Skip to main content

Neymar atau Freire




Di putaran final piala konfederasi tahun 2013, kesebelasan Brasil menundukkan juara piala dunia tahun 2010, Spanyol dengan skor telak 3-0. Dan, ditasbihkanlah Neymar da Silva Santos Junior selaku pemain terbaik di ajang itu yang menandai kebintangannya.  

Dialah pemain muda Brasil yang dilengkapi kemampuan menggiring bola di atas rata-rata, seolah tak membutuhkan pemain lain guna membantunya melesakkan gol. Tentunya, ia bukanlah yang pertama. Sebelumnya ada Rivaldo, Ronaldo, dan Ronaldinho. Ketiganya menjadi bagian tim yang mengantar Brasil menjuarai piala dunia tahun 2002. Inilah tantangannya, Neymar dan punggawa tim yang lain digadang untuk bertindak sama di perhelatan piala dunia di negara mereka sendiri.

Tetapi, sepertinya warga Brasil yang dikenal dunia sebagai pecinta sepak bola dan bahkan sudah menganggapnya sebagai agama kedua harus menghadapi dilema. Aksi protes yang terjadi kota Sao Paulo pada Minggu 26 Januari lalu, bukanlah protes pertama yang disuarakan warga menolak pagelaran piala dunia. Di tahun 2013 pun, ketika Brasil menjuarai piala konfederasi, juga tak menyurutkan protes warga menolak perhelatannya.

Ini ada apa, disaat negara lain merindukan tim nasional mereka merengkuh juara atau bahkan berlomba untuk menjadi tuan rumah. Warga Brasil malah tak merindukannya lagi. Apakah sudah bosan dengan pengakuan itu, mengingat negara inilah yang paling banyak mencatatkan namanya selaku juara dunia.

“Ayo bangkit warga Brasil. Seorang guru jauh lebih berharga ketimbang Neymar!” ucapan ini merupakan salah satu dari sekian banyak protes yang diteriakkan warga di jalan kota. Rupanya, kesadaran kaum urban di Brasil menyatakan kalau perbaikan sarana pendidikan, kesehatan, dan transportasi publik jauh lebih bermartabat daripada menggelontorkan jutaan dollar untuk piala dunia.

Kita terhenyak, akankah piala dunia akan ditunda ataukah FIFA akan mencari negara lain yang siap menggantikan Brasil. Belum ada keputusan untuk hal itu. Aksi protes kedua ini hanya memaksa Dilma Roussef, sang presiden mengajukan referendum reformasi politik dan sebuah janji untuk menganggarkan 25 milliar pound guna membenahi transformasi publik (Kompas, 28/1).

Di tahun 2013, Produk Domestik Bruto (PDB) Brasil tergolong buruk di antara negara yang tergabung dalam G20, hal ini diakui Guido Mantega, menteri keuangan. Padahal, negara ini disebut sebagai salah satu negara dengan pencapaian ekonomi yang terbilang mapan. Adalah ekonom, Goldman Sachs dan Jim O’ Neil, yang mengajukan ramalan bila ada empat negara yang akan mengalahkan kemajuan ekonomi negara maju yang tergabung dalam G8. Ekonom inilah yang mencetuskan lahirnnya BRIC di tahun 2001 (Brasil, Rusia, India, China). Belakangan, China mengajak Afrika Selatan. Resmilah menjadi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, South Africa).  Sebagai gabungan yang akan menguasai perdagangan global sebesar 61% dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi global di tahun 2014.

Namun, entah apa yang keliru, sehingga Brasil mengalami kegetiran ekonomi di tahun 2013. Hal ini sebenarnya masih bisa dipertanyakan ulang jika memang demikian adanya. Sebab Brasil ngotot membangun stadion dan sarana pendukung yang lain guna menyambut piala dunia. Dari mana dana sebanyak itu. Adakah itu merupakan pinjaman dari IMF atau Bank Dunia. Entahlah, tetapi yang pasti. Protes warga Brasil menunjukkan adanya ketidakberesan yang yang ditempuh pemerintah mereka.

Bersolek untuk piala dunia ataukah mengurusi layanan pendidikan, kesehatan, dan transportasi publik. Itulah pilihannya. Dan, warga telah menegaskan pilihan. Saat ini, piala dunia bukanlah esensi tetapi sekadar sensasi.

Saya jadi teringat Paulo Freire, seorang pendidik yang lahir di kota Recife. Rivaldo, legenda sepak bola Brasil juga lahir di kota ini. Freire tumbuh di kota kelahirannya hingga menempuh karier sebagai Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari Dinas Sosial di Negara bagian Pernambuco. Sebelum kemudian dipenjarakan di tahun 1964 setelah Brasil jatuh di tangan rezim militer yang melakukan kudeta.

Titik itu merupakan langkah yang memutus impian Freire yang tengah melakukan proyek pemberantasan buta huruf bagi kaum miskin kota agar warga bisa memperoleh haknya memilih dalam proses pemilihan. Kala itu, syarat utama untuk memilih, adalah warga yang telah melek huruf. Dan, Freire melakukannya hanya dalam 45 hari.

Proses pendidikan Freire memang tidak lazim, ia membongkar teori dan praktik pendidikan yang dianggapnya malah melanggengkan status quo. Risalahnya yang terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas, menjadi bacaan wajib bagi pendidik progresif setelahnya.

Dari Freire, kita kemudian mengenal pemetaan tiga varian kesadaran. Magis, naïf, dan kritis. Pertama, merupakan pola manusia yang tak mampu melihat hubungan penindasan dan menerima kenyataan sebagai takdir. Kedua, setingkat lebih tinggi, pola yang menyadari adanya dehumanisasi namun mendiamkannya. Biasa juga disebut prilaku oportunis. Ketiga, ialah situasi kesadaran yang menggerakkan manusia untuk mengubah realitas yang menindas.

Nah, kesadaran ketigalah yang tumbuh di kepala demonstran. Menolak piala dunia untuk perbaikan sarana yang lebih esensi. Mereka menolak kesadaran Neymar dan memilih petuah Freire.
***
Pangkep-Makassar, 29 Januari 2014 
 Dimuat di Tribun Timur edisi 4 Februari 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…