Skip to main content

Puisi dalam Kuburan





 
Lagi, saya menemukan sebuah buku yang sebelumnya tak pernah kudengar wartanya. Buku kecil bersampul perpaduan merah dan putih dilengkapi vignet, sangat sederhana saya kira. Sesederhana dengan harganya, tiga ribu rupiah. Saya menemukannya di toko buku Papirus, Makassar.

Buku 104 halaman ini diterbitkan Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (Lephas) pada 2002. Memuat 102 judul puisi dan dibubuhi kata pengantar oleh Asdar Muis RMS. ‘Republik yang Terbakar‘ judul buku antologi puisi itu, karya Ras A Gaffar kelahiran Pangkep 27 Juli 1948.

“Memang, Ras yang merupakan salah satu 'produk lama' perpuisian pasca genereasi Husni Djamaluddin di Makassar.“ Tulis Asdar Muis RMS (Hal. Xiv). Ciri puisi itu ditandai dengan tidak memikirkannya secara teoritis, tapi geliat kata yang berkelabat, memberikan ruang yang lapang pada pembaca untuk menafsirkannya.

Mari simak puisi berjudul Rumah Dekat Kuburan: Setiap kali kulihat orang menggali/lubang untuk yang mati/mereka menguburnya rapat-rapat/lalu dibacakan talkin/mengantarkan nyawa kehariabaan-Nya/semua tertunduk dalam duka dan doa/dan akupun selalu hadir di situ/merenungkan kematian yang tak pernah terduga/lalu kulihat sang penggali kubur itu/masih sempat menikmati asap rokoknya/sambil bercanda dan sedikit bangga/karena tugasnya telah selesai/dan dengan itulah mereka bisa hidup/dan mereka tak pernah peduli/suatu saat bukan mereka lagi yang menggali/untuk kuburannya sendiri. (Hal. 40)

Sangat jelas, kan! Mencernah puisi di atas saya kira tak perlu lagi referensi tambahan, karena yang demikian boleh jadi pengalaman kita sendiri. Saya bahkan selalu hadir di pemakaman dan turut menggali jika ada kerabat atau sanak yang wafat. Bahwa apa yang dikatakan Ras: “...lalu kulihat sang penggali kubur itu/masih sempat menikmati asap rokoknya/sambil bercanda dan sedikit bangga/karena tugasnya telah selesai/...“ Itu juga tingkah yang saya lakukan dengan penggali yang lain jika tugas sudah selesai. Lalu kami bersenda: “Kira-kira, siapa di antara kita yang lekas dikuburkan“. Itu terucap begitu saja dan tawa mengikutinya.

Puisi Rumah Dekat Kuburan ini saya pilih sebagai bahasan, karena rumah saya memang dekat dengan pemakaman. Kala kecil, saya senang kalau kuburan menjadi ramai. Sebab, saya tak kesepian mengembala Kambing di sana, selain itu, para penggali kubur akan mengulang kisah lucu almahrum yang menjadi gurau di sepanjang penggalian.

Tentu saja Ras A Gaffar tak hanya menulis puisi tentang kuburan. Ada banyak tema dalam kumpulan puisinya ini. Kadang ia marah, merenung, bercanda, juga mengungkapkan dosa yang pernah ia buat. Sangat jujur, saya kira. Asdar Muis RMS menegaskan di akhir kata pangantarnya, kalau Ras A Gaffar telah bugil di depan kita.

***

Makassar, 22 Mei 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap