Skip to main content

Hari Alpa Gie






“Saya membaca buku ini setelah 30 tahun Soe Hok Gie wafat”
(Status di akun Facebook pada 13 Desember 2011)

***
Agak susah memberi judul yang pas dan kira-kira pantas untuk resensi (jika bisa dikatakan demikian) atas buku Catatan Seorang Demonstran. Saya pikir, buku ini sudah dalam cetakan kesembilan dan dilengkapi catatan pengantar tambahan dari Riri Riza dan Mira Lesmana. Selain itu, juga dibubuhi ulasan 18 pers ketika awal mula terbit.
Berdasarkan sejarahnya, buku ini pernah menjadi “kitab suci” bagi pemuda, mahasiswa, bahkan pemikir sekaligus. Hal ini bukanlah sesuatu yang berlebihan. Saya memakai ukuran berdasarkan sejarah penerbitannya dan menghindari ukuran pengulangan cetaknya.

Pengantar panjang Daniel Dhakidae serasa menjawab pertanyaan saya. Sebelum catatan harian Soe Hok Gie diterbitkan LP3S. Catatan harian ini telah tersebar ke sejumlah tangan sahabat dan pengagumnya. Usaha ini merupakan kerja kerabat Gie di tahun 1972 yang mencoba menerbitkannya secara coba-coba. Daniel Dhakidae sendiri sempat memiliki hasil foto kopian tersebut yang dianggapnya sudah agak berbeda dengan hasil terbitan LP3S pada cetakan pertamanya pada tahun 1979.

Secara pribadi memang, Soe Hok Gie tidak memiliki niat untuk menerbitkan catatan hariannya ini. Sifatnya sangatlah pribadi, terbukti ada beberapa sensor terkait penyebutan nama yang dianggap tidak etis untuk ditampilkan di ranah publik oleh tim penyusun buku catatan ini. Hal itu saya kira sangatlah wajar. Kita bisa memahami semangat kerabatnya yang tergabung dalam Yayasan Mandalawangi yang berniat melanjutkan cita-cita almahrum. Salah satu usahanya dengan menerbitkan kembali catatan harian Soe Hok Gie. 

Saya sendiri tak langsung mengunyah isi catatan harian yang merupakan roh dari penerbitan buku ini. Mula-mula saya menuntaskan seluruh kata pengantar yang ada, lalu beralih menelaah ulasan 18 Pers yang terdapat di bagian belakang buku ini. Ulasan Salim Said di Tempo (Cara Melontarkan Pikiran, 6 Agustus 1983) menuliskan seperti ini:

.....dari catatan harian Soe Hok Gie itu hampir sulit menemukan orang baik, kecuali dirinya sendiri...(Hal. 360)

Pembacaan Salim Said bagi saya mengandung kebenaran jika niat dasar penerbitan catatan harian ini hendak ditempatkan sebagai bentuk kesaksian atas kondisi Indonesia secara keseluruhan. Betapa tidak. Kalimat-kalimat Soe Hok Gie yang sering di kutip semisal:

....Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau. (Hal. 65)

Catatan ini ditulis ketika Gie berusia 16 tahun. Usia yang tergolong remaja, tetapi ia sudah begitu tekun menuliskan kesaksiannya. Lengkapnya catatan ini agak panjang. Ia protes kepada gurunya yang bernama Pak Effendy. Guru sastra di sekolahnya. Mereka pun berdebat soal karangan. Gie menganggap kalau gurunya itu tak mengerti soal karangan.

Setahun kemudian, diusianya yang ke 17, ia menuliskan catatan hariannya bertanggal 10 Desember 1958. Lengkapnya catatan harian ini juga panjang, tetapi yang gemar dikutip ialah bagian akhirnya saja. Dengan berani ia menulis:

......mereka generasi tua: Soekarno, Ali Iskak, Lie Kiat Teng, Ong Eng Die, semuanya pemimpin-pemimpin yang harus di tembak di lapangan Banteng..... (Hal. 70)

Catatan ini lahir akibat perjumpaan Gie dengan soerang warga yang memakan kulit mangga karena kelaparan. Ia kemudian mendermakan uangnya saat itu Rp. 250.- (Sisa uang cadangannya tinggal Rp. 15,-. Jumlah ini mungkin cukup untuk membeli makanan kala itu, dan bertahan beberapa hari.

Sebenarnya apa arti penting sebuah catatan harian, atau kekuatan apa yang ada di dalamnya. Hingga Catatan Seorang Demonstran ini begitu melegenda. Saya coba menjawabnya bedasarkan nafas dari catatan pengantar dari Danhiel Dakidhae. Soe Hok Gie adalah salah satu  tokoh pada zamannya. Ia begitu berarti dan  disejajarkan dengan Achmad Wahib, yang catatan hariannya diterbitkan setelah ia tewas tertabrak motor ketika usianya baru 27 tahun. Mati muda sebagaimana Gie. ‘Pergolakan Pemikiran Islam’ adalah judul buku catatan itu.

Menurut Dhakidae, catatan harian Gie beda dengan catatan harian seorang Anne Frank. Gadis Yahudi yang lolos dari kematian Kamp pengungsian Nazi. Bagi Anne Frank, catatan hariannya adalah dirinya sendiri, sedangkan Gie tidak dalam posisi itu. Mungkin karena situasi berbeda yang dialaminya. Anne Frank terkurung dan tak dapat bertindak dalam memperjuangkan jalan hidupnya. Sedangkan Gie merupakan aktor perubahan, menentang ketidakadilan melalui tindakan dan catatan. Namun, sejauh ini catatan harian paling berpengaruh dalam skala nasional, mungkin cuma ‘Catatan Seorang Demonstran dan Pergoloakan Pemikiran Islam’ saja

Sebagaimana paragraf pertama, saya agak susah menetapkan sebuah topik untuk menelaah catatan harian ini, maka saya juga mengalami sedikit kerisauan untuk menelaah konteks pada setiap catatan harian yang lahir. Karena ini murni catatan harian, ada hari, tanggal, bulan dan tahunnya. Alasan berikutnya, saya tidak memiliki sandaran data dari buku lain terkait periode 65. Di mana Gie sudah menjadi seorang tokoh mahasiswa yang disegani. Selain itu, saya anggap kata pengantar dan ulasan 18 Pers yang menyertai cetakan ke sembilan CSD ini sudah pantas menjadi pengantar dalam memasuki hari-hari seorang Gie. Ditambah lagi ulasan penulis hebat segenerasinya maupun generasi sesudahnya. Sudah cukup untuk menjelaskan perihal sepak terjang, kehidupan, dan pemikirannya seorang Soe Hok Gie.

***
Pada awalnya ketika melihat nama Arief Budiman. Bayangan saya, ia bakal memberikan ulasan heroik tentang adiknya itu. Malah menulis seperti ini:

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almahrum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya selalu terlibat dalam hidupnya. (Hal.xxi)

Ya, Gie telah selesai dan menjelaskan dirinya sendiri lewat catatan hariannya sendiri sebagai bentuk tulisan yang paling jujur. Meskipun kemudian buku Catatahn Seorang Demonstran ini lahir lewat sebuah penerbitan yang jelas ada editor yang sulit dikatakan sebagai posisi yang netral. Terlepas dari itu semua, seperti yang dikatakan oleh Salim Said dalam ulasannya:

......Ibaratnya membuat film, yang dilakukan Soe Hok Gie lewat catatan hariannya barulah mengumpulkan shot-shot sebanyak mungkin. (Hal. 360)

Olehnya kemudian, saya memilih sebuah sudut yang mungkin belum pernah dilakukan oleh pembaca Gie sebelumnya. Kalaupun pernah ada, maka sebuah ide memang takkan pernah berjauhan. Saya menyebutnya sebagai indeks atas CSD ini:

Indeks ini saya mulai pada bagian II, karena pada bagian I merupakan pengantar panjang Dhaniel Dhakidae.
 
Tabel 1: Bagian II: Masa Kecil 

Hari
Tanggal
Bulan
Tahun
Total
Tidak dituliskan
4
Maret
1957
7 catatan pada 1957
Kamis
24
Oktober

Senin
28
Minggu
10
November
Selasa
12
Kamis
12
Desember
Rabu
18
Senin
6
Januari

1958
14 Catatan pada 1958
Kamis
16
Jumat
17
Minggu
26
Minggu
26
Selasa
4
Februari

Sabtu
8
Jumat
14
Minggu
9
Maret

Mingu
16
Senin
16
Senin
24
Minggu
30
Rabu
16
Juli
Catatan:
Pada bagian ke II ini, catatan dimulai pada 4 Maret 1957. Jadi, dua bulan sebelumnya tidak ada . Lalu catatan melompat ke 24 Oktober 1957. Alpa selama 6 bulan. Pada 1958 terdapat catatan dengan hari, tanggal, dan bulan yang sama (Minggu, 26 Januari 1958). Tetapi isi catatan berbeda.

Tabel 2: Bagian III: Di Ambang Remaja

Hari
Tanggal
Bulan
Tahun
Total
Kamis
10
Desember
1959
2 catatan pada 1959
Sabtu
12
Jumat
27
Mei
1960
10 catatan pada 1960
Minggu
12
Juni

Sabtu
18
Senin
20
Minggu
10
Juli
Jumat
24
Sabtu
9
Agustus
Sabtu
13
Sabtu
27
Sabtu
3
September
Sabtu
5
Agustus
1961
Catatan 1961 pada bagian ke III ini hanya ada 2 catatan, berikutnya berlanjut pada bagian ke IV
Minggu
6
Catatan :
Bisa dilihat kurangnya frekuensi catatan dari beberapa bulan, pada tahun 1959 hanya ada dua dalam satu bulan. Artinya, mulai Januari hingga November, Gie tidak menuliskan catatan hariannya. 1960, hanya mengisi 5 bulan. Itu pun dimulai pada bulan Mei, sebelumnya alpa empat bulan. Lalu tidak mengisi bulan Oktober sampai Desember.
Hal itu diakui Gie sendiri melalui catatan bertanggal 5 Agustus 1961. Ia menuliskan:
Hampir setahun aku tak menulis. Aku malas atau memang sibuk. Aku pun sebenarnya malas..... (Hal. 83)


Bersambung ke bagian kedua, silakan baca di sini 
Tabel 3: Bagian IV: Lahirnya Seorang Aktivis

Hari
Tanggal
Bulan
Tahun
Total
Jumat
20
Oktober
1961
Total catatan di tahun1961 cuma ada 4 yang dimulai pada Agustus, Oktober, dan Desemeber. Jadi, Januari hingga Juli tidak ada catatan, begitupun dengan September
Minggu
10
Sabtu
16
Desember
Minggu
17
Senin
1
Januari

1962
Hanya September yang tidak ada catatan pada tahun 1962. Total catatan berjumlah 16
Jumat
5
Senin
15
Senin
22
Sabtu
27
Kamis
8
Februari
Jumat
30
Maret
Kamis
12
April
Jumat
20
Selasa
21
Mei
Selasa
12
Juni
Senin
2
Juli
Minggu
22
Minggu
12
Agustus
Kamis
4
Oktober
Senin
31
Desember
Senin
14
Januari
1963
Di tahun 1963 hanya diisi satu catatan pada Januari dan dua catatan pada Februari
Selasa
19
Februari

Minggu
24
Kamis
28
1964
Pada tahun 1964 hanya mengisi satu di Februari dan dua pada Maret.
Sabtu
16
Maret
Jumat
20
Cactatan:
Pada bagian IV ini memperlihatkan catatan (Senin, 1 Januari 1962) yang saya kira jawaban untuk catatan  (Kamis, 10 Desember 1959). Di sini Soe Hok Gie menulis:

 .....Seperti Soekarno, ia hanya perlu sebelum merdeka sebab ia hanya seorang agitator bukan perancang. Tetapi ia tetap mau sebagai pemimpin rakyat dan lihatlah akibatnya. Memang hidup ini sangat tragis dan kejam. Dan seoramg pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi....’ (Hal. 93)

Jadi, dalam pandangan Soe Hok Gie, memposisikan Soekarno sebagai pembuka jalan saja untuk kelansungan perjalanan negara Indonesia. Tugas Soekarno sudah cukup sebagai pengusir penjajah. Itulah makanya ia sangat mengecam Soekarno dalam catatannya pada 1959. (Lihat tabel II)

