutannya, jadi saya sebut map saja). Menurut kebijakan kantor, berkas itu sudah perlu dihanguskan karena sudah berusia di atas lima tahun. Eureka! Dapatlah saya map penyimpanan berkas naskah koran yang lebih baik. Arsip kantor saya keluarkan dan map itu saya bawa pulang. Untunglah, kebijakan kantor tidak menghendaki map itu digunakan kembali untuk berkas yang baru.

Sejak itulah, saya mulai mengumpulkan naskah yang terbit di koran Minggu. Utamanya Fajar dan Kompas, terkadang edisi Koran Sindo bila ulasannya menarik. Tidak Tribun Timur karena belum ada rubrik seni. Tetapi beberapa naskah opini yang terbit di sana juga kukliping, termasuk, tentulah beberapa tulisan saya yang dimuat.

Fajar Minggu

Setelah Pedoman Rakyat tak lagi menjumpai pembaca di bumi Sulawesi Selatan, Fajar menjadi satu-satunya koran lokal yang setia menghibahkan satu halaman untuk rubrik seni. Redaksi melabelinya rubrik ‘Budaya’ yang menjadi etalase kemunculan penulis muda.

Rubrik ini memuat tiga komposisi tulisan. Pertama, kolom Percik yang diisi Nur Alim Djalil, ruang cerpen, puisi, dan apresiasi. Meski begitu, rubrik ini tidaklah pakem. Terkadang yang dimuat adalah kearifan budaya lokal berupa hikayat di suatu daerah, misalnya, edisi 2 Februari 2014, Dg Mangeppek menulis Selayar dan Pertarungan Dua Anak Raja, mengulas tentang sepotong riwayat menyangkut Selayar, salah kabupaten di Sulawesi Selatan. Berbarengan dengan itu, redaksi juga memuat puisi berbahasa Bugis. Dalam sejarah susastra di Sulawesi Selatan, di sebut Kelong. 




Artinya, rubrik Budaya Fajar tidaklah kaku dan menjadi barometer bagi penulis muda. Banyak yang antre agar tulisan mereka dimuat. Tetapi, di jaringan atau komunitas penulis muda lainnya yang bertumbuhan di Makassar. Fajar bukanlah pilihan utama. Mereka memilih media cetak nasional. Jika diamati berdasarkan perjalanannnya, rubrik Budaya Fajar sepertinya tidak cermat membaca geliat zaman dan miskin editor.

Beberapa cerpen atau apresiasi sastra (baca: esai) dipaksakan dimuat dengan tata bahasa yang kacau. Tampilannya pun tidak menarik yang mengindikasikan tidak adanya desainer andal dalam tim redaksi. Namun, syukurlah. Koran ini masih mau menghibahkan sehalaman untuk dicoreti karya sastra.

Kompas Minggu

Saya tidak ingin membandingkan Kompas dengan Fajar dalam hal kualitas desain apalagi isi. Nyatanya, koran ini pernah kecolongan cerpen plagiat berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon karya Dadang Ali Murtono yang dimuat 30 Januari 2011. Mengikuti perkembangan penulis yang cerpennya intens dimuat. Maka, Seno Gumira Adji Darma, Agus Noor, Budi Darma, adalah manusia yang selalu saja kita dapati. Termasuk cerpen mereka selalu (saja) masuk nomine terbaik yang dibukukan Kompas saban tahun.



Hal pertama yang selalu kubaca di edisi Minggu koran ini, ialah streep cartoon. Ada Panji Koming, Mice Cartoon, Timun, Sukribo, dan Konpopilan. Dari tema, Panji Koming, Timun, dan Sukribo mengulas perkembangan politik dan kehidupan sosial. Dengan cara yang lain, Konpopilan pun demikian. Khusus Mice Cartoon, setelah tak bersama Beny lagi. Mice fokus menggarap lika-liku kehidupan kaum urban.

Koran Edisi Minggu yang Lain

Sejauh ini, saya hanya membaca dua koran Minggu di atas secara intens. Adapun Sindo Makassar, juga belum memuat cerpen dan puisi. Hanya ulasan pertunjukan yang sejak dua atau tiga bulan lalu di tahun 2014 (tidak tahu pasti) diisi oleh seniman Asia Ramli Prapanca. Koran ini juga memuat streep cartoon.

Sebenarnya masih ada koran nasional yang beredar di Sulawesi Selatan, seperti Koran Tempo dan Media Indonesia yang keduanya memiliki ruang sastra. Hanya saja, peredarannya terbatas. Sesekali saja saya mendapatkan edisi Minggu Koran Tempo di pengasong koran di lampu merah.

***
Makassar, 18 Oktober 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap