Skip to main content

Lemari Abdullah Harahap






Bila Fredy S dikenal sebagai sosok misteri maestro cerita seks, Abdullah Harahap justru sosok nyata yang di pundaknya disematkan maestro cerita misteri. Saya tertarik membaca karyanya akibat provokasi Eka Kurniawan. Novelis itu menyebut Abdullah Harahap perlu dijadikan rujukan selain Pramoedya Ananta Toer, dan Asmaraman S Kho. Tegas, ia menuliskan di blog pribadinya bertajuk Harta KarunKesustraan Kita dan Abdullah Harahap.

Di kalangan pengangumnya, Abdullah Harahap pernah dianggap telah mangkat. Di eranya, media tentulah tidak seramai hari ini. Juga di masanya tidak ada program temu penulis yang digalakkan penerbit sebagaimana hari ini untuk memperkenalkan penulis lebih lekat sekaligus mendongkrak penjualan. Semua itu tidak dialami oleh para penulis fiksi di masa lalu. Termasuk Abdullah Harahap, saya kira.

Karyanya pun dicetak penerbit partikelir dan dijual layaknya kacang goreng di emperan jalan atau di angkutan umum. Jangan tanya soal harganya, mungkin lebih mahal celana cawat kita. Begitulah cerita horor Abdullah Harahap mengendap di benak pembacanya.

Kini, setelah ia bangkit dari kubur, sebentuk guyonan menandai kehadirannya lagi. Ia pun telah membuat blog dan telah hadir di laman Wikipedia. Cerita misteri gresnya kembali menyapa publik pembaca. Bukunya pun secara khusus diterbitkan Paradoks, imprint Gramedia. Dan, berjumpalah saya dengan Misteri Lemari Antik. Itu bukan pilihan, di antara judul yang lain, saya asal saja mencomotnya di rak. Tujuannya menemukan sensasi tersendiri saja dan tak ingin terus terprovokasi.

Hasilnya, layaknya ada kekuatan magis, buku itu terus kubaca tanpa henti hingga tuntas sehari semalam. Jeda sedikit untuk tidur.

Cerita dibuka dengan latar tahun 1928, rombongan orang kampung menyerbu sebuah gubuk di lereng gunung, tak ayal, di gubuk itu tinggal seorang perempuan penyihir yang diyakini warga sebagai sumber malapetaka yang selama ini merisaukan kehidupan mereka.

Tonggo, sosok warga yang cukup disegani karena selain memiliki ajian mumpuni, juga telah menenteng bedil kumpeni, senjata api. Dialah yang pemimpin rombongan, sosok lain yang disegani, Darso, mereka berdualah yang menjadi pioner dalam misi itu.

Sebelumnya, Sukaesih, penyihir yang dimaksud, telah menerima kabar itu melalui gerak alam. Langit biru semula jernih mendadak mendung, panci tanah yang digunakan menadah susu kambing yang diperasnya untuk bayinya mendadak pecah. Kemudian disempurnakan suara sengal Supardi yang berlari menghampirinya mendahului rombongan Tonggo.

Supardi menghimbau agar Sukaesih segera pergi, namun perempuan itu bergeming. “Aku bukan tukang sihir,” tegasnya. Pada akhirnya, Tonggo berhasil menuntaskan misi, Sukaesih ditangkap tanpa perlawanan. Ia menurut saja mengikuti rombongan warga yang penuh nafsu untuk menghabisinya.

Kedua tangannya diikat ke belakang dan Darso setia memegang ujung tali menyeret Sukaesih berjalan melewati belukar dan lereng gunung menuju desa untuk diadili. Dalam perjalanan itu, Sukaesih hanya diam saja, walau ia mampu melakukan perlawanan bila mau. Itulah yang dipikirkan Tonggo, di benaknya berkecamuk sesuatu yang ganjil. Belakangan, Darso juga merasakan hal yang sama.

Sebelum rombongan itu tiba di depan gubuk, rupanya Sukaesih telah menyepakati sesuatu dengan Supardi. Setelah menolak pergi, Supardi dengan setia menerima tawaran. Sukaesih mempercayakan pemuda pencari kayu itu menjaga bayinya. Dan, menangislah Supardi di persembuyiannya melihat Sukaesih diperlakukan bak binatang buruan.

Membaca dua bab, sepertinya perlu hening sejenak, membiarkan kelabat pikiran menduga kelanjutan dengan segala kemungkinan kisah. Di perjudian itu, ada yang benar dan tak sedikit menemukan kekeliruan. Teknik bercerita Abdullah Harahap sungguh brilian, di akhir setiap bab ia memberikan kata kunci untuk kelanjutan cerita walau kemudian di bab selanjutnya kita menemukan permulaan kisah yang baru.

Begitulah, Sukaesih pada akhirnya siap dibakar hidup-hidup di alun-alun desa. Dan dalam proses situ, Supardi yang sebelumnya telah menyepakati sesuatu hal lain dengan Sukaesih yang pada malam ketika Sukaesih masih ditawan di kandang kuda, Supardi berhasil mengajukan tipuan pada Darso agar membiarkannya bertemu dengan Sukaesih, dengan sangat menyesal Supardi menyampaikan kabar yang semakin membuncahkan amarah Sukaesih. Bayinya telah dicuri, Supardi kalap meninggalkan orok itu karena ingin menyaksikannya diarak menuruni lereng bukit. Dipikirnya sang bayi sudah aman di gubuk, tetapi seseorang telah membawanya. Entah siapa. Entah ke mana. Supardi hanya menyesal.

Siang itu, waktu yang tepat menghabisi Sukaesih, timbunan kayu bakar sudah siap teronggok mengelilingi tubuh Sukaesih yang terikat. Di tempat lain, semalam Supardi telah berhasil membuat ukiran di sebilah papan seukuran pintu lemari sebagaimana pinta Sukaesih, wajah Sukaesih tampak mengulum senyum. Selanjutnya, seiring kobaran api, Supardi malah beradu dengan ciptaannya itu. Serasa ada kekuatan yang menggerakkannya dengan kuat sehingga Supardi tak kuasa menahannya. Tubuhnya terpental. Di lokasi pembakaran, warga dibuat geger karena Sukaesih telah menghilang. Dibuktikan lagi dengan tidak adanya tulang belulang di sisa pembakaran. Selesai.

Memasuki bab 6. Kita diarahkan ke kota Pandeglang pada Juli 1984. Alur maju mundur digunakan Abdullah Harahap. Tersebutlah dua sahabat lama yang kembali bertemu di sebuah kota kecil. Ismed dan Harlas. Dengan sepeda motor Vespa, kedua sahabat itu menuju toko meubel. Tujuannya, Ismed yang dimutasi di kota itu sedang mencari perlengkapan untuk rumah kontrakannya.

Tibalah mereka di toko Haji Bajuri. Ismed tertarik, tepatnya terhipnotis dengan sebuah lemari tua yang di pintunya terdapat ukiran sosok perempuan setengah bugil sedang memangku kambing hitam, sorot mata di ukiran itu menyembulkan murkah. Semula, si pemilik toko selalu lupa dengan keberadaan lemari itu. Kisahnya panjang, dan tentulah mengerikan.

Harlas mengingatkan sahabatnya untuk melupakan saja lemari itu. Haji Bajuri bahkan menceritakan sepotog muasal perihal lemari tua itu. Katanya, pemilik lemari itu telah mengalami naas terus menerus dalam kehidupan keluarganya. Ia bahkan telah berupaya mencongkel daun pintunya. Hanya saja selalu gagal. Lemari itu sungguh kokoh sehingga semua alat pertukangan yang dimilikinya tak mampu berfungsi.

Tetapi, semua itu bukan segenggam ketakutan bagi Ismed. Lemari itu dibawa juga ke rumah kontrakannya. Intinya, semua perabot dalam rumah itu sudah harus lengkap sebelum istrinya, Farida datang.

Selanjutnya, jalinan kisah berlanjut dari dalam lemari. Membaca kisah misteri ini, bagi saya serasa menonton film The Prince of Narnia. Di mana sebagian kisahnya berlanjut setelah sang tokoh membuka sebuah pintu lemari dan terjebak dalam alur kehidupan di sana. Itu pulalah yang dialami Ismed dan Farida.

Bermula ketika Farida tiba-tiba menghilang. Awalnya Ismed menduga kalau istrinya itu berkunjung ke rumah Harsal, karena ia dan istri Harsal berniat menjalin bisnis jahitan. Namun, hingga pukul delapan malam, Ismed dan ibunya makin khawatir, Harsal pun dibuat linglung karena seharian istrinya tidak bersama Farida.

Ismed kemudian menemukan peta peristiwanya, ibunya menceritakan kronologisnya, Farida ingin memindahkan keramik di dalam lemari antik itu dan menggantinya dengan buku. Ismed sudah paham. Ia meminta ibunya agar istirahat saja. Dan, Ismed tahu apa yang akan ia lakukan.

Ia telah melalui pengalaman, di malam ketika benda tua itu menempati ruang tengah, ia kembali terhipnotis dengan ukiran sosok perempuan yang mirip istrinya itu. Merasakan kalau ukiran mengajaknya bergumul. Teringatlah cerita Haji Bajuri menyangkut kegilaan pemilik lemari itu sebelumnya. Bahwa yang bersangkutan telah bercinta dengan ukiran perempuan bersorot mata penuh dendam.

Seketika itulah Ismed membukanya, beberapa keramik mendadak hilang dan berganti kepekatan tanpa ujung. Disangkanya ia berdiri di bibir gua. Kabut kemudian muncul disusul orang tua bergelantungan rantai. Hampir saja ia menuruti ajakan itu kalau Harsal tidak menggedor pintu. Entah kenapa sahabatnya itu kembali lagi untuk menemaninya menghabiskan malam.

Ismed sepenuhnya yakin kalau Farida telah terjebak di dalam lemari antik itu. Nyatanya memang demikian, pintu lemari masih terbuka dan tersedotlah Ismed ke dalamnya. Ibunya yang risau terbangun. Kenyataan pahit harus ia hadapi lagi, setelah menantunya menghilang, kini anaknya sendiri tiba-tiba menghilang. Pecahan keramik masih berhamburan di lantai dan pintu lemari masih terbuka. Naluri alami, ia lalu menutup pintu lemari kemudian duduk di sofa dengan kecamuk pikiran menderanya.

Ismed kini tengah memasuki dunia asing, ia tengah bergumul dengan harimau yang hampir saja membuatnya mati sebelum muncul lagi sosok tua menyelamatkannya. Selanjutnya, dari dalam lemari itulah jalinan kisah berlanjut. Ismed kembali ke dunia di tahun 1928. Berjumpa dengan Supardi, Selasih, serdadu kumpeni, penduduk kampung, dan Pak Lurah.

Abdullah Harahap membangun jalannya cerita di mana peran setiap tokoh begitu nyata di dunia asing yang tengah dihadapi Ismed. Masih di dunia asing itu, Farida juga bergumul dengan jalannya kehidupan di dunia asing itu.

Lewat kelindan cerita yang terbangun itulah, kita kemudian mengetahui perihal bayi Sukaesih yang dicuri. Meyangkut orang tua dengan rantai besi menjuntai di tangannya yang dijumpai Ismed kala membuka pintu lemari antik itu.

Intinya, Ismed dan Farida masing-masing menjadi bagian dari konflik yang dihadapi Sukaesih,, Supardi, penduduk kampung, dan tentu saja Pak Lurah. Di era itu, penduduk kampung juga sedang menghadapi teror kumpeni. Ismed bertemu dengan Selasih, janda yang menyelamatkannya dari maut ketika ia tersungkur ke sungai dan menjadikan dirinya perisai atas gangguan serdadu yang bisa saja membunuhnya seketika ketika Ismed hendak melawan.

Dari Selasih dan Supardi, Ismed mengetahui riwayat dunia asing itu. Selasih, misalnya, menjelaskan ikhwal kepala suku Puun yang menyelamatkannya dari harimau juga kehidupan dan aturan di pemukiman hutan terlarang. Sedangkan Farida berjumpa dengan manusia berkepala tikus, yang semula menerjangnya sebelum tunduk dan kemudian kembali lagi ingin membunuhnya.

Kuncinya, Supardi menceritakan kalau manusia tikus itu adalah anak Pak Lurah yang kena kutuk Sukaesih karena mencoba memperkosanya. Supardi menjadi saksi atas peristiwa itu yang diam-diam menyimpan hasrat cinta terhadap Sukaesih.

Ada rahasia yang terungkap antara hubungan Pak Lurah dengan Sukaesih, rupanya, bayi Sukaesih merupakan anak Pak Lurah juga. Ketika Pak Lurah mengetahui kalau anak lelakinya telah dikutuk. Ia menganjurkan agar anaknya itu mencari mangsa di kampung lain. Jelaslah, kematian beberapa warga di kampung bukan karena Sukaesih yang dicap penyihir itu, melainkan ulah manusia tikus terkutuk. Jadi, Pak Lurah selama ini telah menyebar fitnah dan menyudutkan Sukaesih sebagai kambing hitam atas petaka yang terjadi.

Pada akhirnya, Pak Lurah menghukum Supardi karena mencapnya pengkhianat. Supardilah yang membuka rahasia ke kumpeni mengenai cara meluluhkan ajian jagoan kampung. Dengan itulah kumpeni dengan mudah menghabisi nyawa jagoan-jagoan itu. Tetapi, Supardi tidak dibunuh di tempat, ia hanya diborgol rantai yang telah ditiupkan ajian. Pak Lurah memastikan kalau Supardi akan sengsara sepanjang hidupnya.

Sukaesih memang memiliki ajian secara turun temurun dari moyangnya, tetapi itu dipergunakannya dengan baik. Menolong warga yang sedang sakit atau kesusahan. Ia janda berkali-kali karena suaminya mendadak meninggal bila sudah berhubungan badan dengannya. Konflik terbangun di antara Pak Lurah dan Sumindan, anaknya yang terkutuk manusia tikus itu. sebabnya tentu saja karena Sukaesih. Keduanya ingin menjadikan perempuan sakti itu sebagai istri. Tetapi, Pak Lurahlah yang berhasil menanam benih di rahimnya karena ia memiliki ajian yang setara.