Tabel 4: Bagian V: Catatan Seorang Demonstran

Hari
Tanggal
Bulan
Tahun
Total
Jumat
7
Januari
1966
Format penulisan bab V ini berbeda dengan bab sebelumnya. Catatan ini bisa dikatakan sekali tulis saja bertarik 25 Januari 1966. Adapun pengkategorian hari, dan tanggal pada tabel ini hanya untuk memberikan pemilahan saja. Karena terdapat beberapa penulisan hari dan tanggalnya.
Senin
10
Selasa
Tidak disebutkan
Tidak disebutkan
Kamis
Tidak disebutkan
Tidak disebutkan
Jumat
Tidak disebutkan
Tidak disebutkan
Sabtu
Tidak disebutkan
Tidak disebutkan
Kamis
20
Tidak disebutkan
Catatan:
Nampaknya Soe Hok Gie tidak menuliskan catatan hariannya selama setahun penuh. Yakni pada tahun 1965, hal ini bisa dilihat dari pemilahan catatan dari Bab IV ke Bab V. (Perhatikan tabel 3 dan 4)

Tabel 5: Bagian VI: Perjalanan ke Amerika

Hari
Tanggal
Bulan
Tahun
Total
Sabtu
24
Februari
1968
Bab ini tergolong lengkap dengan menulis catatan setiap hari. Itu terjadi pada November dan Desember. Sehingga dari Februari hingga Desember, Soe Hok Gie menuliskan sebanyak 114 catatan.

Minggu
25
Rabu
6
Maret

Sabtu
9
Minggu
10
Senin
11
Selasa
19
Selasa
26
Kamis
28
Senin
29
Juli
Selasa
30
Rabu
31
Kamis
1
Agustus
Sabtu
3
Minggu
4
Selasa
6
Rabu
7
Kamis
8
Sabtu
10
Minggu
11
Senin
12
Selasa
13
Rabu
14
Jumat
16
Sabtu
17
Senin
19
Selasa
20
Rabu
21
Kamis
22
Jumat
23
Senin
26
Selasa
27
Rabu
28
Kamis
29
Jumat
11
Oktober
Jumat
11
Sabtu
12
Minggu
13
Senin
14
Selasa
15
Rabu
16
Kamis
17
Jumat
18
Sabtu
19
Minggu
20
Senin
21
Selasa
22
Rabu
23
Kamis
24
Jumat
25
Sabtu
26
Sabtu
26
Minggu
27
Senin
28
Selasa
29
Rabu
30
Kamis
31
Kamis
31
Jumat
1
November
Sabtu
2
Minggu
3
Senin
4
Selasa
5
Rabu
6
Kamis
7
Jumat
8
Sabtu
9
Minggu
10
Senin
11
Selasa
12
Rabu
13
Kamis
14
Jumat
15
Sabtu
16
Minggu
17
Senin
18
Selasa
19
Rabu
20
Kamis
21
Jumat
22
Sabtu
23
Minggu
24
Senin
25
Selasa
26
Rabu
27
Kamis
28
Jumat
29
Sabtu
30
Minggu
1
Desember
Senin
2
Selasa
3
Rabu
4
Kamis
5
Jumat
6
Sabtu
7
Minggu
8
Senin
9
Selasa
10
Rabu
11
Kamis
12
Jumat
13
Sabtu
14
Selasa
17
Rabu
18
Kamis
19
Jumat
20
Sabtu
21
Minggu
22
Senin
23
Selasa
24
Rabu
25
Kamis
26
Jumat
27
Sabtu
28
Minggu
29
Catatan:
Sok Hok Gie alpa lagi selama setahun, karena tidak ada catatan harian pada tahun 1967. (Perhatikan peralihan tahun pada tabel 5 dan 6). Pada 17 agustus 1968, Soe Hok Gie mendengar kabar kematian kakak salah satu rekannya yang bernama Koy. Dengan sangat ironi, ia menulis: 
....saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat air mata saya keluar’. (hal. 170)

Salah satu kalimat yang sering dikutip ditulis pada  20 Agustus 1968 yang berbunyi:  
....di indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya..... (hal. 171)

Soe Hok Gie menuliskan dua kali catatannya pada Jumat 11 Oktober 1968. Hal ini merupakan perjalanannya dari Honolulu ke Fransisco, Amerika Serikat

Catatan 24 Oktober 1968. Soe Hok Gie menuliskan mimpinya:

.....Semalam saya mimpi tentang Indonesia. Seolah-olah saya pulang kembali dan kemudian menjalankan kebiasaan saya sehari-hari di sana. Pulang jam 12.00 malam, tunggu bis kota, aktif soal-soal politik dan lain-lain.

Soe Hok Gie kembali menuliskan catatannya dua kali dalam sehari (Sabtu, 26 Oktober 1968). Keterangan ini menjelaskan kalau dalam sehari ia hanya menulis surat dan artikel.

Kembali dalam sehari menuliskan dua catatan harian (Kamis, 31 Oktober 1968). Catatan ini menerangkan sebelum berangkat ke sebuah sekolah dasar Liberty. Soe Hok Gie menulis catatannya dan sesampai di sekolah tersebut ia kemudian menulis lagi.

Rupanya sepak terjang Soebandrio dan Soekarno mendapat perhatian di Amerika. Pada catatan Jumat 13 Desember 1968. Soe Hok Gie berbincang dengan salah satu Dosen dari Kenya yang mengajar di AS. Sang dosen mengungkapkan kalau Sokarno harus diadili dan bukan Soebandrio.

Di hari ulang tahunnya ke 26. Soe Hok Gie mendapat kiriman ucapan selamat dari kawan-kawannya di Indonesia

Tabel 6: Bagian VII: Politik, Pesta dan Cinta

Hari
Tanggal
Bulan
Tahun
Total
Selasa
1
April
1969
Soe Hok Gie berusaha mempertahankan kekonsistenannya dalam menuliskan kesaksian hidupnya. Terbukti, catatan harian pada  Mei dan Juli (Pemetaan catatan bulan Juli berlanjut pada Bab VII) lengkap dan bulan Juni kurang sehari. Total catatan di 1969 pada Bab ini sebanyak 94.
Jumat
4
Sabtu-Minggu
5-6
Selasa
8
Rabu
9
Jumat
11
Sabtu-Minggu
12-13
Senin
14
Selasa
15
Rabu
16
Kamis
17
Jumat
18
Sabtu
19
Minggu
20
Senin
21
Selasa
22
Rabu
23
Kamis
24
Jumat
25
Sabtu
26
Minggu
27
Senin
28
Selasa
29
Rabu
30
Kamis
1
Mei
Jumat
2
Sabtu
3
Minggu
4
Senin
5
Selasa
6
Rabu
7
Kamis
8
Jumat
9
Sabtu
10
Minggu
11
Senin
12
Rabu
13
Kamis
15
Jumat
16
Sabtu
17
Minggu
18
Senin
19
Selasa
20
Rabu
21
Kamis
22
Jumat
23
Sabtu
24
Minggu
25
Senin
26
Selasa
27
Rabu
28
Kamis
29
Jumat
30
-
30-31/1-2
Mei-Juni
Senin
2
Juni
Selasa
3
Kamis
5
Jumat
6
Sabtu
7
Senin
9
Selasa
10
Rabu
11
Kamis
12
Jumat
13
Agustus
Sabtu
14
Juni
Minggu
15
Senin
16
Selasa
17
Rabu
18
Kamis
19
Jumat
20
Sabtu
21
Minggu
22
Senin
23
Selasa
24
Rabu
25
Kamis
26
Jumat
27
Sabtu
28
Minggu
29
Senin
30
Selasa
1
Juli
Kamis
3
Jumat
4
Sabtu
5
Minggu
6
Senin
7
Selasa
8
Rabu
9
Kamis
10
Jumat
11
Sabtu
12
Minggu
13
Senin
14
Catatan:
Puisi yang dibacakan oleh Nicolas Saputra pada salah satu soundtrack Film Gie ditulis pada catatan (Selasa, 1 April 1969). Judul puisi itu. ‘Sebuah Tanya’
Soe Hok Gie menggabungkan tanggal dan hari catatan hariannya (Sabtu-Minggu, 5-6 dan Sabtu-Minggu, 12-13 April 1969) Catatan (Minggu, 11 Mei 1969). Ia menuliskan:

 ......Saya pulang jam 23:30. Amat mengantuk dan lelah, dan sedikit gelisah. Di tempat tidur saya masih bolak-balik. Mungkin malam ini adalah malam terakhir saya sebagai mahasiswa. Rasanya sayang dan sedih.

Catatan (Senin, 12 Mei 1968) ia menuliskan pilihan hidup yang harus ditetapkan: ‘.....Di depan saya terletak beberapa pilihan:
a.      Kerja di fakultas sambil jadi wartawan bebas
b.      Pergi ke luar negeri (Australia, Amerika Serikat)
c.       Kerja di fakultas dan mulai membuat karir lain

Ada penggabungan penulisan catatan (30-31 sampai 1-2 Mei-Juni 1969). Halaman 259 dalam buku ini terjadi kesalahan penulisan bulan (Tertulis: Jumat 13 Agustus 1969). Ini jelas janggal, karena halaman berikutnya masih kelanjutan catatan bulan Juni. Jadi seharusnya Jumat 13 Juni 1969). Tetapi di kolom indeks saya tetap menuliskan Jumat 13 Agustus 1969.

Tabel 7: Bagian VIII: Mencari Makna

Hari
Tanggal
Bulan
Tahun
Total
Selasa
15
Juli
1969
Jika digabungkan dengan catatan pada Bab VII, maka jumlah catatan pada tahun 1969 berjumlah 183
Rabu
16
Kamis
17
 Jumat
18
 Sabtu
19
Minggu
20
Senin
21
Selasa
22
Rabu
23
Kamis
24
Jumat
25
Sabtu
26
Minggu
27
Senin
28
Selasa
29
Rabu
30
Kamis
31
Jumat
1
Agustus
Sabtu
2
Minggu
3
Rabu
6
Kamis
7
Jum’at
8
Sabtu
9
Minggu
10
Senin
11
Selasa
12
Rabu
13
Jumat
15
Sabtu
16
Minggu
17
Senin
18
Rabu
20
Rabu
27
Kamis
28
Sabtu
6
September
Minggu
7
Oktober
Senin
8
Sabtu
20
Senin
22
Kamis
25
Jumat
26
Sabtu
27
Sabtu
4
Senin
6
November
Kamis
9
Jumat
10
Selasa
14
Jumat
17
Sabtu
18
Minggu
19
Senin
20
Selasa
21
Rabu
22
Kamis
23
Jumat
24
Sabtu
25
Minggu
26
Selasa
28
Kamis
30
Senin
3
Selasa
4
Rabu
5
Kamis
6
Sabtu
8
Minggu
9
Senin
10
Selasa
11
Rabu
12
Kamis
13
Jumat
14
Sabtu
15
Minggu
16
Selasa
18
Rabu
19
Kamis
20
Sabtu
22
Minggu
23
Selasa
25
Rabu
26
Kamis
27
Jumat
28
Sabtu
29
Senin
1
Desember
Selasa
2
Kamis
4
Sabtu
6
Senin
8
Catatan:
Catatan Minggu, 3 Agustus 1969 menceritakan soal polemik yang berkembang di media, khususnya serangan Mochtar Lubis di tajuk rencana Indonesia Raya (IR). Tidak jelas apa yang diperdebatkan. Karena penjelasannya tidak lengkap. Di akhir kalimat dalam catatan ini, Soe Hok Gie menulis:

..Saya tidak mengerti sikap non intelektual Mochthar Lubis. Padahal ia pernah dibela Pramoedya waktu ia ditangkap tahun 1958 dahulu. (Hal. 304)

Untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, rupanya Sok Hok Gie mengandalkan honor dari tulisan-tulisannya yang ia kirimkan ke media
 . ....Saya ke Kompas untuk minta honor tetapi Kompas kebetulan tidak punya likuiditas keuangan. (Hal. 312)
Hari-hari di awal Desember 1969, Soe Hok Gie begitu rajin mengunjungi teman-temannya. Salah satunya terekam kuat dalam catatan (Senin, 8 Desember 1969). Ia menuliskan:

.......dengan Josie saya ke Badil. Lalu saya ke Maria. Ngobrol-ngobrol selama 1 jam. Ia kelihatan senang sekali dengan “suasana” yang timbul. Apakah benar tentang analisa Gani tentang hubungan saya-Maria setelah kita putus. Ia menahan saya waktu saya mau pergi jam 4.00. Padahal saya tahu kalau ia harus les dengan Pak Dahlan. Saya berusaha sebiasa mungkin. Ini adalah ngobrol-ngobrol berdua pertama setelah saya putus bulan Agustus yang lalu. Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kiang Fong dari Arief hari minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh Kiang Fong yang begitu aneh dan begitu cepat. (Hal. 353)

 Makassar, Januari-Maret 20 Desember 2011

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…