Skip to main content

Pahlawan dan Hafalan




Munir

Hari Sabtu lalu, saya telat pulang dari sekolah. Guru kelas tertidur di meja guna menantiku melafalkan nama-nama pahlawan pra kemerdekaan. Selain saya, masih ada empat teman yang lain yang selalu saja gagal menyebut nama pahlawan lebih dari sepuluh orang.

Jika ada tugas menghafal, maka dari 30 siswa yang ada, kami berempatlah yang selalu memeras keringat di ujung baju. Sulit sekali rasanya menghafal sesuatu dalam jumlah yang banyak. Dan, guru kelas kami telah menetapkan hari Sabtu sebagai hari untuk menghafal. Ada begitu banyak hafalan yang mesti selalu diingat. Mulai dari surah pendek, doa-doa, nama pahlawan, hingga nama bandara dan nama jalan.

Guru kelas nampaknya sangat serius dengan idenya itu. Ia rela tidak pulang hingga pukul empat sore, ia bahkan tertidur di meja menanti hafalan kami benar-benar sempurna.

Uh! Jika peristiwa 18 tahun lalu itu kembali hinggap di benak. Rasanya ingin bertanya perihal menghafal itu. Utamanya nama-nama pahlawan pra kemerdekaan, saya sangat terbebani. Sepulang sekolah, saya kehilangan kebahagiaan kala bermain dengan teman-teman di sisa sore.

Apakah anak sekolah dasar hari ini masih menjumpai hal demikian? Jika masih ada, apakah nama pahlawan yang harus dihafal masih yang itu-itu saja. Pattimura, Imam Bonjol, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cuk Nya Dien, dan yang lainnya.

Tidak adakah pahlawan yang lahir di zaman kita? Atau perlukah kita mendefinisikan ulang makna pahlawan? Atau siapakah yang sebenarnya yang pantas disebut sebagai pahlawan itu? Atau pahlawan itu, adalah Superman, Batman, Spiderman, ataukah James Bond! Ah, kepala kita ini rasanya tidak lahir bersamaan dengan tubuh kita. Sepertinya kepala yang kita gunakan merupakan barang impor dari Utara. Negara penghasil pahlawan imajinatif.

Tuan Munir yang Terhormat!

Jika hari ini ada keputusan yang dilakukan oleh negara perihal penetapan pahlawan nasional? Apakah kau sepakat kalau Jhon Key salah satunya! Bukankah lelaki asal Ambon itu telah berjuang, setidaknya bagi kelompoknya. Ataukah Habib Riziq, pemimpin Front Pembela Islam itu. Saya yakin sekali, kalau kau tidak akan sepakat.

Lalu, apakah keliru! Jika hari ini, istri Tuan dan orang-orang yang menaruh simpati atas jasamu memperjuangkan penegakan hak asasi manusia lalu berjuang menolak lupa atas apa yang menimpamu di kabin pesawat Garuda sembilan tahun lalu.

Tuan Munir! Kau bukanlah James Bond, lelaki yang juga menapaki jalan terjal di setiap misinya. Karena nampaknya, ia telah menandatangani nota kesepakatan dengan Malaikat. Nyawanya tak perlu melayang di tangan musuhnya. Tetapi Anda, Tuan! Kau masihlah seorang ayah dan suami, anak dan istrimu selalu menabung rindu kala Tuan melempar senyum di balik pagar. Mereka senantiasa menanti kepulangan Tuan.

Yang saya ingin katakan, sekali lagi, Tuan Munir! Di sekolah, anak-anak diberi tugas untuk menghafal nama-nama pahlawan. Tetapi, selalu saja ada nama yang terlewati. Terlupakan dan tak sanggup dikenang.

***
Makassar, 10 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap