Skip to main content

Aku Hio Bukan Bento


Namaku Bento
Rumah real estate
Mobilku banyak
Harta berlimpah
Orang memanggilku
Bos eksekutif
Tokoh papan atas
Atas segalanya
Asyiik…

***
Sebuah zaman adalah pergulatan, di dalamnya mengendap segala pertentangan. Karena itu, perlawanan senantiasa lahir di setiap kamar di mana kebusukan itu nampak, tak terkecuali di ruang musik. Itulah geliat yang coba didendangkan Swami, band yang berdiri di tahun 1989. Kita tahu, kala itu negara ini tengah tumbuh menjadi manusia besi, apa saja akan dilibas jika ada yang coba mengusiknya.

“Ketika semua orang berteriak, maka tidak ada yang dikatakan pemberani. Tapi ketika semua orang diam, dan ada yang berteriak, maka dialah pemberani yang sebenarnya“. Ucap Sawung Jabo, salah satu dedengkot Swami. Kelompok musik inilah yang pertama kali meneriakkan tembang satire, Bento. Ejekan buat orang yang berwatak rakus. Penuturuan Iwan Falls, maestro balada yang juga terlibat di band Swami, tembang Bento digagas sebagai bentuk interupsi terhadap kesewenang-wenangan seseorang terhadap kemanusian. Muasal nama Bento sendiri asal copot saja, karena saat itu dianggap tidak ada orang yang menyandang nama itu. Tapi nalar publik tak bisa dibendung, Bento disebut akronim Benny Soeharto, sapaan akrab Hutomo Mandala Putra, anak Soeharto, ada juga yang menyebutkan sebagai ‘Benteng Soeharto’. Tapi terlepas dari dugaan itu, tembang itu telah menggelitik kemanusiaan kita tentang sosok manusia rakus, licik, dan narsis.

Dialah Bento, pemilik wajah ganteng, harta berlimpah, dan banyak simpanan. Perjalanan bisnisnya menjagal apa saja sesuka perut, yang penting ia menang dan senang. Ia juga sok tahu, mampu bicara moral dan keadilan, sekaligus ahli menipu dan sangat angkuh. Katanya, sebut saja namaku tiga kali, Bento, Bento, Bento. Maka tak ada yang bisa menghalangimu.

***

Antonim Bento adalah Hio, personifikasi manusia yang menolak bejat, ia ingin jujur-jujur saja dan tak mau mengingkari hati nurani. Tembang tersebut seolah menjadi solusi atas ulah Bento, Swami perlu dua tahun guna mempublikasikannya. Bento termaktub di album perdana pada 1989 dan Hio lahir di album kedua, 1991. Di album perdana, band Swami memang marah, selain Bento yang memekakkan telinga, di album itu juga terdapat Bongkar, tembang perlawanan lainnya yang menjadi lagu wajib didendangkan di setiap demonstrasi.

Lahirnya tembang perlawanan dari Swami bisa dikatakan sebagai proyek senyap, sebelumnya musisi yang tergabung di band ini adalah personel Kantata Takwa, band yang dibentuk musisi sekaligus pengusaha, Setiawan Djody. Kantata Takwa sendiri pernah mengejutkan panggung musik tanah air saat menggelar konser di Stadion Utama Jakarta pada 23 Januari 1990. Konser tersebut disebut-sebut sebagai aksi heroik dan terang-terangan dalam menyanyikan kritik yang pedas kepada pemerintah.

Selanjutnya, Kantata Takwa mengalami pencekalan dan tidak dibolehkan lagi menggelar pertunjukan, tapi situasi demikian malah semakin menggelorakan perlawanan. Diam-diam Setyawan Djody menyokong pembentukan Swami, ia tak lagi di depan menenteng gitar, tetapi bertindak selaku produser untuk dua album Swami. Hasilnya, kritikan yang diajukan tidak melempeng, malah semakin berani.

Hio dan Bento, mewakili dua watak manusia yang saling bertentangan, semuanya selalu ada di setiap fase zaman. Sebagaimana sejarah mengingatkan watak tersebut di dunia nyata. Nabi Musa berhadapan dengan Firaun, Nabi Muhammad menghadapi kejahiliaan Abu Lahab, dan Imam Husain, cucu Rasulullah SAW bertarung dengan Yazid bin Muawiah.  Ali Syariati dalam buku Paradigma Kaum Terindas menegaskan kalau perilaku fasik dan baik sudah dimulai ketika Qabil membunuh Habil (keduanya anak Nabi Adam)

Swami melahirkan Hio dan Bento sebagai pengingat atas pertempuran umat manusia melawan sifatnya sendiri. Kembali meminjam pandangan Ali Syariati, bahwa berdasarkan proses penciptaan, pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk menumbuhkan sifat nur (cahaya) dan turoob (tanah). Jika sifat nur menonjol, maka perilaku manusia cenderung bersih, begitupun sebaliknya. Jika unsur turoob yang menguasai perkembangan manusia, derajat kemanusiaannya sangat rendah.

Secara eksplisit, tembang Hio hanya menceritakan sebuah perilaku, tidak menyebutkan nama dan tindakan sebagaimana di tembang Bento. Penyebutan Hio hanya diulang berkali-kali di akhir penggalan lirik, seolah tak ada tokoh di sana. Tapi saya anggap justru di situlah kritikan hendak dibangun untuk menetapkan asumsi, karena tokoh yang bersih itu menolak menyebut dirinya. Ia hanya mengucap kata yang menunjukkan perbuatan.

Aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi
Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan
Aku mau jujur jujur saja
Bicara apa adanya
Aku tak mau mengingkari hati nurani
Hio Hio Hio Hio Hio

Bandingkanlah dengan Bento, dan selanjutnya terserah anda, memilih Hio atau Bento sebagai teladan.

***

Makassar, 18 Mei  2013
Catatan yang tertinggal di tahun 2013, versi lain untuk catatan ini bisa dilihat di sini

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap