Skip to main content

Tidak Ada Tuhan dalam Sepak Bola



Masih ingat putaran final Piala AFF tahun 2010, yang mempertemukan tim nasional Indonesia dengan Malaysia. Di Pertemuan pertama berlangsung di kandang Malaisya dengan skor 3-0 bagi kemenangan Malaysia. Meski sulit, tim Indonesia masih punya kesempatan untuk merebut trofi juara jika final pada pertemuan kedua di Gelora Bung Karno, tim merah putih mampu menjebloskan empat gol tanpa balas. Sehingga poin berimbang dan selisih satu biji gol.Namun sebagaimana diketahui, tim merah putih berhasil memenangkan pertandingan. Hanya saja dengan skor 2-1, yang berarti tim Malaysia berhak menyandang predikat juara.

Begitulah sebuah pertandingan olahraga, menguras emosi dan pikiran. Apalagi itu berupa pertandingan sepak bola yang merupakan olahraga paling digemari di dunia. Contoh pertandingan antar dua tim nasional pada gelaran final piala AFF 2010 di atas, hanyalah sebuah contoh yang saya angkat guna memasuki sebuah ruang lain dalam meneropong pergulatan pemain, pelatih, dan penonton kaitannya dengan teologi.

***

Apakah Anda mengetahui Lionel Messi? Sangat naïf jika pemain andalan tim nasional Argentina dan klub Barcelona ini tidak tersimpan di memori Anda. Saya tidak meminta untuk membayangkan gocekan bolanya kala melewati tiga hingga lima pemain sebelum memperdayai kiper. Tapi coba perhatikan ekspresi seusai menjebloskan si kulit bundar. Tak ayal lagi, ia akan mengacungkan kedua telunjuk sambil menatap langit. 

Ada apa di langit? Semua agama menyepakati kalau di sanalah simbol keberadaan Tuhan. Tetapi, tidak semua pemain sepak bola melakukan ekspresi yang sama usai mencetak gol. Ya, itu tepat, tapi lebih banyak yang melakukan yang demikian. Cristiano Ronaldo, Kaka, Drogba, dan beberapa nama beken ikon sepak bola sering melakukan ekspresi yang serupa dengan gayanya masing-masing. Bahkan pemain sepak bola di dunia timur termasuk beberapa pemain di timnas Indonesia malah sujud syukur di lapangan usai menceak gol. Apakah selebrasi yang demikian merupakan kesalehan seorang pemain? Entahlah, silahkan pembaca menafsirkan sendiri. 

Intermezo! Pembaca yang budiman, tentunya masih ingat dengan aksi Maradona, kan! Kala gol yang ia sebut sebagai ‘gol tangan Tuhan’ memulangkan Inggris di putaran piala dunia 1986 di Meksiko. Untuk melihat aksi itu, dengan muda pembaca bisa mengaksesnya di layanan You Tube.

Sekali lagi, sepak bola tak sekadar kemampuan individu sang pemain dan racikan strategi seorang pelatih. Lebih dari itu saya kira, ada kekuatan lain yang tak pernah hilang di setiap pagelaran pertandingan. Baik di tingkat tarkam maupun tingkat dunia. Ritual berdoa sebelum pertandingan dimulai tak pernah alpa dilakukan secara bersama maupun doa khusus masing-masing pemain.

Syahdan, legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff suatu ketika berujar: ‘Jika Tuhan mau adil, maka skor setiap pertandingan mestilah berimbang’ Peletak dasar total football  tim Oranye ini sangsi akan keberadaan “Tuhan” dalam sepak bola. 

Mari kita ingat kembali perilaku pemain tim nasional Indonesia dan Malaysia sebelum pertandingan final piala AFF 2010 dimulai. Sudah pasti semua pemain, pelatih dan penonton yang memadati bangku stadion memanjatkan doa kemenangan. Lantas, apakah doa itu senantiasa mengganggu “telinga” Tuhan! Karena semua menginginkan kemenangan? 

Ah! Entahlah, yang saya tahu, pemain tim nasional Indonesia sudah berusaha melawan takdir untuk mengubah sejarah.
***
Makassar, 9 Maret 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…