Skip to main content

Anak dan Terkadang Perilaku Kita



Membaca Teras Terlarang karya Fatimah Mernissi, serasa ada dunia yang berbeda antara dunia lelaki dan perempuan, penulis asal Maroko ini sedang menceritakan masa kecilnya. Ia menjumpai perbedaan yang bukan hanya antara lelaki dan perempuan, melainkan pada perempuan itu sendiri, yang telah dewasa dan masih anak-anak.

Dalam bukunya itu, menceritakan seluruh situasi hidup masa kecil dalam lingkungan keluarga besarnya. Mengabarkan hal tabu yang dialamatkan pada kaum perempuan jika melanggar aturan yang telah ditetapkan, termasuk mendengarkan saluran radio.

Sebuah aturan bermotif menakuti, memanglah biang keladi mengkerdilkan imajinasi yang kemudian membekas menjadi sekat yang terus terpelihara sebagai bentuk penghentian keinginan sang anak. Sederhananya seperti ini: Bila anak menginginkan sesuatu tetapi orang tua melarangnya, biasanya sang anak akan menangis, saat itulah orang tua memberikan semacam petuah dengan menunjuk si ini atau si itu akan marah bila terus-terusan menangis.

Akhirnya, anak bisa saja mendadak berhenti merengek. Namun, “mendidik” anak dengan menakuti akan berdampak pada rapuhnya mental di sepanjang perjalanan hidupnya. Beranjak dewasa, misalnya, kenangan masa lalu itu akan teringat, lalu dalam pikirannya menyimpulkan kalau hal-hal yang dulu disebutkan oleh orang tuanya ternyata hanya fiktif belaka.

Bersamaan dengan itu kepercayaannya memudar dan bisa saja berujung pada sikap perlawanan ke orangtuanya. Ini menyiratkan bila menakuti dengan cerita fiktif yang tidak berdasar hanyalah sebuah bom waktu yang akan meledak bila batas waktunya telah habis.

Fasenya, anak akan tumbuh menjadi dewasa. Di sinilah titik balik terjadi, filsuf, Murtadha Muthahhari, dalam bukunya, Fitrah. Menegaskan bila ada keyakinan primer yang dibekali setiap manusia, ini yang tak bisa diganggu gugat, lambat laun, keyakinan itu (fitrah) akan menguat guna menggugat pertentangan yang tidak sesuai tata logika. Berfikir rasional adalah salah satu fitrah yang dimaksudkan.

Bekal di fase dewasa tentulah berutang pada pengalaman di fase sebelumnya, dunia anak. Bila yang terpupuk adalah krisis kepercayaan, buntutnya melahirkan pemberontakan. Fatimah Mernissi ketika telah dewasa menyadari kalau aturan di masa kecilnya sesungguhnya tidak rasional. Anak terkadang diposisikan sebagai manusia yang tak bisa diajak berfikir, karena itu tidak mengapa ditakuti saja.

Menakuti sesungguhnya merupakan pelarian tanggung jawab dari mereka yang disebut dewasa itu. Ada kewalahan menyelami dunia anak yang di otaknya penuh tanya tak biasa, Jostein Gardeer, penulis novel Dunia Sophie asal Norwegia, memperkenalkan Sophie Amundsend, anak berusia 14 tahun yang menjelajah dunia filsafat. Artinya, bila anak mengajukan tanya yang tak biasa, itu kewajaran yang perlu disikapi secara filosofis.

Dunia anak sungguh seksi dalam artian penuh gejolak hidup yang masih harus diterka dan dibedah sebelum menentukan suatu kesimpulan akhir. Dunianya penuh dengan ribuan pertanyaan yang mentah dan selalu ingin tahu tentang segala hal, baik itu yang positif maupun yang negatif dalam pemaknaan orang dewasa. Itulah fase di mana manusia mencari karakter diri dari penggalian fitrah kemanusiaan.

Benar, anak ingin kebebasan tetapi bukan bebas tanpa tujuan yang jelas atau merdeka menjalani hidup tanpa larangan yang tidak berdasar, dan anak ingin bersekolah tanpa harus menjadi robot yang penurut di ruang kelas.

“Anakmu bukanlah anakmu, engkau hanya busur baginya,” tulis penyair kelahiran Lebanon, Kahlil Gibran dalam Sang Nabi, karya masterpicenya. Tetapi, lepas begitu sajakah orang tua pada anaknya, saya kira tidak. Orang tua tetap punya peran dalam melepaskan anak panah melalui busur itu, paling tidak sekencang dan selemah bagaimana ia menariknya guna memastikan sang anak (anak panah) melesat menghampiri sasarannya. Dalam proses itu, tentulah ada persinggungan, dialog, dan juga doa.

Jika memang demikian, anak butuh ruang di mana mereka tidak perlu lagi memelihara ketakutan sebagai bekal di perjalanan hidupnya. Anak itu bertanya layaknya seorang filsuf, tegas Jostein Gardeer. Jadi, jangan risau dengan itu, yang dibutuhkan kesiapan meladeni dengan jawaban memupuk keigintahuannya.

Dorothy Law Nolte, penulis kelahiran Amerika, menggubah sajak yang menerangkan ihwal anak dalam menapaki pertumbuhannya. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki, tegasnya. Resonansi pikiran kita dengan mudah menemukan realitasnya, sudah sekian banyak kasus perkelahian anak antar sekolah yang singgah di pelupuk mata. Tetapi, Jika anak dibesarkan dengan toleransi dan penerimaan, maka ia belajar menahan diri dan mencintai. Sewajibnya memang, pendidikan anak merupakan ruang bagi pemanusiaan manusia dalam mengenal realitas kehidupan.

***
Pangkep-Makassar, 3 Mei 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…