Skip to main content

Tentang Buku yang Keliru



Asrul Sani

Mei 2004. Pagi-pagi sekali saya bergegas ke Makassar, semalam sudah kusiapkan seragam putih abu-abu yang kupinjam dari seorang pelajar dekat rumah. Saya ingin menyamar menjadi siswa, agar dapat menjadi peserta di program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang dilaksanakan majalah Horison.

Dua hari sebelumnya, seorang kawan pelajar di Makassar mengabarkan informasi tersebut. “Selain Taufik Ismail, Emha Ainun Ndajib, dan Putu Wijaya. Asrul Sani juga bakal hadir, begitu yang tertera di undangan.” Ucapnya di ujung telepon. “Wah, Asrul Sani pasti sudah tua.” Ucapku.

Karena belum membaca buku Surat-Surat Kepercayaan Gelanggang, saya hanya membaca ulang buku Prahara Budaya yang saya curi pada tahun 2002 di perpustakaan daerah Sulawesi Selatan. Di buku itu saya peroleh informasi perihal kiprahmu di Manifesto Kebudayaan. Saya lalu menyusun daftar pertanyaan yang nantinya saya ajukan langsung kepadamu, Tuan Asrul Sani!

Dengan seragam putih abu-abu yang kukenakan dan adanya kenalan pelajar yang turut menjadi panitia di program SBSB. Saya berhasil mendapatkan kursi di urutan kedua dari depan. Saya duduk manis di sana menunggumu muncul di podium, Tuan Asrul Sani!

Acara dibuka dengan pengantar dari Djamal D Rahman, anggota redaktur Majalah Horison. Sesudahnya, Taufik Ismail dan Emha Ainun Ndajib bergantian membacakan puisi-pusinynya. Lalu giliran Putu Wijaya berjingkrak mengelilingi ruangan membacakan cerpen Merdeka.

Kau belum juga terlihat, Tuan!

Kertas yang berisi konsep pertanyaan yang telah kususun masih terlipat rapi di saku. Pembacaan cerpen Putu Wijaya menyihir seluruh hadirin. Pasukan putih abu-abu terkesima dan takjub menyaksikan itu. Semua pasang mata tertuju kepadanya. Jika ada pengecualian, itu adalah saya, beberapa kali saya menoleh ke belakang menanti sosok tua. Tidak sabar ingin melihatmu langsung.

Tuan Asrul Sani! Kemarin, melalui proyek penulisan 30 hari menulis surat ini. Saya berkirim surat kepada sahabatmu, Chairil Anwar. Saya menceritakan sepetak kisah kala masih sekolah dasar. Sebenarnya, saya ingin pula mengingatkannya tentang kisahmu berdua, saat kau dan Chairil Anwar mencuri buku. Tetapi, itu tidak saya sampaikan, khawatir kalau Chairil Anwar mengumpat. Karena kau salah mengambil buku ketika itu, mestinya, buku tebal karya si kumis lebat, Nietzche. Eh, malah buku lain yang kau ambil

Moderator sudah memilah peserta yang berhak mengajukan tanya. Dan, saya termasuk yang berhasil diberi kesempatan. Tak berselang lama, Taufik Ismail memotong jalannya sesi tanya jawab. “Adik-adik, saat ini kita kedatangan tamu kehormatan. Sastrawan angkatan 45, Asrul Sani.” Ucapnya.

Moderator menunda sesi tanya jawab, lalu mempersilakan Taufik Ismail berbicara lagi. “Sebelum tanya jawab dilanjutkan, ada baiknya kita menyimak Asrul Sani membacakan puisinya dahulu.”

Saya melihatmu duduk di kursi roda, Tuan! Dibantu dengan istrimu, kau membacakan puisi Anak Laut dengan suara berat, terputus, dan pelan. Sesudahnya, kau berlau.

 “Kami meminta maaf, karena Asrul Sani tak bisa berlama-lama bersama kita di sini, ia butuh istirahat.” Kata Taufik Ismail.

Tuan Asrul Sani! Tahukah kau, saya menyusun pertanyaan khusus untukmu. Tetapi sudahlah, saya sudah melihatmu secara langsung. Kurasa itu sudah cukup.

Sesi tanya jawab kembali dilanjutkan, saya kembali duduk manis. Mulutku terkunci, kurasa tidak ada lagi yang perlu saya tanyakan.

Tuan Asrul Sani! Sejak mengetahui kisahmu dengan Chairil Anwar yang pernah mencuri buku. Serasa itu adalah pijakan bagiku, melakukan hal yang sama dengan niat menyalamatkan buku dari serangan rayap. Lagi pula, perpustakaan selalu saja sepi. Alasan lainnya, tahun-tahun itu, 2002 hingga 2004, saya tak cukup uang guna membeli buku. Apakah saya keliru, Tuan! Jika saya mengutil buku dengan niat yang demikian.

Jika Tuan bertemu Chairil Anwar di sana, kuharap, Tuan mau menceritakan isi suratku ini. Terima kasih.

***
Makassar, 8 November 2012

Comments

  1. wahh.. penyakit menguntil buku juga sy dapat dari ayahku, kak. sekarang diwariskan ke sy. heheheee... "...melakukan hal yang sama dengan niat “menyelematkan” buku dari serangan rayap. Lagi pula, perpustakaan selalu saja sepi.."

    ReplyDelete
  2. Wah, ayo selamatkan buku di perspustakaan yang sebentar lagi hancur dimakan rayap

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…