Skip to main content

Bangun Tidur dan Spasi Atas Penjajahan



Mbah Surip

Saya terjaga ketika Matahari sudah berlalu, ia membawa kabur Scooter, gitar, dan sebuah buku yang belum kutuntaskan. Kupandang lekat jam dinding sebagai satu-satunya hiasan di ruang tamu. Belum siang, masih pukul 9 pagi. Ah! Tak biasanya Matahari bangun secepat itu.

Dasar Matahari! Saya kembali dikibuli, kemarin sore ia datang ke rumah dengan senyum yang tak biasa, ia bahkan menggendongku untuk makan bakso di warung Mas Boby. Dua tanda yang gagal kuterjemahkan. Rupanya, ia menginap di rumah sebagai penyempurnaan penyamarannya itu.

Esoknya, lewat pesan pendek, ia baru mengabari, kalau ia ingin fokus mendalami tembang Ta Gendong. Dasar Matahari! Selera musiknya ikut-ikutan. Padahal, saya punya koleksi Bob Marley yang lumayan lengkap. Kalau sekadar butuh referensi musik reggae.

Siapa Mbah Surip itu! Pernah sepintas saya melihatnya di layar kaca. aksesoris reggae melekat di tubuhnya. Ah! Jangan-jangan ini hanya tren saja. Lagi pula, pendatang baru hanya punya satu hits yang selalu diulang-ulang di mana mereka tampil.

“Ta gendong ke mana-mana/Ta gendong ke mana-mana/Enak, toh!/Mantap, toh!/Tak gendong ke mana-mana…./

Suara kor itu terdengar bising di depan rumah, kuintip dari jendela, segerombolan anak-anak berdendang ria melafalkannya. Ah! Mbah Surip lagi, Tidur lagi ah! Tetapi suara itu masih terdengar jelas, saya bangun lagi, kuintip dari jendela, anak-anak itu rupanya duduk berjejer di bangku depan rumah. Ah! Mengapa mereka duduk di situ, saya masih ingin tidur.

“Bangun tidur/Tidur lagi/Banguuuunnnn/Tiiidur Lagi/Hahahaha!!!!”

Mataku menyala, telingaku melebar. Ya! Anak-anak itu meledekku. Tak lama berselang, pesan pendek menggetarkan telepon genggam yang tergeletak di lantai. Sebuah pesan yang menagih. Ah! Saya lupa sebuah janji.

Saya kelabakan, seolah belum tuntas, Lagi pesan pendek masuk, kali ini dari Matahari.  Ia mengatakan kalau Scooter, gitar, dan buku. Akan dikembalikan dalam waktu yang bisa ditentukan. Ahhhhhhhhhh!!!!!

Mbah Surip! Kau ini siapa, tiba-tiba saja muncul, seingatku kau tak punya jejak layaknya Iwan Falls, Doel Sumbang, atau Ebit G Ade.

Anak-anak itu masih bernyanyi ria: “Ta gendong ke mana-mana/Ta gendong ke mana-mana…./

Seminggu kemudian, Matahari muncul tepat pukul 9 malam. Senyum itu sangat kukenali, ajakannya makan bakso kutolak, beberapa menit mulutku terkatup. Matahari lalu bernyanyi: “Bangun tidur/Tidur lagi/Banguuuunnnn/Tiiidur Lagi/Hahahaha!!!!”Stop, itu lagu siapa.“ “Mbah Surip,” Tegasnya.

Ah! Esoknya, saya menjelajah dunia maya mencari informasi penyanyi berambut gimbal itu. Biasa-biasa saja, kesimpulanku. Lalu mengapa tembangnya begitu mudah bersarang di benak, termasuk anak-anak. Ya! ketika tembang ini muncul, seolah tembang-tembang lainnya raib. Anak-anak yang kehilangan standar nyanyian kadar usianya, memaksa lidahnya melafalakan tembang cinta picisan band pop. Ada penjajahan yang tak terjamah, karena para orang tua membanggakan hal itu sebagai pencapaian sang anak.

Dan kau lalu datang Mbah Surip! Lirik yang kau tawarkan sangat sederhana, kau tak memaksa kata untuk tumbuh menggapai langit. Saya pikir itu spasi bagi anak-anak yang kehilangan tembang untuk merayakan usianya. Mereka melafalakan tembangmu layaknya menyanyikan Burung Kakatua. Tidak ada kerut di wajahnya. Sangat beda, ketika anak-anak itu memaksa lidahnya yang pendek mendendangkan tembang sebuah grup band.

Mbah Surip! Saya tak mengikuti perjalananmu begitu intens, tetapi saya menaruh simpati atas tembangmu yang telah menjadi spasi atas penjajahan itu. Sepertinya, kau bangun dari tidurmu untuk melawan, meski kau bukan Pak Kasur yang menghibahkan hidupnya untuk menggubah lagu anak-anak. Saya kira, anak-anak ingin sekali mengucap I Love U Full di hadapanmu.

Oh, ia Mbah Surip! Usai seorang kawan menyanyikan tembangmu. Ia lalu berkata: “Apa kau tahu! Mengapa saya mengubah namaku menjadi Matahari, karena saya ingin bangun pagi lebih awal dari kokok ayam jantan, dan saya tak mau lagi mendapat omelan dari adikku”

***
Makassar, 3 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…