Skip to main content

Kayu Bakar


Pertengahan tahun 2006, saya pulang dari rantau di Sorong, belum genap sebulan di kampung, saya mengungsikan dua kardus buku ke Soppeng. Seorang kawan mengajak membangun kafe baca di bumi kalong itu. Ia menyimpan keyakinan kalau usaha yang dirintis memiliki nyawa panjang, saya mengangguk saja tanda sepakat kala itu.

Sebulan berjalan, kami sudah bisa membuat bulletin guna menampung tulisan para pengunjung kafe yang gemar menulis. Juga menggelar diskusi publik yang diharapkan sebagai bagian dari peremajaan nalar berpikir.

Sebulan kemudian, salah satu dari pihak pengelola menggelar hajatan pernikahan. Kami sungguh sibuk di acara itu, tadinya, ia ingin menikah tanpa perlu ada pesta besar yang menyita waktu, pikiran, dan tentu saja uang. Tetapi, ia tak kuasa menolak impian emak dan keluarga besarnya. Ribuan undangan sudah tercetak dan siap disebar, tentu saja saya terlibat dalam mengantar undangan itu ke seluruh arah mata angin guna menemui garis keluarga sang mempelai.

Tak ada lagi aktivitas di kafe baca, saban pagi, saya harus selesai mandi sebelum pukul sembilan, saya sudah siap dengan pakaian adat dan bergabung dengan rombongan pengantar undangan, dan baru pulang sebelum magrib. Kira-kira, kegiatan mengantar undangan itu berlangsung selama seminggu.

Seminggu sebelum hari pesta, keluarga mempelai kembali mengajak saya untuk ikut membantu, kali ini tujuannya ke hutan. Saya pikir di tengah hutan masih ada sanak yang hendak diberi undangan. Rupanya, kita ke sana untuk menebang pohon guna dijadikan kayu bakar. Kegiatan yang demikian mengingatkan tradisi di kampung. Setiap ada hajatan pernikahan, warga akan datang membantu menebang tangkai pohon kemudian dipotong sebagai persiapan perapian.

Ketika kakak perempuan saya menikah di tahun 2004, saya sendiri yang harus mengumpulkan kayu bakar, saya tak lagi menemukan kegiatan komunal warga yang turut membantu. Mungkin saat itu tetangga sibuk memanen padi, tetapi itu hanyalah satu asumsi. Di sepanjang tahun 2004 itu, tradisi warga berkumpul membantu keluarga mempelai yang akan melakukan hajatan pernikahan memang tidak terjadi lagi. Saya menyaksikan ada yang bergeser, terbukti, beberapa hajatan pernikahan ada yang tidak lagi menggunakan kayu bakar untuk mematangkan masakan.

Dengan alasan kepraktisan, masyarakat memilih menggunakan kompor minyak yang dirakit sendiri, sehingga apinya menyamai nyala kompor gas. Karena minyak tanah masih murah, maka pilihan itu menutup episode tradisi warga yang berkumpul membuat kayu bakar. Kalaupun kayu bakar diperlukan, orang-orang yang menggelar hajatan lebih memilih membelinya.

***

Jika menghayati pergeseran perilaku ini, maka kita akan sampai pada kesimpulan kalau masyarakat dahulu sangat memerlukan kayu bakar, yang berarti setiap keluarga harus punya persediaannya. Itulah sebabnya, setiap orang di pedalaman memiliki hutan keluarga, atau di sekitar pemukiman masyarakat di desa selalu ada pohon yang tumbuh. Selain sebagai pelindung dan penyejuk udara, juga sebagai persediaan kayu bakar untuk digunakan setiap hari maupun memiliki hajatan.

Jadi, jauh sebelum kita dijejali program ‘One Man, One Tree’ orang-orang di masa lalu sudah mengimplementasikannya. Kepemilikan pohon pun haruslah beraneka ragam, kesadaran akan hal ini masih bisa saya jumpai hingga hari ini, di belakang rumah saya masih ada pohon bambu warisan bapak, pohon ini memiliki banyak sekali kegunaan, selain dibuat pagar, lantai rumah, dinding, juga bisa dijadikan sebagai kayu bakar.

Di depan rumah juga masih tumbuh aju balanda (saya tidak tahu nama latinnya), yang jelas pohon ini bisa tumbuh hingga puluhan tahun. Pohon jenis inilah yang paling banyak digunakan sebagai kayu bakar selain pohon trembesi (di kampung disebut aju colo). Juga ada pohon nangka yang masih merupakan tanaman bapak, pohon ini pun memiliki fungsi ganda, karena saban tahun buahnya bisa dimakan atau dijadikan sayur. Dan, yang tak pernah alpa, tentu saja pohon mangga dengan aneka jenisnya.

Pada dasarnya, kesemua pohon tersebut bisa digunakan sebagai kayu bakar, sampai hari ini pun, saya kerap menebang ranting pohon di depan rumah untuk dijadikan kayu bakar. Meski di rumah tak lagi menjadi sumber perapian utama dalam memasak, hanya sesekali saja emak menggunakannya kala menjerang air, itu pun digunakan sebagai bahan campuran guna dimandi. Karena untuk memenuhi kebutuhan air minum di rumah, semuanya tergantung pada depot air isi ulang. Padahal, kegiatan memasak airlah yang selama ini banyak menggunakan kayu bakar.

Hari kini, kayu bakar tak lagi menjadi sumber perapian, ranting ditebang hanya untuk menghindari terjangan angin kencang yang bisa menumbangkan pohon. Sesudahnya menjadi sampah. Siapa yang peduli. Toh, segalon air hanya tiga ribuh rupiah. Di setiap hajatan pesta pun, kita lebih banyak meneguk air kemasan.

***
Makassar, 6 April 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap