Skip to main content

Kamar Bawah, Perihal dan Riwayatnya


Saya tidak ingat dengan pasti, kapan pernah membuat riwayat pembuatan blog ini, tetapi itu pernah saya lakukan di pertengahan tahun 2010 atau di awal tahun 2011. Karena sesuatu hal postingan itu terhapus. Sungguh saya sedih, kematian catatan itu akibat kelalaian saya sendiri. Saya tidak menuliskannya di file word, melainkan langsung merangkai kata di laman blog. Catatan itu termasuk tulisan terbaik yang pernah saya buat. Melebihi beberapa catatan yang hidup di kamar bawah ini. 

Jika Pramoedya Ananta Toer pernah berucap, kalau catatan yang ia hasilkan tak lagi ia baca dan membiarkannya hidup sebagaimana perlakuan pembaca terhadapnya. Saya berbeda, setiap catatan yang lahir selalu saja kudaras. Termasuk yang terpublikasi di media. Saya menapikan nasihat yang menabalkan jika tulisan yang telah terpublis ada baiknya tidak perlu dibaca lagi. Sebab itu jalan melahirkan ketidakpuasan. Dan, itu benar adanya, beberapa catatan yang kulahirkan yang kemudian mencari hidup di media, rupanya tidak menyimpan kepuasan setelah kubaca ulang. Penyakit inilah yang kuidap hingga kini. Dampak yang lain, saya menjadi malas menulis setiap kali mendaras catatan. Sepertinya saya gagal.

Kembali soal kamar bawah, nama ini pernah pernah saya gunakan di tahun 2009 atas bantuan Chermanto Tjaombah, kawan semasa SMP yang meyakinkan kalau blog merupakan cara mudah bagi penulis pemula mempublikasikan karya. Menurutlah saya, dan blog itu akhirnya tak terurus hingga saya lupa kata kuncinya. Di sana cuma ada satu postingan cerpen dan pajangan foto saya hasil jepretannya kala terlibat penggalangan dana untuk Gaza. Blog malang itu tetap terbaca,  bisa dilihat di sini.

Di tahun 2010, Saiful Mujib, staf Yayasan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR-SULSEL) yang saat itu menyelenggarakan Sekolah Demokrasi Pangkep. Membantu membuatkan kembali blog. Jadi, sekali waktu saya berkunjung ke kantor LAPAR, di sanalah blog ini kembali dilahirkan. Kali ini saya lebih siap, aktivitas di luar tidak lagi menjadi penghalang untuk mengurusi di kamar ini. Saban Minggu, selalu saja ada perabot terbaru yang menghiasi dinding, lantai, dan plafon kamar ini. 

Di awal terbangunnya kamar ini, hampir setiap saat saya mendekornya, semua layanan template kuujicobakan guna meraih suatu kepuasaan. Alhasil, warnah biru langit bertahan hingga dua tahun. 

Kamar bawah, saya kira sebutan yang tidak begitu indah. Merujuk pada kamar saya di kolong rumah. Setelah menamatkan sekolah menengah atas di Makassar tahun 2003. Saya pulang ke kampung halaman, desa Kabba, Pangkep, Sulawesi Selatan, dan membangun kamar berdinding bambu, tujuannya sebagai ruang terlelap jika pulang larut sehingga tidak perlu membangunkan emak untuk membukakan pintu.

Di kamar inilah saya bersembunyi dari matahari yang selalu saja cepat muncul. Di sini tidak ada dipan, hanya sehelai tikar pandan dan sebuah guling. Tidak ada jam dinding, karena detaknya sangat menganggu. Juga tidak ada kalender, sebab angka-angka yang tertera sepertinya seekor anjing yang menggonggong. Saya tidak suka dengan kedua hiasan dinding itu.

Intinya, di kamar inilah saya berlindung dari segala musuh. Termasuk ocehan tetangga, emak, dan saudara yang selalu mengingatkan agar segera mencari pekerjaan sesuai ijazah yang telah kuraih. Hemm! Di kamar ini pula saya menyembunyikan sejumlah rahasia. Jika ijazah saya masih disandera pihak sekolah karena saya menunggak SPP tiga bulan. Saya tidak ingin menyampaikan hal ini pada emak. Kubiarkan terus mengendap hingga saya peroleh uang sendiri untuk menebus selembar kertas itu. 

Saya selalu tertutup jika menyangkut urusan sekolah. Termasuk soal beasiswa yang kudapat dengan bekal tiga juz hafalan Alquran. Saya tidak menganggap ini sebagai prestasi, itulah alasan untuk merawatnya sebagai rahasia. 

Di kamar inilah saya menemukan dunia sunyi yang membahagiakan. Ada lima kardus buku yang kuungsikan dari kamar asrama di Makassar. Semuanya aman di kamar ini. Saban hari, buku-buku itulah yang menemaniku. Menjumpai dunia pengetahuan yang tidak kudapatkan di sekolah. Bila malam tiba, mulailah saya mencatat apa saja. Puisi, cerita, dan catatan harian. Juga sejumlah surat. Hingga kini, arsip catatan itu masih tersimpan rapi. Sekali waktu, saya mendarasnya dan kutemukan diriku berada di balik punggung bukit seorang diri. Tertawa, kadang air mata melengkapinya. 

Di akhir 2004, tepatnya 26 Desember. Tsunami melanda Aceh, dan saya harus melakoni sebuah perjalanan ke Sorong, Papua Barat. Berhenti bersembunyi di kamar sudah usai, beberapa buku saya bawa guna melengkapi rantau ini. Selebihnya tersimpan rapi di dalam kardus. Jika ada kekhawatiran, itu merujuk pada nasib buku-buku yang akan kutinggalkan. Soal kamar, saya telah merelakannya jika harus dibongkar atau dijadikan gudang menyimpan gabah atau dijadikan kandang itik.

Sepulang dari rantau di tahun 2006, kamar bawah saya sudah raib. Kini berganti sebagai ruang yang lebih bersih, dilengkapi kasur empuk, sebuah lemari dan jejeran tegel putih menghiasi lantainya. Kini menjadi kamar tidur kakak lelaki saya.

Kira-kira semangat itulah yang menjadi latar lahirnya kamar bawah dalam wujud blog yang mulai saya bangun di tahun 2008 dan saya lahirkan kembali di tahun 2010.

Mengingat jejak-jejak itu, ada kalimat yang tidak pernah berubah. Apa yang telah kudapatkan hingga hari ini. Entahlah! Di usiaku yang ke 29 tahun. Saya telah menikah dan kini istriku tengah mengandung. Ini persis dengan keinginanku di tahun 2003, saya menyimpan ingatan di dinding kamar kalau usia 29 adalah waktu yang tepat membangun keluarga. Sepotong ingatan menerbitkan buku juga ada di sana, yang di antaranya mulai disusun di kamar bawah ini. Pun sudah terwujud. Ya, di kamar bawah inilah saya menggambar peta perjalanan hidup. Dan, di tanggal 29 Agustus tahun 2013 ini, saya kembali menuliskan riwayat ini.

***
Makassar, 29 Agustus 2013

Comments

  1. Wah! Terima kasih, kapan-kapan, singgahlah menginap

    ReplyDelete
  2. rasa-rasanya daku pernah merasakan kehangatan kamar bawah ntu

    ReplyDelete
  3. WAAH SENANG SKALI MENEMUKAN KAMAR BAWAH INI,,,HISTORY DI BALIK PEMBERIAN NAMANYA SUNGGUH MENARIK,
    ANAK PANGKEP BISA TONJI...

    TABE',,BUKUNYA YG TELAH TERBIT JUDULNYA APA??

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap