Skip to main content

Beberapa Penggalan




Bukan Neymar atau Olic yang mencatatkan namanya selaku pencetak gol pertama di pertandingan perdana grup A antara Brazil kontra Kroasia. Sial bagi Marcelo, justru namanyalah yang diingat publik setelah gagal mengantisipasi sepakan Nikica Jelavic yang menyambut umpan eks bomber Bayern Munchen sehingga Julio Cesar memungut bola dari gawangnya.

Bek kiri berambut keriwil itu pun ciut, untunglah Brazil mampu meraih kemenangan di laga pembuka itu setelah Neymar menyarankan dua gol yang dilengkapi Oscar guna memastikan kemenangan 3-1.

Ajang pembuka merupakan etalase bagi publik mengingat yang pertama, karena itulah yang menjadi penanda bagi tuan rumah yang selalu dijadwalkan melakoni laga perdana. Tak hanya kemenangan, di dalamnya juga tercatat beberapa data menyangkut jalannya pertandingan. Dan, kartu kuning pertama disematkan di pundak striker muda tuan rumah, Neymar, yang kemudian ditetapkan juga pemain terbaik di laga itu.

Selaku tuan rumah, Brazil penuh luka, ada aksi massa yang meneriakkan borok pemerintah hinga penolakan pagelaran akbar sepak bola di muka bumi itu di negeri mereka. Tetapi, bersamaan dengan itu, masyarakat Brazil sepertinya tetap menyimpan impian agar gelar ke enam dapat direngkuh. Berkecamuklah desakan itu di kepala skuat timnas mereka.

Semakin mendebar, serapah sedikit lagi sempurna, Brazil tak kuasa memenangkan laga di pertandingan keduanya meghadapi Meksiko. Asumsi sesat bertebaran bahwa Meksiko berhasil menahan agresifitas pasukan Felipe Scolari. Ada yang terlupa, tim berjuluk El Tree pernah mengalahkannya di final Olimpiade tahun 2012. Jadi, penyematan “berhasil” kepada Meksiko saya pikir tidak tepat. Seolah Brazil tim superior yang tak bisa dikalahkan. Mestinya, ada keadilan persepsi atas kedua tim untuk menghilangkan dasar yang menggurui. Bagi saya, Meksiko tidak berhasil menahan imbang tuan rumah karena tujuan utama setiap tim ialah memenangkan pertandingan, bukan menahan.

Namun, Brazil bukannya tanpa peluang. Meski Kroasia menang atas Kamerun, secara statistik Brazil masihlah lebih unggul jumlah gol dibanding Meksiko. Bila di pertandingan terakhir, walau Brazil meraih hasil imbang melawan Kamerun dan Meksiko juga memperoleh poin yang sama. Kedua negara Amerika Latin itulah yang melaju ke babak 16 besar. Begitupun bila Kroasia menaklukkan Meksiko. Tetapi, intinya, Tim Samba haruslah menang sebagai bukti kalau mereka siap di tengah teriakan aksi massa.

Beralih ke grup B, guru dan murid kembali bersua, total footbaal berhadapan tiki-taka. Ketika Brazil mempencundangi Spanyol di final piala Konfederasi tahun 2013 dengan skor telak 3-0, Budyarto Sambazi, wartawan senior Kompas menulis, tiki-taka bukan lagi teka-teki. Dan, di Salvador, sang murid harus berkhidmat kembali pada sang guru setelah empat tahun lalu menolak tunduk.

Mitos itu ampuh, menambah daftar gagalnya juara bertahan ke fase berikutnya. tim Matador harus merelakan Chili mendampingi Tim Oranye melaju.

Di grup yang dihuni masing-masing perwakilan benua. Pantai Gading (Afrika), Yunani (Eropa), Kolombia (Amerika), dan Jepang (Asia). Tanpa Radamel Falcao, Kolombia telah membenamkan juara Eropa tahun 2004 dengan skor cukup meyakinkan, tiga gol tanpa balas. Dan, tuah Drogba menegaskan bila si Gajah, julukan tim Pantai Gading telah mematahkan sebilah samurai. Jepang takluk 2-1 atas kegesitan Salomon Kalau dan Gervinho.

Grup D, salah satu neraka selain grup G. Faktanya, Kosta Rika bukanlah pelengkap belaka. Juara dunia dua kali hanya melesakkan sebiji gol dari titik putih yang dituntaskan Edinson Cavani. Kekalahan itu saya kira bukanlah karena Luiz Suares alpa, Kosta Rika memang tidak menyerah apalagi bersembunyi di balik bayang nama besar Diego Forlan. Tiga poin pantas direngkuh.

Dua raksasa Eropa, sepakatilah demikian untuk menyebut Inggris dan Italia. Keduanya masih diperkuat dua legenda hidup, Stevan Gerrard di tubuh Tiga Singa dan Andrea Pirlo di Azzuri. Selebihnya adalah pembuktian pemain muda yang dimenangkan pengusung cattenacio, sekali lagi.

