Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

Belajar Berhitung Bersama Ibu

Terik mentari menari di ubun-ubun, bajuku sudah basah dengan keringat yang mengucur, kedua kakiku menjadi legam, begitupun dengan wajahku. Sepertinya siang ini hari terpanas yang pernah kulalui.

Sekitar tiga meter di depanku, seorang perempuan terus berjalan. Dia, adalah ibuku yang sesekali berhenti berbalik memandangiku.

Tidak Ada Tuhan dalam Sepak Bola

Masih ingat putaran final Piala AFF tahun 2010, yang mempertemukan tim nasional Indonesia dengan Malaysia. Di Pertemuan pertama berlangsung di kandang Malaisya dengan skor 3-0 bagi kemenangan Malaysia. Meski sulit, tim Indonesia masih punya kesempatan untuk merebut trofi juara jika final pada pertemuan kedua di Gelora Bung Karno, tim merah putih mampu menjebloskan empat gol tanpa balas. Sehingga poin berimbang dan selisih satu biji gol.Namun sebagaimana diketahui, tim merah putih berhasil memenangkan pertandingan. Hanya saja dengan skor 2-1, yang berarti tim Malaysia berhak menyandang predikat juara.
Begitulah sebuah pertandingan olahraga, menguras emosi dan pikiran. Apalagi itu berupa pertandingan sepak bola yang merupakan olahraga paling digemari di dunia. Contoh pertandingan antar dua tim nasional pada gelaran final piala AFF 2010 di atas, hanyalah sebuah contoh yang saya angkat guna memasuki sebuah ruang lain dalam meneropong pergulatan pemain, pelatih, dan penonton kaitannya denga…

Pahlawan dan Hafalan

Munir
Hari Sabtu lalu, saya telat pulang dari sekolah. Guru kelas tertidur di meja guna menantiku melafalkan nama-nama pahlawan pra kemerdekaan. Selain saya, masih ada empat teman yang lain yang selalu saja gagal menyebut nama pahlawan lebih dari sepuluh orang.
Jika ada tugas menghafal, maka dari 30 siswa yang ada, kami berempatlah yang selalu memeras keringat di ujung baju. Sulit sekali rasanya menghafal sesuatu dalam jumlah yang banyak. Dan, guru kelas kami telah menetapkan hari Sabtu sebagai hari untuk menghafal. Ada begitu banyak hafalan yang mesti selalu diingat. Mulai dari surah pendek, doa-doa, nama pahlawan, hingga nama bandara dan nama jalan.
Guru kelas nampaknya sangat serius dengan idenya itu. Ia rela tidak pulang hingga pukul empat sore, ia bahkan tertidur di meja menanti hafalan kami benar-benar sempurna.
Uh! Jika peristiwa 18 tahun lalu itu kembali hinggap di benak. Rasanya ingin bertanya perihal menghafal itu. Utamanya nama-nama pahlawan pra kemerdekaan, saya sangat terbe…