Skip to main content

Kota dan Toko Buku



Apa pentingnya toko buku di sebuah kota? Saya kira di mana pun kita lahir dan besar. Kita pasti punya sejarah lampau akan sebuah wilayah yang ramai, yang disebut sebagai kota. Jadi, pertanyaan di atas adalah sebuah ajakan untuk menetapkan di kota mana Anda melewati masa kecil hingga dewasa. Setidaknya kita punya ingatan akan kota itu.

Saya sendiri melewati sekolah dasar hingga lulus sekolah menengah pertama di Pangkep, sekitar 60 Km sebelah utara kota Makassar. Ketika SMP, seringkali saya membolos dan memilih kota sebagai pilihan utama guna berkeliaran. Merayakan kebebasan dari kurungan ruang kelas. Selain mangkal di terminal, petualangan lainnya mengunjungi Toko Pelajar, satu-satunya toko buku yang ada di kota ini. Meski tak sepenuhnya menawarkan buku bacaan yang banyak. Tapi toko inilah yang selalu menjadi rujukan jika ingin membeli buku.

Tujuan berkunjung ke toko ini bukanlah membeli buku, tapi sebagai bahan cerita bagi teman-teman di sekolah ke esokan hari. Kalau petualangan bolos kemarin, saya sudah berkunjung ke sana. Menceritakan kalau album terbaru Slank sudah beredar, dengan cerita hebat itu. Saya akan menemukan garis sesal di wajah teman karena menolak ikut membolos. Atau mengarang cerita, kalau harga bola basket rupanya tak semahal yang dibayangkan.

Begitulah, satu-satunya toko buku di kota Pangkep yang tak sepenuhnya menjual buku. Alat olahraga pun tersedia. Dan hari ini, tak lagi menjadi sumber utama untuk mengetahui info terbaru peredaran album terbaru para musisi.

Setamat sekolah menengah pertama, saya memilih Makassar sebagai kota yang akan kutinggali selama tiga tahun. Sebenarnya ini tak sepenuhnya pilihan. NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya tak cukup dipakai mendaftar di sekolah menengah atas di Pangkep. Atas kolega salah satu kakak ipar, jadilah nama saya terdafatar di SMK 1 LPP YBW UMI. Masuk sekolah jurusan pun bukan pilihan. Tapi itulah narasi takdir yang saya jalani di sepanjang tahun 2001 hingga diluluskan pihak sekolah di tahun 2003. Saya yakin kalau kelulusan saya dipaksakan. Sebab, saya tidak yakin dengan jawaban kala ujian akhir.

***
 
Rupanya ruang bolos di kota besar tak sepenuhnya membahagiakan, sekali waktu saya masih ke Pangkep merayakan keluyuran. Mencari teman SMP di sekolahnya masing-masing lalu mengunjungi lokasi bolos favorit: Terminal kota yang sempit.

Barulah di akhir masa sekolah, toko buku di Makassar menjadi pilihan membolos. Semua toko buku saya tahu dan sudah pernah kukunjungi. Dari jejak waktu itu, saya menemukan lahirnya toko buku baru sekaligus mendapati matinya beberapa toko buku.

Tahun 2005 hingga 2006, ketika menjalani hidup di Sorong, Papua Barat. Di sudut tertentu saya menangkap wajah kota masa kecilku. Dari hiruk pikuk kehidupan manusianya, hanya ada sebuah toko buku.

Sepertinya sayalah pengunjung setia toko buku itu, di akhir pekan saya selalu berdiri di hadapan salah satu rak di sana. Karena buku yang pantas saya baca cuma terpajang di situ, dan jumlahnya tak banyak. Beberapa di antaranya sudah saya curi, karena saya pikir tak akan ada yang mau membelinya.

Mungkin sama dengan di Pangkep, membangun toko buku di Sorong bukanlah pilihan usaha. Pengunjung tak seramai di toko pakaian atau toko elektronik yang selalu menyajikan produk terbaru.
Mungkin ini pula sebagai jawaban sementara untuk pertanyaan di awal tulisan. Bahwa membangun toko buku di sebuah kota bukanlah sesuatu yang penting.

***

Makassar, 5 Januari 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…