Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Pemuda, Orang Tua, dan Perubahan

Seorang pemuda berusia 22 tahun berprofesi sebagai guru anak-anak di sebuah perkebunan di Deli (Sumatra Utara). Di sana, ia melihat ketimpangan sosial antara kehidupan getir kaum buruh dan kemewahan tuan tanah. Ia tidak terima realitas itu. Sebagaimana dirinya juga tidak diterima oleh petinggi perusahaan perkebunan.

Tentang Buku yang Keliru

Asrul Sani
Mei 2004. Pagi-pagi sekali saya bergegas ke Makassar, semalam sudah kusiapkan seragam putih abu-abu yang kupinjam dari seorang pelajar dekat rumah. Saya ingin menyamar menjadi siswa, agar dapat menjadi peserta di program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang dilaksanakan majalah Horison.
Dua hari sebelumnya, seorang kawan pelajar di Makassar mengabarkan informasi tersebut. “Selain Taufik Ismail, Emha Ainun Ndajib, dan Putu Wijaya. Asrul Sani juga bakal hadir, begitu yang tertera di undangan.” Ucapnya di ujung telepon. “Wah, Asrul Sani pasti sudah tua.” Ucapku.
Karena belum membaca buku Surat-Surat Kepercayaan Gelanggang, saya hanya membaca ulang buku Prahara Budaya yang saya curi pada tahun 2002 di perpustakaan daerah Sulawesi Selatan. Di buku itu saya peroleh informasi perihal kiprahmu di Manifesto Kebudayaan. Saya lalu menyusun daftar pertanyaan yang nantinya saya ajukan langsung kepadamu, Tuan Asrul Sani!
Dengan seragam putih abu-abu yang kukenakan dan adanya kenalan…

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Aku Mau Sekolah Seribu Tahun Lagi

Chairil Anwar
Sebuah panggung sederhana berdiri di halaman gedung sekolah, beratap tenda plastik biru. Esoknya, akan diadakan lomba baca puisi untuk menyambut libur panjang usai ulangan penaikan kelas.
Dua hari yang lalu, wali kelas telah menjelaskan ulang siapa itu Chairil Anwar, beserta beberapa puisinya yang harus dibacakan, tak lama berselang, ia mengeluarkan gelas berisi potongan kertas yang digulung ke dalam pipet, serupa perlengkapan arisan. Para siswa diminta untuk mengeluarkan potongan kertas itu melalui lubang kecil yang menjadi penutup gelas. itulah pilihan puisi yang akan dibacakan saat lomba nanti.
Sama dengan dua tahun sebelumnya, saya mengintip di balik jendela menyaksikan teman-teman mengantre. Saya tidak mau terlibat dalam lomba itu, saya ingin menjadi penonton saja. Saya merasa tidak bisa dan dan tidak tertarik dengan lomba baca puisi.
Hari yang dinanti, siswa-siswi yang yang telah menggenggam secarik kertas berisi puisi, tampak tegang, di wajahnya menggantung awan teba…

Di Radio, Saya Melihat Agnes Monica Melantunkan Kebyar dengan Dada Membusung

Gombloh
Dalam sebuah program di televisi, dihelat pagelaran musik sebagai wujud dalam memperingati hari pahlawan. Ada banyak sekali penyanyi dari berbagai genre yang tampil. Di antaranya, Agnes Monica.
Gombloh! Saya ingin memberi tahu, kalau karyamu turut dinyanyikan di panggung yang banjir cahaya itu. Dan, disaksikan jutaan pasang mata seantero negeri. Hujan deras di Minggu kedua November 2008, memintaku untuk tidak bergeser dari layar kaca. Menuntaskan pagelaran itu sebagai pilihan terbaik di antara kepungan sinetron dan berita yang juga mirip sinetron.
“Indonesia/Merah darahku/Putih tulangku/Bersatu dalam semangatku…../”
Sangat menggelegar. Agnes Monica yang meneriakkannya, Gombloh. Penyanyi yang tidak pernah kau tatap, dan sebaliknya. Semua penonton yang ada di studio larut dan ikut bernyanyi bersama. Agnes Monica tidak memperagakan tarian modernnya, Tetapi sesekali, ia mengacungkan tinju ke udara. Dadanya membusung, mungkin ada nasionalisme yang sedang tumbuh.
Tuan Soedjarwoto Soemar…

Kelas Menulis yang Tak Biasa dari Asdar Muis RMS

Langit masih cerah, kala sejumlah pelajar SMU dan mahasiswa serius mendengarkan seorang lelaki tambun berbicara. Sejam kemudian, gerimis mulai turun. Asdar Muis RMS, lelaki tambun tersebut, sepertinya masih betah duduk berselonjor di selasar Tribun lapangan Citra Mas, Pangkep.