Juara dunia tahun 1998, Prancis, menjelang keberangkatannya perlu melupakan seorang punggawanya, Frank Ribery yang mencuat di final tahun 2006. Tahun di mana Zidane gantung sepatu dan ditasbihkanlah sayap kiri itu sebagai nyawa baru tia Ayam Jantan.

Menghadapi tim yang pernah merajai Eropa dan dunia di dekade 50 hingga 60-an walau tanpa gelar, Honduras. Anak asuh Didier Deschamps menjauh dengan dua gol Kariem Benzema plus satu gol bunuh diri kiper lawan yang juga berkat sepakan pemain Real Madrid itu.

Pertanyaan yang tersisa, mengapa teknologi garis gawang keliru melampirkan informasi awal mengenai sahnya gol itu. Sebelumnya sang pengadil menampiknya sebelum info telat tiba di jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jelas meninggalkan kekecawaan bagi Honduras. Rupanya, blunder tak hanya berlaku bagi pemain, perangkat pendukung pun melakukan hal yang sama.

Pertandingan lainnya, Swiss menekuk Ekuador 2-1, dua tim ini saya kira tak bisa diremehkan. Keduanya memiliki peluang. Swiss, misalnya, walau terbilang underdog, jalannya meraih tiket ke Brazil lumayan fantastis, begitupun dengan Ekuador yang menyisihkan Paraguay.

Tibalah pada tim Tango, diperkuat pemain terbaik dunia empat kali beruntun, Lionel Messi menunjukkan kelasnya, sepakan tendangan bebasnya menjadi nasib buruk bagi bek Bosnia, Sead Kolasinac yang menipu rekannya sendiri di bawah mistar gawang. Tetapi, Bosnia tidaklah menyerah, satu gol adalah buktinya menjebol gawang juara dunia dua kali itu. Dan Messi, membuyarkan segalanya dengan ciri khasnya menaklukkan lawan. Menggiring bola dengan melewati beberapa pemain sebelum menipu kiper. Sayangnya, Argentina terlihat santai dan sepertinya ogah menambah pundi gol.

Sejak Arab Saudi tak lagi menjadi langganan piala dunia, Iran tampil menggantikan kehadirannya dengan bermain imbang melawan Elang Super, julukan Nigeria. Tercatat, itulah pertandingan pertama yang berakhir imbang.

Perjumpaan Jerman dengan Portugal, inilah yang dinanti selain Belanda versus Spanyol di babak penyisihan. Perlu diingat, Portugal bukanlah era emas di tahun 2004, di mana semua lini diisi pemain bintang, sebutlah Luis Figo, Rui Costa, Nuno Gomes, atau Fernando Couto. Dalam biduk yang ditukangi Paulo Bento itu, praktis, hanya Cristiano Ronaldo yang mencolok selain Luis Nani. Sedangkan Jerman, bisa disebut antitesisnya, dari kiper hingga ujung tombak, semuanya adalah jaminan.

Dan, benarlah adanya, Thomas Mueller menjadi mimpi buruk. Namanya teringat pencetak tiga gol pertama di turnamen sepak bola terakbar tahun 2014. Lalu apa yang diperbuat CR7, pemain terbaik dunia tahun 2013 itu hanya sedikit berlari, permainan atraktifnya tak terlihat. Dia gagal menipu Jerome Boateng yang setia mengawalnya.

Jelas ini bukan laga Real Madrid kontra Bayern Munchen yang membuat Philip Lham meradang karena gagal menghentikan serbuan pasukan Los Blancos di perempat final piala Champion. Selanjutnya, tim Afrika yang mengundang decak kagum di piala dunia tahun 2010, Ghana, ditaklukkan USA usai dikejutkan gol cepat Clint Dempsey di detik 29. Tim asuhan eks punggawa Jerman itu, Jurgen Klinsmann, yakin dengan kemampuannya anak asuhnya bila menghadapi negaranya sendiri di pertandingan terakhirnya di fase grup.

Belgia, adalah tim yang digemborkan sebagai tim generasi emas. Infrastruktur pemainnya merata di setiap lini. Mirip dengan Brazil di tahun 2002, jika bisa disebut demikian. Mitos itu hampir saja sirna jika saja imbang apalagi takluk di tim yang jarang diberitakan, Aljazair. Kemenangan 2-1 masih bisa digunakan untuk meyakini penyematan golden boys.

Negeri yang pernah dikomandoi salah satu bapak revolusi dunia, Lenin, di pertandingan perdananya perlu membagi angka dengan Korea Selatan, dua negara beda paham politik ini saling berjibaku. Layaknya di medan politik, saling menebar pengaruh guna mempertahankan antara kiri dan kanan. Tetapi, ini sepak bola. Walau begitu, tetap saja menarik siapa yang bakal takluk di fase grup.

Piala dunia Brazil 2014, dimeriahkan dua riak yang berbeda, satu menyemangati tim, satunya lagi meneriaki pemerintah. Semuanya lebur dalam gaduh. Menarik mengikutinya hingga tuntas. Apakah lahir juara baru ataukah Brazil sejenak membungkam teriakan aksi massa yang kecewa denga pemerintahannya sendiri.

***
Pangkep-Makassar, 19 Juni 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap