Skip to main content

Jejak di Dunia Maya


Sejauh ini, saya harus menyimpan dan bila perlu menghafal beberapa kata kunci sejumlah akun di dunia maya. Pertama, tiga akun facebook beserta emailnya masing-masing. Kedua, tiga blog dan satu akun twitter. Ketiga, dua akun pada sebuah website penerbit tempat saya menerbitkan buku. Totalnya, saya harus bisa mengingat 13 kata kunci, sebab saya harus membuat email baru guna membuat akun twitter.

Menjelaskan semua akun-akun di atas, sungguhlah pekerjaan yang lebih menyesakkan dibanding mencangkul di kebun. Akan tetapi, pembuatannya bukanlah tanpa sebab. Maksud saya, kesemua akun di dunia maya itu benar-benar saya butuhkan. Mulai dari promosi karya hingga mencari uang.

Di blog kamar bawah ini misalnya, tulisan terbaru yang telah saya lahirkan, pertama kali akan saya promosikan di sini. Kecuali jika ada karya yang perlu dikirim ke media yang lain. Setelah dimuat ke media tujuan atau ditolak, maka karya itu akan saya tanam di blog ini agar bisa tumbuh dan menjumpai pembacanya.

Jadi, di situs pertemanan dunia, saya bisa dijumpai di sini, di twitter, Anda bisa ke sini. Selain blog ini, saya juga mengelola blog lembaga Lentera Management dan sebuah blog yang saya gunakan bila sedang mengikuti kontes blog.

Kira-kira seperti itulah jejak saya di dunia maya.

***
Makassar, 30 Agustus 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…