Skip to main content

Anak Muda dan Toleransi





Ahmad Wahib

11 Oktober lalu, tawuran di salah satu kampus di Makassar kembali terjadi dan menelan korban. Tentu saja ini sebuah gejala yang tak kunjung terpahami dengan kadar logika orang tua para mahasiswa. Bahkan seorang Profesor sekalipun.

Karena bagaimana mungkin itu bisa terjadi di sebuah dunia yang sewajarnya jauh dari laku brutal untuk menghilangkan nyawa anak manusia hanya karena sesuatu hal yang saya kira masih bisa diselesaikan dengan dialog, jika memang letak masalahnya ada pada kesalahpahaman.

Saudara Ahmad Wahib yang terhormat, di kekinian sulit kiranya menemukan pemuda yang melihat dunia sebagai rumah bersama yang perlu dirayakan. Tak di kampus, tak juga di kampung. Entah apa yang keliru dengan selayang pandang ini.

Bukankah sejak lahir, anak manusia sudah diwariskan agama dari orang tuanya masing-masing? Dan saya kira, tidak ada orang tua yang menganjurkan anak-anaknya untuk berbuat keji.

Tetapi lihatlah kini Ahmad Wahib! Kematian dengan mudahnya melayang, sepertinya ia diundang tanpa persetujuan malaikat. Kejadian tawuran yang saya kabarkan di atas hanyalah salah satu gejala dari ribuan peristiwa yang sudah singgah di pelupuk mata kita.

Hal yang mungkin tak kau bayangkan dewasa kini, kekerasan mengatasnamakan paham keagamaan nampaknya menjadi legal. Jika boleh saya menyebut insiden berdarah di Monas tahun 2008, tragedi Syiah di Madura Agustus lalu, dan pengusikan orang-orang Ahmadiyah di beberapa daerah di tanah air.

Saudara Ahmad Wahib, rasa-rasanya hidup di negeri ini kita tak mengenal lagi nilai toleransi.

Lalu, adakah semua ini karena tebalnya hijab yang menutupi mata batin kita selaku anak manusia? Ataukah ini takdir sejarah yang tak bisa lagi diubah! Jika demikian adanya, masihkah ada faedahnya mendengarkan khotbah di hari Jumat ini, dan Jumat-Jumat mendatang. Ah! Sejak kecil, hingga sekarang mimbar Jumatan selalu saja mendendangkan kehidupan di langit.

Saudara Ahmad Wahib yang Terhormat!

Tanggal 24 Oktober lalu,saya telah berkirim surat kepada Soe Hok Gie sebagai permulaan proyek penulisan 30 hari menulis surat ini. Saya pikir, ia adalah sosok pemuda yang juga mati muda sepertimu. Usianya masih 27 tahun kala ia menghembuskan nafas terakhirnya di puncak Semeru, kau pun demikian, usiamu masih 27 tahun saat pengendara menabrakmu. Dan tiba-tiba saja saya teringat, usia saya masih 27 tahun sebelum memasuki Desember tahun ini.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip catatan harianmu yang kau tulis saat usiamu menginjak 27 tahun:

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” (9 Oktober 1969).
*** 
Makassar, 23 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…