Skip to main content

Dari Pintu Belakang





Ketika kecil, saya tidak tahu dari mana Emak selalu mendapatkan bahan sayur. Padahal, ia tidak setiap hari ke pasar. Di belakang rumah pun tidak ada kebun. Tetapi, hidangan makan siang hingga malam selalu saja tersedia kuah sayur sebagai pelengkap menyantap nasi. Di keluarga Bugis, sayur menjadi penting. Ikan boleh saja tidak tersaji asalkan sayur tersedia. Itulah sebabnya, air putih terkadang menjadi pilihan membasahi nasi bila sayur alpa.

Di masa kecil itu, kadang saya mengajukan tanya ke Emak perihal sayur yang selalu saja ada. Bahkan lebih dari satu macam. Ada keheranan yang perlu terjawab. Sebab, selain tidak setiap hari ke pasar, bahkan tidak ada periuk bekas memasak sayur.

Perlahan, muasal keberadaan sayur itu terungkap. Sewaktu kecil, waktu bermain memang lebih banyak ketimbang memperhatikan aktivitas Emak di dapur. Rupanya, dapur yang menempati ruang belakang tak sekadar untuk memasak. Ada hal lain yang terbangun di sana. Sering kutemukan tetangga datang membagi sayur ke Emak. Entah itu berupa bahan mentah ataukah sudah jadi.

Jan Newberry, melalui penelitiannya yang telah dibukukan ke dalam Back Door Java: Negara, Rumah Tangga, dan Kampung di Keluarga Jawa, menyebutkan bahwa arsitektur rumah tidak sekadar untuk pemiliknya saja, ada ruang berbagi untuk melangsungkan interaksi sosial, ia menyebutnya dengan istilah rumah-tangga, yang bermakna gerakan ekonomi keluarga untuk membedakannya dengan geliat ekonomi formal melalui pekerjaan. Dan, di pintu belakang rumahlah itu terjadi.

Sebagian besar rumah panggung orang Bugis memang dilengkapi dua pintu, satu di depan dan di belakang yang masing-masing dilengkapi tangga. Seluruh transaksi menyangkut keperluan dapur antar tetangga berlangsung melalui pintu belakang. Juga berlaku bilamana ada rahasia yang perlu disampaikan. Hal ini membedakan dengan fungsi tangga bagian depan yang diperuntukkan untuk hal yang sifatnya formal. Seumpama, menyambut tamu dari jauh.

Itulah ada ungkapan, jika urusan dapur adalah hal penting untuk dijaga kerahasiaannya dan tak perlu disebarluaskan. Perlu dipahami bila kaum perempuan (Emak) sangat menjaga identitas sebuah keluarga. Tukar menukar sayur merupakan salah satu bentuk mengimbangi kelemahan ekonomi yang dihadapi. Sindikasi itu terbangun alamiah dari bentuk soliditas kaum perempuan.

Bertahun-tahun, dapur menjadi urusan privat dalam sebuah rumah tangga. Dalam struktur rumah panggung suku Bugis, sudah ada pemilah. Di mulai pada ruang paling depan (lego-lego), ruang tengah, (ale bola) yang dibagi menjadi ruang tamu dan kamar tidur yang dipisahkan dinding. Kemudian di ruang belakang, dapur (dapureng) diperuntukkan mengolah rahasia.

Di masa kolonial, orang Barat mulai melirik dapur ketika terjadi migrasi perempuan dari Eropa ke Hindia Belanda. Andreas Maryoto (2014) mengutip N van  Berkum, dalam bukunya, De Hollandsche Tafel Hollandsche Tafel, terbit di tahun 1900. Menuliskan bila  dapur kaum pribumi sebagai ruang pengap tanpa ventilasi dan menjadi tumbuh suburnya penyakit. Alasan kesehatan inilah yang diajukan sebagai persiapan menyambut kedatangan perempuan Eropa yang berdampak pada tata kelola keberadaan dapur.

Lambat laun, keberadaan perempuan itu turut mempengaruhi kuliner di Hindia Belanda. Mulai dari penyusunan resep makanan hingga bagaimana mengelola dapur yang sehat. Di sisi lain, kaum pribumi yang telah mengenyam pendidikan dan berpredikat dokter kemudian menjadi pionir dalam mensosialisasikan identitas dapur baru tersebut. Indikasinya, alat dapur tersusun rapi, lantai kering, dan tentunya terdapat lubang cahaya.

Meski konteks dapur yang dibahasakan di atas lebih dekat dengan situasi masyarakat Jawa di masa lalu. Namun, modernisme bergerak tidaklah sektoral semata, semua wilayah disapuh bersih. Di kekinian muncul istilah “dapur bersih” dan “dapur kotor”.  Jika ditilik, istilah ini muncul akibat tumbuhnya perumahan di dekade 1980-an.

Memanfaatkan ruang sempit dalam arsitektur perumahan modern. Dapur kotor dialamatkan pada banyaknya aktivitas yang berlangsung. Memasak dalam jumlah banyak dan alat dapur tergeletak tak karuan. Sebaliknya, dapur bersih merupakan area kecil yang sekadar memanaskan masakan atau cukup untuk menjerang air, itu pun termasuk menambah aktivitas sebab sudah ada dispenser sebagai pelengkap dapur bersih yang dimaksud.

Perkembangan mutahkhir tentu saja membuat dapur tak lagi berada di ruang belakang, melainkan berpindah di ruang tengah kalaupun masih ada menempatkannya di belakang. Dapur bukan lagi ruang privat tetapi sebagai ajang menonjolkan keindahan dan kebersihan. Nyaris tak ada bekas aktivitas memasak.

Di bagian belakang perumahan kadang tidak dilengkapi pintu sebagai penghubung antar tetangga. Sehingga menutup obrolan dan pertukaran masakan, semuanya dilakukan dengan alasan keamanan dan privasi. Kota yang ditumbuhi rumah modern (perumahan). Praktis, salah satu fungsi pintu belakang (dapur) itu hilang dan menutup kisah heroik (rahasia) kaum perempuan (ibu) yang menstabilkan kegetiran ekonomi keluarga sebagaimana selama ini berlangsung.

***
Pangkep-Makassar, 3 Mei 2014 
Dimuat di Tribun Timur Edisi 17 Juni 20114

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap