Skip to main content

Catatan dari Sahabat






WS Rendra

Sejak Januari hingga Juli 2009, Saya tidak membeli majalah Horison. Di sepanjang hari-hari itu, rasanya tidak ada kesempatan ke Gramedia di kota Makassar yang merupakan satu-satunya tempat untuk menemukan majalah sastra paling purba yang masih bertahan.

Hingga Juli bergeser ke Agustus, Rasa untuk menggenggam Horison tak lagi bisa kutahan. Bukan karena lama tak menjumpanya, melainkan ada sesuatu yang saya cari di sana, dan itu sangat penting.

Di suatu pagi minggu kedua Agustus, saya membalap sepeda motor ke Makasar. Sesampai di Gramedia, kedua bola mataku langsung tertuju ke rak majalah. Eureka! Saya beruntung, majalah Horison masih ada. Segera saja saya membawanya ke kasir melunasinya.

Halaman pertama hingga lembaran ketiga puluh delapan kubolak-balik. Tetapi yang kucari belum juga kujumpai. Ah! Rupanya, belum dimuat.

Saya harus menunggu edisi September lagi.

30 hari kurasakan berjalan lambat, sungguh tak sabar ingin menghirup udara September. Bulan yang konon penuh dengan keceriaan sebagaimana salah satu tembang mengabadikannya. Oh, September lekaslah tiba.

Minggu pertama, saya tidak langsung bergegas ke Makassar. Kutahan lagi keminggu kedua, pengalaman mengingatkan kalau majalah Horison selalu telat beredar di Makassar. Kupasang strategi agar tidak kecele, lagi pula, saya masih menerka kalau yang kucari itu apakah akan dimuat atau belum.

Dan di akhir minggu kedua, Saya kembali membalap sepeda motor ke kota Daeng, tujuan utama langsung ke Gramedia lalu bertolak ke Warkop sebagai tempat untuk melahap majalah itu.

Sesampai di Gramedia, kedua bola mataku langsung tertuju ke rak majalah. Eureka! Saya beruntung, majalah Horison sudah terpajang. Segera saja saya membawanya ke kasir. Majalah kumasukkan ke tas dan bersiul mendendangkan tembang September Ceria meninggalkan toko buku terlengkap itu.

Tujuan berikutnya, tentu saja ke Warkop. Memesan kopi dan mengepulkan asap rokok sembari menikmati susunan kata di setiap lembar majalah.

Halaman pertama hingga lembaran ketiga puluh delapan kubolak-balik. Tetapi yang kucari belum juga kujumpai. Ah! Rupanya, belum dimuat. Majalah kumasukkan ke dalam tas, rokok kujojol ke asbak hingga patah, kopi kuteguk habis meski masih panas. Dan, menuju kasir lalu berlalu.

Ah! Saya harus menunggu edisi Oktoberr lagi.

31 hari kurasakan berjalan lambat, sungguh tak sabar ingin menghirup udara Oktober. Bulan yang tak pernah direkam ke dalam sebuah tembang, kalaupun ada, saya tidak ingin mendengarnya.

Tanggal terakhir di minggu ketiga Oktober, saya belum merencanakan berburu majalah itu. Saya tidak mau kecele lagi, apa yang saya cari kualihkan ke media lain. Saya mengunjungi beberapa website guna mencari catatan orang terdekatmu, Tuan Rendra! Tadinya, saya berharap edisi September majalah Horison memuat reportoar perihal kiprahmu. Karena kupikir, Tuan mangkat di bulan Agustus, jadi cukuplah kiranya bagi redaksi majalah itu menyiapkan liputan seputar kematianmu. Apalagi Taufik Ismail, sahabatmu, merupakan redaktur senior di sana.

WS Rendra yang Terhormat.

Dengan mata kepala sendiri, saya hanya sekali melihat Tuan tampil membaca puisi. Kala itu tahun 2002 di Auditorium Baruga Pettarani Unhas, saya izin sakit di sekolah guna meyamar menjadi seorang mahasiswa agar bisa masuk ke gedung dengan gratis. Saya lupa judul puisi yang Tuan bacakan ketika itu, yang kuingat dengan jelas, Tuan memakai Songkok Recca dan mengenakan kemeja putih.

Tuan Rendra! Majalah Horison edisi Oktober kudapatkan di bulan November. Saya tak perlu heran dengan lambatnya distribusi sebuah majalah sastra, karena saya pikir, sastra di negeri ini masihlah anak tiri kebudayaan. Tema ini tak cukup seksi bagi anak-anak zaman yang sedang tumbuh di era digital.

WS Rendra, sesuatu yang kucari itu akhirnya kudapatkan juga. Di lembaran catatan kebudayaan yang merupakan rubrik utama majalah Horison, Taufik Ismali menurunkan tulisan yang panjang. Tak ketinggalan pula Putu Wijaya, Ikranagara, dan Soni Farid Maulana menggoreskan kesannya. Bahkan kritikus sastra Maman S Mahayana turut ambil bagian mengisi rubrik khusus yang disiapkan majalah itu. Khusus mengenangmu si Burung Merak!

***
Pangkep, 11 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap