Skip to main content

Argentina Memiliki Messi, Jerman Memiliki Azimat



Hari ketika Brasil dipermalukan Jerman dengan skor di luar batas nalar seorang penjudi bola sekalipun, Gaza tengah dibantai serangan militer Israel dan di dalam negeri riuh perbedaan hasil hitung cepat menyita perhatian selain piala dunia. Tiga momen itu sungguh membuat mata ini sulit terpejam.

Laga Belanda, si juara tanpa mahkota ini tak lagi menarik kala menekuk Brasil 3 gol tanpa balas yang menjadi kekalahan beruntun tuan rumah yang mungkin luka tambahan bagi petinggi negara itu yang ngotot membangun stadion di tengah teriakan massa menuntut perbaikan layanan publik.

Neymar, remaja 22 tahun itu meringis. Tulang punggunnya retak dihantam bek Kolombia, Juan Zuniga. Impian berakhir, sebab di tubuh tim Samba, julukan Brasil tak lagi memiliki penari. Luiz Felipe Scolari, pelatih yang membawa Berasil meraih gelar dunia ke lima di Korea-Japan tahun 2002 sepertinya tak membutuhkan pemain tua. Maka, duduklah Kaka di bangku tribun stadion dan si penari magis, Ronaldinho yang saya kira masih lebih gesit ketimbang Neymar dilupakan.

Scolari hendak membangun sejarah baru, padahal sejarah itu kadang perlu berulang jika sebab-sebab menuju yang baru itu belum terpenuhi. Seingat saya, baru kali ini Brasil di mana pemain sayap lebih banyak menendang bola ketimbang penyerang. Tetapi sudahlah, sejarah itu berulang untuk kemalangan Brasil.

Sepak bola sebagaimana teknologi, tentulah berkembang. Filosofinya memang permainan kolektif, karena itu ada 11 pemain membangun koneksi dan bertugas sebagaimana fungsinya. Dalam sejarahnya, sebuah tim kadang sekadar tim sebagai sebutan. Ketergantungan pada seorang pemain yang dilimpahi gerakan lincah melewati tiga hingga empat pemain lawan juga telah mewujud. Maradona di tahun 1986, Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho, di tahun 2002.

Inilah dua kiblat itu, kekompakan dan kemampuan individu. Belanda barang tentu contoh unik sekaligus boleh disebut terbaik dalam menetapkan identitas. Perpaduan kolektivitas dan kegesitan individu untuk bertukar posisi. Namun, Total Footbaal yang melegenda itu hanya menghasilkan tiga final piala dunia dan sebuah tropi Eropa yang bisa diingat.

Hampir, pemain bertipe penari lahir di bumi Amerika Latin. Argentina dan Brasil, dua negara yang tak pernah putus melahirkannya. Beberapa tim Eropa pernah juga disinggahi bakat demikian, Roberto Baggio di Italia untuk menyebut contoh saja. Lupakan dulu Asia dan Afrika, sebab dari dua benua ini belum ada negara yang merengkuh tropi yang diperebutkan empat tahun sekali itu. Tegasnya, Eropa kutub kolektivitas dan Amerika Latin mazhab individu.

Dan, hari pembuktian di stadion Maracana Rio De Jeneiro mempertemukan kembali dua mazhab. Suatu kepastian Jerman dan Argentina berjumpa di final untuk kali ketiga. Rekornya, Jerman menang 2-1, Jerman mengakui kelincahan individu Maradona di final tahun 1986 Mexico dan Argentina menerima gol penalti Andreas Brehme empat tahun kemudian di Italia tahun 1990. Dan, Mario Gotze mengaduk emosi Messi dan kawan-kawan di Brasil tahun ini.

Ini pertempuran el diez kontra kolektivitas, tulis Sindhunata, pemimpin redaksi majalah Basis. El Diez merujuk pada pemain nomor punggung 10, Messi. Perlu diakui jika Argentina melewati fase grup karena keberadaan Messi, sedangkan Jerman perlu membagi gol kemenangan dari penyerang, gelandang, hingga bek. Di semifinal, Argentina hampir melengkapi derita Brasil jika saja kalah adu penalti kontra Belanda. Namun, simaklah Jerman yang membuat David Luiz, bek Brasil merengek layaknya bocah belasan tahun.

Jika melihat kembali rekor pertemuan kedua tim ini, Jerman pernah mempermalukan Argentina 4-0 di perempat final piala dunia tahun 2010 silam di Afsel dan memenangkan adu penalti 4-2 di fase yang sama di piala dunia tahun 2006 di Jerman. Walau dari 20 laga sebelumnya, Argentina masih mencatat 9 kemenangan dan Jerman baru 6 kali. Tetapi, Jerman seolah punya azimat guna membuyarkan kutukan tim Eropa yang tak pernah juara bila hajatan kompetisi sepak bola agung digelar di benua Amerika.

Lihat sendiri, azimat itu didapatkan dengan mudah dari tangan Brasil. Pertanyaannya, pada siapa azimat itu disematkan. Apakah pada Miroslav Klose, pemain uzur yang telah melewati rekor Ronaldo sebagai raja gol piala dunia. Ataukah pada Thomas Mueller, pemain kurus yang pernah dicibir Maradona selaku anak gawang itu. Entahlah! Joachim Loew, sang arsitek punya kuasa di pinggir lapangan.

Sepak bola sebagaimana puasa, punya waktu normal untuk dihentikan. Tetapi, laga final dua generasi emas membutuhkan perjalanan jauh. Layaknya seorang musafir mencari telaga, butuh kesabaran dan terus menjaga stamina. Lengah sedikit, semuanya selesai. Martin Demichelis, pemain belakang Argentina itu telat menghampiri seorang remaja yang saya kira baru kemarin pandai menendang bola. Mario Gotze, pemuda 22 tahun inilah yang rupanya mengantongi azimat itu.

Namun, kemenangan Jerman, saya kira bukan pada gol yang dicipta pemain bernomor punggung 19 itu di menit 122, azimat Jerman sesungguhnya berupa kolektivitas.

***
Pangkep-Makassar, 14 Juli 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…