Sebenarnya, dendam Pak Lurah tumbuh karena Sukeasih telah mengutuk Sumindan. Dan, untuk menghabisi akar kesaktian Sukaesih, haruslah ditumpas hingga ke akarnya dengan cara membakarnya. Tetapi sial, bayi itu telah lahir, Tonggo dan Darso tidak mengtehuinya, yang rupanya merupakan alasan Sukaesih pasrah diarak ke kampung. Ia hanya ingin bayinya itu selamat dari Tonggo dan Darso yang tahu apa-apa.

Satu-satunya alasan Sukaesih meminta Supardi membuat ukiran di sebilah kayu itu karena ia ingin rohnya tetap hidup untuk mencari bayinya. Bayi itu sendiri dicuri oleh Pak Lurah. Mau tidak mau, bayi itu telah mewarisi kesaktian ibunya, itulah yang dipikirkan Pak Lurah, tak tega juga menghabisi nyawanya karena dialah sendiri adalah bapaknya. Bayi itu kemudian dititipkan pada Eyang Darso di desa Taraju agar si bayi dipasangi ajian berupa pergelangan putih serupa panu di kedua pangkal pahanya. Tetapi sialnya lagi, desa itu telah diserbuh kumpeni akibat ulah Supardi sebagaimana yang dituduhkan Pak Lurah kepadanya. Eyang Darso turut tewas dalam peristiwa itu. Tak tahulah rimba bayi itu.

Masih dalam situasi konflik, Pak Lurah kemudian tewas mengenaskan di tiang balai desa. Angin kencang yang memporandakan kampung dan menerbangkan beberapa bilah kayu yang menacap di jantungnya. Di situasi itulah, Ismed dan Selasih dipinta untuk pulang ke arah dari mana ia datang.

Dalam perjalanannya itu, Ismed kembali menangkap sosok Farida, ia terus mengejarnya yang membuat Selasih turut mengejarnya pula. Di tempat lain, Farida berusaha kabur dari incaran di manusia tikus. Di bibir jurang, kedua manusia beda wujud itu saling mempertahankan hidup. Sebelum kemudian leher manusia tikus terlilit rantai besi. Supardi yang menjelma orang tua akibat ajian rantai itulah yang melilitkannya. Ia marah karena melihat Farida sebagai Sukaesih , kekasih dambaannya. Di tengah pertarungan itu, Farida berhasil meloloskan diri. Melanjutkan perjuangannya meloloskan diri.

Saat itulah Ismed melihatnya, akhirnya, pasangan suami istri itu bertemu di dunia yang tak mereka pahami. Semuanya belum berakhir, Supardi yang telah menjelma sosok orang tua terus mengusiknya, ia menginginkan Ismed agar merelakan Sukaesih, maksudnya Farida ke tangannya. Jelas itu ditolak, kaburlah dua orang itu memasuki hutan terlarang dan Supardi terus mengejarnya.

Di dalam hutan yang pekat, Farida terjatuh karena kakinya terantuk sesuatu yang kemudian disadarinya daun pintu. Dari sanalah mereka datang, ia berusaha menarik tetapi nihil. Pilihannya, pintu itu dihantam kapak hingga hancur. Dan, kembalilah dua manusia itu ke dunianya. Ibunya masih di sana, duduk termangu di sofa. Ia heran melihat Ismed dan Farida keluar dari lemari itu. “Astaga, Ismed! Dari mana saja kau dengan istrimu? Dari tadi aku menanti. Dan…” ucapnya sebelum pingsan.

Ke esokannya, ketika siang datang, ibunya baru mengutarakan sesuatu. Rasanya ia telah melihat dara di lantai tepat di depan lemari itu. Ismed mencoba meyakinkan kalau itu hanyalah mimpi sebagai ia juga mengalaminya. Ibunya heran, sebab untuk bermimpi saja kalian perlu sembunyi di dalam lemari. Bagi Ismed itu hanya sebentar, tetapi yang dirasakan ibunya sekitar dua jam. Ibunya lalu menimpali: “Eh, Ismed bercumbu di dalam lemari sempit selama satu menit saja, pasti sudah membuat aku pingsan kehabisan nafas. Heran, kalian bisa tahan sampai hampir dua jam.”

Seminggu kemudian, Ismed dan Farida berlibur ke pantai. Karena masih sangat pagi, keduanya berenang. Saat Farida rebahan di pantai dengan pakaian dalam saja. Ismed melihat sesuatu di pergelangangan kedua paha istrinya. Garis putih melingkar serupa panu.

*** 
Pangkep-Makassar, 23 Juni 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…