Skip to main content

Berlari Cara Di Maria dan Bale



Musim ini laga El Clasico berlangsung tiga kali. Dua di antaranya berlangsung di putaran La Liga yang kesemuanya dimenangkan Barcelona. Namun, di putaran final Copa del Rey di stadion Mestalla, markas klub Valencia milik El Real sekaligus trofi pertama di musim ini.

Di putaran piala Champion, kesempatan laga El Clasico bisa saja berlangsung andai Barcelona tidak disingkirkan Atletico Madrid dan di undian semifinal kedua raksasa Spanyol itu berjumpa dengan klub dari negara lain kemudian keduanya keluar sebagai pemenang. Tetapi, itu hanya andai. Tahun ini, Barcelona kemungkinan besar tanpa gelar.

Laga kali ini merupakan pembuktian Gareth Bale, pemain dengan nilai transfer tertinggi di kolong langit melampaui rekor kompatriotnya sendiri, Ronaldo. Sebelumnya, eks punggawa Totenham Hotspur ini hanya menjadi penonton di dua laga El Clasico. Tanpa kontribusi yang memadai dan tersembunyi di balik bayang Neymar, pemain anyar Catalan yang disebut-sebut sebagai pelengkap Messi guna menandingi duet Ronaldo-Bale.

Bale dan Neymar, adalah dua pemain pendatang baru di La Liga, keduanya seolah ditakdirkan berseteru dalam duel panas yang berlangsung sejak 13 Mei 1902. Pertemuan kedua klub ini ditengarai bukan sebatas pertandingan biasa, lebih dari, ada konflik lain yang turut membangunnya. Tersebutlah Francisco Franco, pemimpin Spanyol di dekade 1934. Di masanya, Catalan, sebuah provinsi beribukota Barcelona masih enggan bergabung ke Spanyol. Terjadilah pemberontakan karena Franco menempuh jalur refresif, melakukan intimidasi hingga melarang penggunaan bahasa Catalan.

Konflik itu berlanjut ke arena sepak bola, Franco jelas mendukung Real Madrid yang merupakan klub andalan ibu kota Spanyol. Sejak saat itulah, perseteruan abadi dimulai yang berlanjut hingga kini. Lihatlah, bagaimana kerasnya permainan ketika dua klub ini bersua. Ingat pula bagaimana perilaku pendukung Barcelona ketika Luis Figo, yang sebelumnya berkostum Barcelona menerima pinangan Real Madrid. Hal yang sama terjadi pada bintang Brasil kala itu, Ronaldo Luís Nazário de Lima. Bahkan sebelumnya terjadi di era Michael Laudrup di tahun 1994.

Kita selaku penikmat bola, tentu perlu menerangkan sebuah klarifikasi. Bahwa para pemain kedua tim bukanlah sepenuhnya pewaris sah sebuah konflik, apalagi itu dikaitkan dengan status kekerasan politik di era Franco. Bale dan Neymar, misalnya, keduanya berasal dari kutub yang sungguh berbeda. Eropa dan Amerika Latin. Keduanya datang sebagai pemain profesional guna membuktikan jalan hidup yang telah dititi. Menjadi pesepak bola adalah pilihan hidup untuk memberikan sebuah pembuktian sebelum uzur.

Tetapi, bila kita mengajukan satu alasan, yakni menyangkut nilai tukar. Maka, jika ukurannya hanyalah pembuktian karier. Lantas, mengapa kedua pemain itu meninggalkan klub sebelumnya. Perjalanan karier tentu masih memiliki alasannya. Namun, dorongannya lebih dari itu, berkostum klub yang telah memiliki sejarah panjang pastilah menjadi pertimbangan lain. Uang dan ambisi, adalah dua alasan yang bisa mengalahkan alasan kuno tadi (karier).

Andai Neymar tetap di Santos FC dan Bale masih merumput di daratan Inggris, boleh jadi nilai keduanya masih di level yang sama sebagaimana awal mereka berlari menggiring bola. Dan, lihatlah, bagaimana Bale dan Neymar terus berlari, mengumpan, serta menendang bola untuk gelar pertama di musim perdana mereka di klub barunya.

Untuk sementara lupakanlah dulu Messi dan Ronaldo, kedua pemain “pembunuh” ini telah memberikan bukti. Lagi pula, Ronaldo memang tidak tampil karena mengalami cedera, tinggallah Si Kutu, julukan Messi menjadi kontras di tengah deru Bale dan Angel Di Maria yang menjadi pahlawan pada laga kali ini.

Diakui, Barcelona setia bercinta tanpa klimaks, bek, gelandang, hingga penyerang saling berpadu menjelajah seluruh sudut lapangan dan membiarkan punggawa El Real hanya menonton sambil menjaga. Nyatanya memang, tim Catalan lupa memberikan sentuhan akhir, gol sundulan Marc Bartra di menit 68 cukup sebagai bukti, walau hal itu masih bisa dijadikan penguat kalau Barcelona tak hanya mengandalkan penyerang untuk membunuh lawan. Itulah filosofi pemberontak, senjata bukan hanya bedil.

Sayangnya, di atas lapangan bukan perjuangan meneggakkan diplomasi rakyat Catalan atas sosok tiran. Franco sudah lama berkalang tanah, dan Barcelona sejak dulu sudah resmi sebagai salah satu kota penting di Spanyol. Inilah derita bila mengangungkan masa lalu, Mohammed Arkoun, pemikir asal Perancis berdarah Aljazair memperkenalkan istilah fantasia history, keyakinan kejayaan masa lalu yang lupa diimbangi atau dipertahankan di masa sekarang.

Gol Di Maria di menit 11 dan Bale di menit 85, semuanya merupakan “kelicikan”, memanfaatkan kelengahan lawan yang terlalu lama menari. Begitulah cara Di Maria dan Bale, dengan berlari selaju citah (Acinonyx Jubatus), binatang pemburuh sebangsa kucing yang melakukan perburuhan mengandalkan kecepatan bukan dengan taktik mengendap layaknya harimau. Begitulah kedua pemain itu mempersembahkan trofi.

***
Pangkep-Makassar, 17 April 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…