Skip to main content

Gitar Satu Senar dan Wajah Orde Baru



Harry Roesly

Minggu pagi sekitar pukul 9, saya hampir saja berkelahi dengan anak tetangga. Pasalnya, saya menolak melanjutkan permainan kelereng. Ia ngotot, karena ingin menebus kekalahannya kemarin.  

Rupanya, nasib baik berpihak padaku. Emaknya segera datang melerai. Saya bisa rugi dua kali jika adu jotos itu terjadi. Pertama, karena saya yakin tak punya kuasa untuk menangkis pukulannya. Kedua, saya bisa ketinggalan acara album Minggu di TVRI.

Apa kau tahu, Kang Harry! Saya tidak ingin melewatkan video klipmu. Meski usia saya kala itu masihlah 7 tahun, dan program tembang anak juga ada, tetapi saya ingin berbeda, saya tidak mau menyanyikan Abang Tukang Bakso, Nyamuk-Nyamuk Nakal, atau Ayo Menabung.

Mereka pikir saya tak pandai menyanyi karena suara saya jauh dari merdu, sekali waktu saya ditertawakan mendendangkan Abang Tukang Bakso. Saya dianggap telah merusak tembang itu, karena bunyi yang keluar dari mulutku lebih tepat disebut lenguh kerbau.

Tahukah kau, Kang Harry!

Seketika ada pohon yang tumbuh di kepalaku. Saya merasakan akar dan ranting pohon itu berkelabat liar. Sungguh! Saya melihat anak-anak yang meneterwakanku terikat oleh akar di batang pohon itu. Tak bisa lepas hingga berhari-hari.

Kira-kira demikian ingatan masa kecil menghampiri saat surat ini kutulis untukmu, Kang Harry.

Dua puluh delapan tahun kini, Teman masa kecil yang dahulu menertawakanku kembali heran. Ia tak pernah memergokiku mendengarkan suara Boy Band, Girl Band, Band Pop, apalagi K-Pop. Karena saya tidak mau kapok untuk kedua kalinya. Sejak saya mendengarkan suara beratmu memetik gitar satu senar, saya jadi sepakat kalau suara merdu itu cuma hegemoni.

Dengan sengaja dan dengan kepiawaian terbatas, saya sering memetik gitar menyanyikan lirik Gitar Satu Senar di depan teman masa kecil itu. Meski ada senyum kikuk. Tapi tidak ada lagi pohon yang tumbuh di kepalaku Kang Harry, saya menyadari kalau selera itu tak bisa dipaksakan.

Kang Harry! Saya kira kau tak perlu heran jika hari ini program musik semakin banyak muncul di televisi. Walau sebenarnya yang banyak itu seragam, sekaligus yang banyak itu jenis musikmu tak terwarisi.

Musik hanyalah media. Ya, saya kira kita sepakat. Musik adalah ruang yang bisa diterima semua golongan, pada kasus tertentu, saya kira kita pun sepakat. Musik adalah perlawanan yang terselubung, hemmm! Ya, sepakat. Tetapi perlawanan kepada siapa? Ya, siapa yang tersinggung. Musik adalah, na, na, na, na, na!

Kang Harry, seorang kawan pernah menyodorkan pertanyaan seperti ini: “Siapa mahkluk Tuhan yang paling bodoh” Saya berfikir keras untuk itu, tak ingin menzalimi lebih lanjut. Kawan itu memberikan jawaban yang tak kalah hebatnya. Dengan enteng ia menyebut, Malaikat. Ya, Malaikat. Bukankah ia pencatat segala tata laku manusia? Lantas, mengapa ia masih bertanya pada manusia di liang lahad. Siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, dan apa Agamamu?” Geeeerrrrrrrrrr.

Kang Harry, dengan semangat yang sama, saya juga ingin mengajukan tanya padamu. “Rezim apa yang paling bodoh di negeri ini?” Saya yakin, kau pasti tersenyum. Karena kau sangat tahu, apalagi kalau bukan rezim Orba. Iya, kan!

Hahahahah! Kau teramat piawai menulis lirik Kang Harry. Bukankah lagu Gitar Satu Senar merupakan krtikanmu terhadap rezim itu. di video klipmu kau benar-benar tampil memetik gitar satu senar. Tentu dengan beragam bunyi meski cuma satu senar. Karena dalam musik tidak ada azas tunggal, sebagaimana yang diinginkan Orba yang hendak menyeragamkan segala lini kehidupan manusia di negeri ini.

Menjadi pertanyaan, mengapa lirik itu tidak dilarang, padahal era itu telinga Orba masih sangat peka. Apakah kita sepakat kalau itu kekeliruan (baca: kebodohan) Orba? Ya, salah satunya terletak di situ? Hemmmmm!

Kang Harry, sebagai penutup, izinkan saya mendendangkan lirik yang gagal diharamkan itu.

“Aku ingin membuat lagu/Tapi tidak punya alat musik/Hanya ada sebuah gitar tua/Milik kantor P dan K/Tapi itu satu-satunya sarana/Yang saat ini aku punya/Jadi ya sudah/Aku pakai saja/Uh!

Tapi mohon maaf para pendengar/Gitar ini cuma punya satu senar/Jadi hanya dengan gitar satu senar/Aku coba untuk berkarya/Jadi orang memang harus kreatif/Gitar satu senar bukanlah halangan/Aku buat lagu/Dengan gitar satu senar/Yeeahh!! Uh.

Gitar satu senar bukan halangan/Anggap saja dengan gitar satu senar/Seperti hidup dengan azas tunggal/Jadi memang enggak boleh ada perbedaan.

Padahal dengan gitar satu senar/Aku mainkan banyak sekali nada/Jadi biar hanya dengan gitar satu senar/Perbedaan tetap kita rasakan/Itu sudah fitra dari sananya/Semua orang tak ada yang sama/Jadi kenapa?/Sekarang semua harus seragam.

Padahal/gitar satu senar bisa memainkan banyak sekali nada/Dan orang itu kan tidak satu senar/jadi kenapa?/Kenapa?/Aku bertanya/Bagaimana kalau akau tidak mau seragam/Wah! Itu sih ndak mungkin/Payah deh!/Eeeee!/Mampus aja loe!

***
Makassar, 2 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…