Skip to main content

Timor Leste dan Saudaranya



Kesebelasan tim nasional Timor Leste mengenakan kostum dominan putih, sedangkan Indonesia mengenakan kostum utama berwarna merah. Itu terjadi di laga semifinal piala AFF  usia 19 tahun di stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur (20/9).

Sebagaimana diketahui, Timor Leste masihlah anak bawang di gelaran bergengsi tingkat negara Asia Tenggara ini, keikutsertaannya barulah kali kedua. Akan tetapi, anak-anak Timor Leste menyingkirkan Laos dan Singapura di babak penyisihan. Memuncaki klasemen dan menunggu pemenang antara Indonesia dan Malaysia yang sedang melakoni laga hidup mati dua hari sebelumnya.

Ini bukan lotre, garuda muda telah melawan takdir, Malaysia selaku lawan emosionalnya diminta pulang lebih awal. Hal yang sama terjadi pada Timor Leste, memuncaki klasemen bukanlah hasil bermain dadu, melainkan mereka berjuang guna mengubah sejarah. Dan, bukanlah takdir jika mereka harus berjumpa dengan saudara tuanya di semifinal. Ini lebih tepat disebut peristiwa sejarah.

Usia anak-anak ini masihlah muda, belum ada yang berkepala dua. Semuanya masih dalam takaran usia 16 hingga 19 tahun. Artinya, mereka masihlah di atap bumi Indonesia kala mereka lahir. Mereka sedang menghafal sejarah yang sama di bangku sekolah ketika referendum digelar di tahun 1999. Dan tentunya, mereka mengumandangkan Indonesia Raya saban Senin di pelataran sekolah ketika merah putih bergerak ke ujung tiang. Kini, mereka berjumpa di atas rumput hijau untuk menegaskan suatu kemenangan yang sebelumnya menyanyikan lagu kebangsaan negara masing-masing.

Di tribun stadion, tampak tontonan yang tidak berimbang. Semuanya didominasi pendukung tim nasional Indonesia. Mereka berteriak menyemangati garuda muda yang sedang berjuang mengamankan tiket ke final. Dalam riuh itu, bisa jadi tidak ada refleksi. Bahwa 22 orang yang mereka tonton masihlah anak-anak dari rahim yang sama. Bumi Indonesia. Mereka dipisahkan dengan sebuah diktum kemerdekaan. Wilayah di ujung timur negeri itu menolak tinggal di rumah besar Indonesia. Lagu kebangsaan dan bendera lahir untuk menegaskannya.

Tetapi, narasi sejarah itu telah berlalu. Timor Leste telah diakui secara internasional sebagai negara berdaulat di tahun 2002. Di panggung sepak bola, kepingan politik dilupakan dan nasionalisme dipuja. Pemain nomor punggung 20, Ilham Udin Armain melesakkan gol pembuka ke gawan Timor Leste melalui sepakan kaki kirinya. Ia kemudian berlari diikuti teman setim ke sisi lapangan guna merayakan gol itu. Pelatih tim nasional Timor Leste berdiri mematung menyaksikan garuda muda melakukan sujud syukur.

Dalam sejarahnya, pasukan garuda memang memiliki kemenangan lebih banyak dari Timor Leste. Pada 25 Oktober 2011, laga uji coba tim nasional usia 23 tahun mencukur pasukan Timor Leste lima gol tanpa balas. Demikian juga laga timnas senior pada 21 November 2010 yang menumbangkan Timor Leste enam gol.

Timor Leste tak banyak menuntut, tidak ada protes ke wasit ketika pencetak gol pertama garuda muda mengerang kesakitan di sisi lapangan di masa injury time. Hal yang selalu dilakukan tim yang kalah di waktu genting yang terkadang memicu pertengkaran antar pemain. Timor Leste sudah mengakui kekalahannya kala Hargianto melesakkan bola dengan kaki kirinya yang berbuah gol kedua di menit ke 60.

30 menit yang tersisa, Timor Leste tidak mengubah skema permainan. Sembilan pemain tetap setia menjaga area pertahanan. Dan sesekali mengandalkan serangan balik yang selalu saja kandas. Mereka tahu, jika bermain terbuka. Maka itu jalan bagi pemain garuda muda menambah gol. Timor Leste tahu diri, dapat berlaga di semifinal dan bertemu saudara tuanya. Itu sudah kebanggaan.

Di lapangan, kostum putih yang mereka kenakan sepertinya melengkapi garuda muda yang mengenakan kostum merah. Sang merah putih pun tampak jelas.
***

Makassar, 21 September 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…