Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

Begitulah

Piala dunia tahun 1998 merupakan fondasi saya menyenangi sepak bola. Saya berada di tengah pendukung Argentina yang meradang kala ditundukkan Belanda di perdelapan final. Umpan panjang Frank de Boer menuju Dennis Bergkamp merupakan akhir impian tim Tango.
Belakangan, saya tidak bisa menerima kalau umpan terbaik di turnamen itu sepertinya menyalahi filosofi totalfootball yang seharusnya mengandalkan seluruh pemain dalam bermain. Tetapi, Frank tidak keliru, terkadang teori perlu dilupakan untuk merengkuh kemenangan.
Sejak saat itu, Belanda adalah tim favorit saya di segala turnamen. Sungguh, saya terkesima dengan Edgar Davids. Pemain berambut gimbal yang dalam perjalanan karirnya mengenakan kaca mata karena memang mengalami rabun dekat. Begitulah, jalan saya menetapkan tim dan pemain idola.
Sebenarnya, orang-orang di kampung saya dominan mengidolakan Argentina. Mereka sering mengulang kejayaan Maradona. Awalnya saya terkesima dan mulai tertarik dengan Gabriel Batistuta karena Maradona tak…

Hari Alpa Gie

“Saya membaca buku ini setelah 30 tahun Soe Hok Gie wafat” (Status di akun Facebook pada 13 Desember 2011)
*** Agak susah memberi judul yang pas dan kira-kira pantas untuk resensi (jika bisa dikatakan demikian) atas buku Catatan Seorang Demonstran. Saya pikir, buku ini sudah dalam cetakan kesembilan dan dilengkapi catatan pengantar tambahan dari Riri Riza dan Mira Lesmana. Selain itu, juga dibubuhi ulasan 18 pers ketika awal mula terbit.

Kayu Bakar

Pertengahan tahun 2006, saya pulang dari rantau di Sorong, belum genap sebulan di kampung, saya mengungsikan dua kardus buku ke Soppeng. Seorang kawan mengajak membangun kafe baca di bumi kalong itu. Ia menyimpan keyakinan kalau usaha yang dirintis memiliki nyawa panjang, saya mengangguk saja tanda sepakat kala itu.
Sebulan berjalan, kami sudah bisa membuat bulletin guna menampung tulisan para pengunjung kafe yang gemar menulis. Juga menggelar diskusi publik yang diharapkan sebagai bagian dari peremajaan nalar berpikir.
Sebulan kemudian, salah satu dari pihak pengelola menggelar hajatan pernikahan. Kami sungguh sibuk di acara itu, tadinya, ia ingin menikah tanpa perlu ada pesta besar yang menyita waktu, pikiran, dan tentu saja uang. Tetapi, ia tak kuasa menolak impian emak dan keluarga besarnya. Ribuan undangan sudah tercetak dan siap disebar, tentu saja saya terlibat dalam mengantar undangan itu ke seluruh arah mata angin guna menemui garis keluarga sang mempelai.
Tak ada lagi aktivit…

Menghormati Tan Malaka

Seorang pemuda berusia 22 tahun berprofesi sebagai guru anak-anak di sebuah perkebunan di Deli (Sekarang Sumatra Utara). Di sana, ia melihat ketimpangan sosial antara kehidupan getir kaum buruh dan kemewahan tuan tanah. Ia tidak terima realitas itu. Sebagaimana dirinya kemudian ditolak oleh petinggi perusahaan perkebunan.

Sabtu Sore sebelum Azan Asar

Mengevaluasi Demokrasi di Pangkep (Catatan HUT Ke 54)

Selasa, 7 Januari. Yayasan Lembaga Pendidikan Anak Rakyat (Lapar) menggelar launching indeks demokrasi Pangkep di Warkop Komunitas hasil riset yang dilakukan tiga lembaga: Pusat Kajian Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi (Demos), dan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID) terhadap indeks demokrasi di empat wilayah di Indonesia. Yakni, kabupaten Aceh Utara, Tangerang Selatan, Pangkep, dan Batu.

Neymar atau Freire

Di putaran final piala konfederasi tahun 2013, kesebelasan Brasil menundukkan juara piala dunia tahun 2010, Spanyol dengan skor telak 3-0. Dan, ditasbihkanlah Neymar da Silva Santos Junior selaku pemain terbaik di ajang itu yang menandai kebintangannya.