Skip to main content

Semalam di Malaysia



Syam D’lloyd

“Aku pulang/Dari rantau/Bertahun-tahun di negeri orang/ Oh Malaisya…”

Syamsiar Hasyim yang terhormat! Lirik di atas, tentu sangat kau kenal, kan! Ya, itulah tembang yang pernah kau dendangkan bersama grup legendarismu, D’lloyd.

Syam! Kepergianmu tak seheboh berita kematian Mbah Surip, sungguh! saya berani bertaruh untuk itu. Saya heran saja, sebuah panggilan memaksaku berhenti di tengah perjalanan. Hanya untuk berbagi keyakinan bahwa kau telah berkalang tanah. Syam! Kawan itu, hampir separuh hidupnya dilakoni sebagai pencari warta. Itulah dasar untuk mengatakan, bahwa di ujung hari yang kau tatap, hanya sedikit yang mengetahui kematianmu. Hal ini boleh jadi, berlaku pula pada sebagian penggemar suara cengkokmu.

Syam! Hari ini, saya kembali memeriksa tumpukan kardus sejarah, berharap dalam ingatan perkembangan musik di tanah air, saya menemukan berkasmu di salah satu tumpukan itu. Aha! Selain Koes Plus dan Pambers. D’lloyd juga ada di sana. Saya bahagia menemukan beberapa keping piringan hitam yang menyimpan tembang-tembangmu, Syam.

Jadi, bukan suatu keheranan jika hari ini bermunculan penyanyi yang bersuara cengkok sepertimu. Karena ia punya ibu sejarah yang telah mengandungnya. Dan saya kira, kau salah satu yang menanam janin itu.

Syam! Kau adalah Ayah, yang dicintai dari anak-anakmu yang tumbuh berkembang dari asuhan ibu yang berbeda. Satu di Malaysia, selebihnya di tanah air. Meski ada petak rumah, anak-anakmu di Malaysia menaruh hormat yang dalam. Mereka tak berani mengganti bajumu, karena kau tetap diingat sebagai Ayah dari negeri seberang. Sebagaimana pada karyamu, mereka menyanyikannya sebagai anak yang berdarah merah putih. Tidak ada pencaplokan.

12 Mei 2012, kau kembali menginap semalam di Malaysia guna berdendang dan menjumpai anak-anakmu di sana. Sepulang dari rantaumu itu, kau pulang beristirahat di tanah airmu, kau tak lagi melakukan perantauan, kau sungguh ingin istirahat, Syam. 9 Juni 2012, kau pun berdendang di langit.

Syam! Kau selalu saja merantau hingga tak cukup bagi kami di negeri ini menatap akrab wajahmu.

***
Makassar, 5 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…