Skip to main content

Franky! Kita pun Heran



Franky Sahilatua

Seorang kawan menulis di laman blognya tentang keheranannya melihat perubahan tokoh idolanya. Ia khawatir kalau sang idola menjadi rusak, manakala terlibat dalam sebuah ormas yang bergerak menuju panggung politik praktis.

Di postingan itu, ia memajang fotonya bersamamu, Franky! Senyumnya lebih lebar dari senyummu. Ia sangat bahagaia. Tak lupa ia menuliskan sepotong lirik Perahu Retak: “Aku heran/Aku heran/Yang salah dipertahankan/Aku heran/Aku heran/Yang benar disingkirkan….”.

Franky! Ketika kau wafat, kawan itu murung sejadi-jadinya, kau hanya meninggalkan sejudul tembang baru untuknya: Aku Mau Presiden Baru, dalam pelbagai kesempatan, ia melafalkan tembang itu di hadapanku.

“Apa iya, Franky tak puas sebagai musisi saja, sehingga merasa perlu memasuki sebuah ruang lain, agar dekat dan lebih mudah mempengaruhi kebijakan publik!” Ucapnya, usai melafalakn lirik itu.

Franky! Saya kira perjalanan waktu senantiasa menuntut perubahan. Kau merasakan itu, kau gelisah karenanya, karena itu saya kira, kau tak mau dijawab oleh waktu. Tetapi kaulah yang hendak membuat pertanyaan. Dunia ini memang penuh keheranan. Dan keheranan itu pula yang membuat kita selalu bertanya. Mengapa, kenapa, dan ada apa.

Franky! Saat surat ini kususun, keheranan seorang kawan lainnya ikut menginap di kamarku. Ia menolak pulang, menuntutku dengan penuh keheranan. Mengapa namamu tidak kutuliskan di antara tiga penyanyi balada. Iwan falls, Doel Sumbang, dan Ebiet G Ade. Ya, kawan itu salah satu pengagummu, karena karyamu ia bisa mengepulkan dapur keluarganya.

Sekali lagi Franky! keheranan itu semakin tumbuh, lebih banyak dan semakin subur. Saya kira kau pun merasakannya kala masih berpijak. Bahkan ketika Presiden baru tampil berpidato. Ia pun membeberkan keheranannya. Heran dan heran, karena seorang Presiden berbicara keheranan, kita pun heran seheran-herannya. Uh! Sungguh kita hidup di negeri yang berkutat dengan keheranan.

Keheranan seolah mengalahkan nalar kita, ia mengunci kotak memori agar tak bisa lagi memeriksa data-data yang ada. Mungkin itu yang dialami kawan saya ketika melihatmu melebarkan sayap ke ruang yang lain.

Franky! Mungkin ada baiknya kita duduk di malam hari memandangi rembulan dan diam seribu kata. Sebagai jeda dari keheranan itu.

***
Pangkep, 4 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap