Skip to main content

Lelaki Tua dalam Kotak dan Perbincangan Pembecak






Mbah Maridjan

Di siang yang terik, beberapa pembecak memilih berkumpul di sebuah warung pinggir jalan. Melepas capek dengan mengepulkan asap rokok, meneguk kopi pekat, ada juga yang bermain kartu domino. Selebihnya merebahkan badan di bale bambu.

Televisi 14 inchi milik empuhnya warung berbicara sendiri, tidak ada pasang mata yang benar-benar terpaku menatapnya. Hanya dilirik sekenanya saja. Mungkin karena resolusi gambar yang ditawarkan kotak bergambar itu lebih mirip dengan kerumunan semut. Kira-kira tepat bila dikatakan, ada suara tidak ada gambar.

“Roso!” Pekikan suara dari televisi itu sontak mengalihkan suasana di dalam warung. Seorang pembecak berteriak mengulanag kata itu, “Rosoooo! Dobel empat mati!” Rupanya, ia mengunci jalannya kartu.

Suasana gaduh, pembecak yang tidur-tiduran tertarik untuk menyaksikan permainan kartu. Kotak yang kesemutan masih saja berbicara tanpa gambar, pemilik warung memutar-mutar tiang antena guna memperjelas gambar. Namun hasilnya tetap sama.

“Giliran  Dg Rasa diganti,” ujar seorang pembecak.

“Begitulah, silakan saja,” balasnya.

Pembecak yang terbangun kembali membaringkan badannya, begitupun dengan pembecak yang asik bermain kartu. Fokus pada strategi yang akan dijalankan, jika tak ingin berdiri seperti yang dialami Dg Nai.

Di sudut lain, Dg Rasa bertingkah layaknya tukang servis andal. Bermodal obeng, ia membuka penutup chasing belakang televisi, memeriksa kabel-kabel sambil bergumam. Tidak ada yang memerhatikannya hingga kotak pintar itu kembali bersuara dengan kerumunan semut yang sudah berkurang. Gambar yang muncul sudah bisa dipandang dengan jelas, tetapi kali ini, sesekali muncul garis horisontal.

“Roso!” Suara itu kembali terdengar, pembecak yang tidur-tiduran kembali terbangun. Tetapi permainan kartu masih berlangsung, belum ada yang menyelesaikan. Pembecak itu mengalihkan pandangannya ke televisi. Ia lalu berujar: “Dg Rasa memang pintar.  Lihatlah, kita sudah bisa menonton lagi.” Dg Rasa tidak menyahut, ia hanya duduk melipat kedua tanggan di dadanya.

“Roso!” Suara itu kembali menggema.

“Memangnya Mba Maridjan masih hidup,” kata seorang pembecak.

“Saya kira sudah lama wafat,” balas yang lain.

“Lalu, mengapa masih muncul di televisi,”

“Itu hanya  iklan, Dg.Turi!”

“Domiiiii!!”

“Rosooo!”


Semua tertawa.

“Kenapa, apa yang terjadi!” Sahut Dg Tawang yang sontak bangkit dari tidurnya mendengar gaduh kawannya bermain kartu.

“Kalu mauh tahu, Mbah Maridjan itu memang sudah wafat. Tetapi, ia sudah menjadi artis, jadi muncuk kembali di televisi,” Dg Tawang menjelaskan.

Suasana bisu, Dg Rasa masih duduk melipat kedua tangannya. Sebagian pembecak meneguk habis kopinya lalu berlalu mencari penumpang.

“Roso!” Kotak 14 inchi itu kembali mengeluarkan suara. Perlahan kerumunan semut mulai berdatangan menutupi gambar.

Melihat itu, Dg Rasa memilih tidur di bale bambu.

***


Makassar, 13 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap