Skip to main content

Sepotong Hari dan Satu Malam dalam Lima Penggal Cerita



#1

Desember yang basah, menjelang peralihan tahun 2013 ke 2014 curah hujan meninggi. Pagi itu, Jumat 20 Desember awan hitam menggantung di langit timur Pangkep, Sulawesi Selatan, mengganti fajar yang hangat. Nampaknya hujan akan menguasai pagi. Akh! Itu bukan halangan, peta sudah di tangan dan bekal telah siap. Sejak dua hari sebelumnya janji sudah disepakati, perjalanan mestilah ditempuh. Tekadku.

Badauni AP, anggota divisi advokasi Komite Komunitas Demokrasi Pangkep (KKDP) sudah bersiap dengan sepeda motornya di depan rumah. Ia akan mengantar saya ke bandara Sultan Hasanuddin menuju Jakarta memenuhi undangan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID).

Rinai menjadi prolog menyusuri jalan sebelum menderas di tengah perjalanan. Pandangan terhalang bulir air yang jatuh dari langit itu yang mengharuskan Badauni mengendorkan tarikan pedal gas. Kendaraan melambat bersama pengendara lainnya menembus hujan.

Waktu menunjukkan pukul 08:07 Wita begitu tiba di bandara. Segera saja menuju konter maskapai penerbangan guna mencetak nomor booking. Rupanya, pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA614 akan lepas landas pada pukul 10:55. Delay sejam dari jadwal semula. Sepertinya masih cukup waktu meneguk kopi. Kami pun menuju kedai guna menghangatkan tubuh.

#2

Pukul 11:12 Wib, saya menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta. Sejumlah pesan pendek kukirim ke sejumlah kerabat guna mengabarkan perjalanan yang lancar-lancar saja. “Kamu jalan saja menuju shelter bus menunggu Damri jurusan Blok M, kabari jika sudah tiba di sana,” pesan Elizabeth Koersini, PPC Officer KID.

Langit Jakarta cerah, Damri meluncur tanpa hambatan yang berarti. Tidak ada macet sebagaimana yang selalu saya tonton di layar kaca. “Bang, ke Blok M kira-kira menempuh waktu berapa jam,” tanyaku pada seorang lelaki di sampingku. “Satu jam, mas,” balasnya.

Waktu yang cukup untuk tidur sebab di pesawat saya gagal menunaikannya, udara di kabin sungguh dingin dan saya tersiksa dengan itu. Mungkin di Damri saya bisa melakukannya. Berulang kali kucoba pejamkan mata. Namun, rupanya penyejuk udara mirip di pesawat. Saya membeku, ingin rasanya meminta kondektur mematikan saja AC dan membuka jendela agar saya bisa menyulut kretek.

Berkali-kali Ibeth, sapaan akrab Elizabeth, menelepon menanyakan keberadaan saya. Kutegaskan jika saya masih duduk manis di kursi memandang gedung-gedung yang menusuk langit. Itulah yang kulakukan untuk melupakan dingin yang tak tertahankan. Untunglah kemudian kondektur menawarkan koran Kompas. Di halaman depannya menampilkan wajah Djoko Susilo, terdakwa korupsi simulator SIM. Warta yang basih, saya tidak tertarik membacanya. Kucari liputan yang lain dan kemudian tenggelam di beberapa rubrik.

“Halo, saya sudah tiba di Blok M,” ucapku menelepon.

“Iya, di depan terminal ada traffic light, kamu menyeberang saja, jalan lurus lewati belokan ke kanan yang pertama, saya tunggu di pojok belokan kedua,” begitulah Ibeth memandu saya.

Tiba di kantor KID, saya berkenalan dengan Muhamad Usman dari Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Ia Koordinator Perwakilan Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU) lembaga alumni sekolah demokrasi di sana yang tiba lebih awal.

Sesaat setelah makan siang, Ignas Kleden tiba. Ia mengulurkan tangan menyambut kami sebelum berlalu ke ruangannya. Ibeth mengkomfirmasi jika pukul 15.00 kita berangkat ke TVRI. Sembari menunggu, saya bertukar informasi dengan Usman, Ia banyak bercerita tentang kiprah KDAU dalam mendorong pemerintahan di daerahnya. KDAU punya andil penggodokan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), selain tentunya merancang program yang lain.

#3

Perjalanan ke stasiun TVRI tidak memakan waktu lama dan tidak terhalang macet. Sesampai di sana, kami lalu duduk bercengkrama di salah satu ruang sambil menunggu siaran yang dijadwalkan pada pukul 18:00. Reza Simamora, Direktur Eksekutif KID yang turut mengantar mengeksplorasi ihwal sekolah demokrasi kepada Anzhi Lema, moderatot yang akan memandu jalannya dialog.

“Saat ini pelaksanaan sekolah sudah mencapai delapan Provinsi di empat belas Kabupaten, di antaranya di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh dan tiga Kabupaten di Sulawesi Selatan, Jeneponto, Pangkep, dan sekarang tengah berlangsung di Gowa” terangnya.

Lebih jauh, Ia menjelaskan mengenai kriteria Kabupaten tempat pelaksanaan yang dipilih berdasarkan pada miskinnya aplikasi demokrasi di daerah yang bersangkutan. Hal itu bukannya tanpa tantangan. Di Jeneponto, misalnya, semula ada resisten dari Pemda setempat. Dugaannya, mungkin sekolah demokrasi dianggap sebagai perongrong status quo. Pengalaman ini mengindikasikan jika demokrasi belumlah terpahami sebagai tata nilai pemerintahan yang adil bagi semua. Selanjutnya, saya dan Usman bergantian menjelaskan kiprah alumni di masing-masing daerah.

Keterangan yang diungkapkan itu menjadi poin yang dicatat Anzhi yang nantinya menjadi titik tolak untuk disampaikan pada dialog. Jadi, Ibeth akan menjelaskan lebih lanjut mengenai tujuan KID melaksanakan sekolah demokrasi di daerah. Dan, kami akan mengabarkan kiprah alumni dalam mendorong perkembangan demokrasi di daerah.

Pukul 17:40, kami sudah stay on di depan kamera di studio 5 TVRI. Sial, dinginnya dua kali lipat dibanding di pesawat. Tetapi, beberapa menit lagi siaran langsung dialog bertajuk Mencari Pemimpin yang Dicintai Rakyat akan berlangsung. Inilah sebab utama saya ke Jakarta. Jadi, dingin ini harus kulawan.

Ibeth memperoleh kesempatan pertama dari moderator kemudian beralih ke Usman. Kala tiba giliran, saya memulainya dengan mengungkapkan beberapa poin menyangkut tantangan yang dihadapi pemerintah di Pangkep. Di antaranya, pengelolaan sumber daya alam (SDA), indeks pembangunan manusia (IPM), Pendidikan, Kesehatan, kebudayaan, dan Demografi.

Perlu disadari, durasi dialog hanya satu jam dan harus berbagi waktu dengan iklan serta kedua narasumber. Tentulah tak semua poin yang saya sebutkan itu dapat dijelaskan secara detail.

Di kesempatan selanjutnya, saya menjelaskan tentang program yang telah dan yang akan dilaksanakan KKDP. Hal yang sama berlaku pada Usman.

Ibeth, menerangkan jika yang selama ini berseteru di wilayah praksis, ialah Partai Politik, Birokrasi Pemerintah, Komunitas Bisnis dan Civil Society. Itulah mengapa, keempat unsur ini dipertemukan dalam proses sekolah demokrasi agar ke depan terbangun pemahaman yang sama mengenai demokrasi sebagai tata nilai dalam menata kehidupan orang banyak.

Di sesi interaktif, ada empat penelepon yang turut memberikan tanggapan. Dari keterangan yang diberikan. Jelas, masyarakat sudah mafhum mengenai pemimpin yang dirindukan. Suara-suara ini tentulah kriteria yang sudah harus dan memang semestinya melekat pada pemimpin. Apalagi tahun 2014 merupakan tahun politik. Masyarakat akan kembali memilih wakil mereka di parlemen serta Presiden dan Wakil.

Menyangkut hal itu, Usman dan kawan-kawan di KDAU telah menggalakkan program agar masyarakat di daerah tidak apatis terhadap pemilu. KKDP sendiri pada Oktober lalu atas dukungan KID telah menyelenggarakan program pendidikan politik khusus pemilih pemula. Tujuannya tentu memberikan ruang eksplorasi pemahaman kepada masyarakat yang akan memilih untuk kali pertama pada pemilu 2014. Dan tengah merancang dialog Caleg Se- Kabupaten Pangkep yang direncanakan pada Februari tahun depan.

#4

Selimut malam sudah membungkus Jakarta kala meninggalkan gedung TVRI. Meski begitu, tampak jelas jika kota ini tak pernah tidur. Serasa ada matahari lain di langit ibu kota negeri ini. Terang benderang.

“Wah, Anda beruntung tidak menemukan macet di sini,” ucap Reza.

Selanjutnya  kami menuju lokasi untuk mengisi lambung. Sembari menyantap sajian sea food, kami berempat berbincang tentang apa saja. Mulai dari rencana agenda pertemuan alumni tahun 2014 mendatang hingga agenda KK. Ibeth menghimbau jika KK ke depan harus punya arsip visual, berupa film dokumenter yang merekam jejak program.

Di situasi tertentu, kami membangun gap obrolan, antara saya dengan Ibeth, Usman dengan Reza dan sebaliknya. Kemudian lebur lagi ke dalam beragam isu politik, sastra, kebudayaan, dan gerakan sosial.

Setelah cukup, kami menyudahi kebersamaan di sepotong malam itu dan menuju lokasi tempat kami menginap. Pada perjalanan kali ini, macet tak dapat lagi ditolak. Realitas ini benar-benar nyata di depan mata. Jarak tempuh menjadi lama. Kendaraan merayap di tengah ribuan moda transportasi darat yang memadati jalan di Jakarta.

Sekitar pukul 22:12, akhirnya kami sampai di halaman hotel Amaris di jalan Piers Tendean. Reza berangkat lebih dulu dan Ibeth menyusul setelah menyelesaikan urusan administrasi. Di sisa malam itu, selanjutnya saya dan Usman melewatinya sendiri-sendiri. Ia tentu tak ingin begadang menantang malam, sebab esoknya pesawat yang akan ditumpanginya ke Aceh berangkat pagi.

Saya sendiri masih mengobrol dengan seorang kawan dari Pangkep yang sejak sepuluh tahun terakhir telah menetap di Tangerang. Ini perjumpaan kali pertama sejak kami berkenalan dan membangun komunikasi di dunia maya. Kami berbicara seputar pengembangan literasi di Pangkep, Ia merintis twitland @kampung pangkep yang memungkinkan perantau asal Pangkep saling berkomunikasi di dunia maya. Hasilnya, di tahun 2011, Ia menerbitkan buku pertama yang merekam perubahan tata kota di Pangkep.

Sekitar pukul 00:01, Ia pamit kembali pulang ke Tangeran dan membekali saya dengan buku saku perundang-undangan KPK, sejumlah suvenir, dan tentu saja buku karyanya bertajuk Sungai Pangkep yang Mengalir dalam Ingatanku.

Selanjutnya, tinggallah saya seorang diri. Kurasakan dingin menyentuh tulang. Untunglah, di kamar ini sayalah penguasa, AC kumatikan lalu merebahkan tubuh memeluk mimpi. Tetapi, itu tidak berlangsung lama, saya kembali bangkit sebab ada yang sesuatu yang mengganggu. Ya, Tuhan, ini sudah jam satu malam dan saya lapar. Bergegas saya turun ke resepsionis menanyakan menu apa yang ada. Petugas menggeleng dan menyarankan saya mencari makan di luar. Nasib berpihak padaku, tak jauh dari hotel, terdapat warteg. Di sanalah saya duduk menyantap nasi ikan sambil bercengkrama dengan penjajanya. Seorang perempuan baya yang sudah 20 tahun merantau ke Jakarta meninggalkan tanah kelahirannya di Tegal.

#5

“Pagi//dingin/gak ada sinar mentari//dan langitpun terlihat gelap mendung datang lagi//dan aku berdiri di atas gedung yang tinggi//memandang ramainya Jakarta menyambut pagi ini….”

Potongan lirik Jakarta Pagi Ini di atas sungguh saya rasakan. Slank tidak main-main. Kelompok musik ini mengingatkan bagi siapa saja yang sedang bangun pagi di kota Jakarta. Bagi saya sendiri, situasinya lengkap. Saya di lantai 17, cukup tinggi memandang Jakarta menyambut pagi.

Usman, sejak subuh mungkin sudah bergegas ke bandara. Tentu Ia tak ingin ketinggalan pesawat dan melewatkan kongres KDAU. Kami tak sempat lagi bertatap muka, Ia hanya menitip salam kepada kawan-kawan di Pangkep melalui pesan pendek. Tinggallah saya sendiri dan sepi perlahan tumbuh. Kusulut kretek sisa begadang dan mendengarkan You Shook Me All Night Long dari AC/DC yang akhirnya menyelamatkanku melewati detik-detik yang kurasa sangat asing. Saya seperti dikutuk Erick Fromm, selaku orang-orang yang lari kebebasan. Saya jadi teringat perbincngan Ibet dan Reza di dalam mobil kala mengantar kami menuju lokasi penginapan, “Yang dibutuhkan hanyalah imajinasi,” ucapnya mengutip Spongsbob. Imajinasi saya hanya satu. kampung halaman.

Blank! Saya tidak tahu apakah ingin menulis ataukah hendak buang air. Pun kekhawatiran ketinggalan pesawat selalu hadir membayang. Rasanya ingin melompat saja dari lantai 17 dan berlari ke terminal Blok M. Menodong supir Damri agar segera mengantar saya ke Bandara. Padahal ini Jakarta, ibu kota negara, kota yang menjadi magnit. Namun, saya terasing di sini.

Pukul 09:00, saya memutuskan chek out usai menyarap sepiring nasi goreng. Kulempar senyum pada satpam sebagai tanda pamit kemudain berjalan menyusuri trotoar menuju traffic light di jalan Mampang. Saya tidak ingin naik ojek ke terminal Blok M sebagaimana saran Ibeth atau duduk manis di dalam taksi seperti yang dilakukan Usman. Meski ada kekhawatiran, saya mengaplikasikan idenya Zulkifli, perantau dari pangkep yang telah sepuluh tahun menetap di Tangerang itu, agar naik Kopaja saja ke Blok M.

Dan, saya kembali harus duduk membeku di dalam Damri, kuraih koran Kompas yang tersedia di dashboard. Lagi, warta korupsi di halaman depan. Kali ini wajah Gubernur Banten yang terpajang.

Tiba di terminal 2 bandara Soekarno Hatta, antrean chek in mengular. Jumlah penumpang tujuan Makassar memang banyak. Tak berselang lama, saya melihat orang-orang yang sepertinya saya kenal. Ya, saya kenal. Mereka adalah legislator di Pangkep. Seorang di antaranya menenteng barang yang sepertinya berat. Di kantong belanjaannya tertera logo merk sebuah produk tekstil.

Penerbangan kembali diundur hingga satu jam lamanya. Dan, saya tidak ingin menyampaikan informasi ini pada Badauni yang mungkin sudah berada di bandara Hasanuddin. Sebelumnya saya kabari jika saya berangkat lebih cepat.

Di kabin pesawat kucoba memejamkan mata sebagai upaya melupakan dingin. Meski tak berhasil. Buku yang diberi Zulkifli akhirnya menjadi teman melewati masa genting itu.

Begitu terdengar informasi jika pesawat tak lama lagi akan landing. Seketika senyumku merekah. Tubuhku tak lagi kedinginan.

Pukul 17:03 Wita, saya menemukan Badauni meneguk kopi di kedai di mana pada Jumat lalu kami berpisah di sana. Sore itu, hujan baru saja berhenti dan perjalanan pulang ke Pangkep tentulah ditempuh dengan dingin. Tetapi, dinginnya tak lagi menyentuh tulang.

***
Pangkep, 21-22 Desember 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…