Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2013

Wali Kota dan Don Quixote

Kota memang tak pernah sepi, ia akan selalu ramai dari segala aktivitas. Maka menjadi wajar jika di ruas jalan, sepasang mata kita selalu menangkap geliat itu, mencium aroma dan mendengar teriakan yang bisa saja membahayakan bagi warga kota.

Collieq Pujie, Kartini, dan Orientalisme

Retna Kencana Collieq Pujie Arung Pancana Toa (1812-1876), dikenal sebagai juru tulis Kerajaan Tanete (sekarang Barru), melalui ketekunannyalah sehinga epos La Galigo bisa kita jumpai hari ini, pun ia melawan keterbatasan dan pembatasan bagi seorang perempuan di masanya. Dengan berani, ia menjelajah pelosokguna mencari sebaran naskah La Galigo. Naskah itu selanjutnya diserahkan kepada BF Matthes. Seorang misionaris yang ditugaskan Belanda untuk mempelajarai kebudayaan di Sulsel. Tapi itulah pilihan yang harus dijalani Collieq Pujie.

Sebuah Buku & Perbincangan di Sisa Sore

Pekik azan Asar baru saja bertalu, suara itu sesumbar terdengar di tengah bising laju kendaraan di depan patung Andi Mappe, tak jauh dari lokasi itu, dua orang pemuda sedang memasang spanduk di tembok Cafe Torani. Sore itu (21/4), Komite Komunitas Demokrasi Pangkep (KKDP) akan menggelar bincang buku Gerak Demokrasi Lokal, Pergumulan dari Pangkep, Sulawesi Selatan.

Mayakrasi

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali menjadi newsmaker, usai menerima dorongan dari kader Partai Demokrat guna memegang amanah selaku ketua umum yang dinilai oleh pengamat sebagai bentuk oligarki politik dan juga ketidakkonsistenan, karena sebelumnya beliau menghimbau sejumlah menteri agar fokus pada tugas negara dari pada partai. Namun kini, ia juga telah meluncurkan akun Twitter.

Demokrasi di Atas Sungai

Demokrasi di negeri ini tampaknya mengambang, naik turun mengikuti tinggi rendahnya air, atau pergi dan kembali sesuai arah arus. Tidak ada yang menetap dan membumi sebagai dasar pijakan yang akan tumbuh seiring perjalanan zaman menuju impian dari setiap generasi.

Semalam di Malaysia

Syam D’lloyd
“Aku pulang/Dari rantau/Bertahun-tahun di negeri orang/ Oh Malaisya…”
Syamsiar Hasyim yang terhormat! Lirik di atas, tentu sangat kau kenal, kan! Ya, itulah tembang yang pernah kau dendangkan bersama grup legendarismu, D’lloyd.
Syam! Kepergianmu tak seheboh berita kematian Mbah Surip, sungguh! saya berani bertaruh untuk itu. Saya heran saja, sebuah panggilan memaksaku berhenti di tengah perjalanan. Hanya untuk berbagi keyakinan bahwa kau telah berkalang tanah. Syam! Kawan itu, hampir separuh hidupnya dilakoni sebagai pencari warta. Itulah dasar untuk mengatakan, bahwa di ujung hari yang kau tatap, hanya sedikit yang mengetahui kematianmu. Hal ini boleh jadi, berlaku pula pada sebagian penggemar suara cengkokmu.
Syam! Hari ini, saya kembali memeriksa tumpukan kardus sejarah, berharap dalam ingatan perkembangan musik di tanah air, saya menemukan berkasmu di salah satu tumpukan itu. Aha! Selain Koes Plus dan Pambers. D’lloyd juga ada di sana. Saya bahagia menemukan beberapa kepi…

Siapa Pewaris Sumbar Daya Alam

Sering kali kita mendengar perseteruan kelompok masyarakat dengan sebuah perusahaan atas klaim pengelolaan sumber daya alam (SDA) di suatu daerah. Atau terjadi konsesi antara pemerintah dan pemodal dalam membangun legitimasi percepatan ekonomi, yang mana SDA menjadi komoditas utama untuk mencapau target yang diinginkan. Meski sebenarnya hal yang demikian hanyalah dalih guna meraup keuntungan.

Franky! Kita pun Heran

Franky Sahilatua
Seorang kawan menulis di laman blognya tentang keheranannya melihat perubahan tokoh idolanya. Ia khawatir kalau sang idola menjadi rusak, manakala terlibat dalam sebuah ormas yang bergerak menuju panggung politik praktis.
Di postingan itu, ia memajang fotonya bersamamu, Franky! Senyumnya lebih lebar dari senyummu. Ia sangat bahagaia. Tak lupa ia menuliskan sepotong lirik Perahu Retak: “Aku heran/Aku heran/Yang salah dipertahankan/Aku heran/Aku heran/Yang benar disingkirkan….”.
Franky! Ketika kau wafat, kawan itu murung sejadi-jadinya, kau hanya meninggalkan sejudul tembang baru untuknya: Aku Mau Presiden Baru, dalam pelbagai kesempatan, ia melafalkan tembang itu di hadapanku.
“Apa iya, Franky tak puas sebagai musisi saja, sehingga merasa perlu memasuki sebuah ruang lain, agar dekat dan lebih mudah mempengaruhi kebijakan publik!” Ucapnya, usai melafalakn lirik itu.
Franky! Saya kira perjalanan waktu senantiasa menuntut perubahan. Kau merasakan itu, kau gelisah karenanya, …

Perihal Catatan Harian

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari sebuah catatan harian, bukankah catatan yang demikian sangat personal, karena di sana hanya ada monolog dan sepertinya menyepelekan dialog. Namun, asumsi ini tak sepenuhnya bertahan untuk dijadikan peta menuju satu sudut pandang. Sejarah yang kita eja tentang catatan harian sungguhlah menakjubkan, mari simak Catatan Seorang Demonstran goresan pena Soe Hok Gie yang dibukukan.

Bangun Tidur dan Spasi Atas Penjajahan

Mbah Surip
Saya terjaga ketika Matahari sudah berlalu, ia membawa kabur Scooter, gitar, dan sebuah buku yang belum kutuntaskan. Kupandang lekat jam dinding sebagai satu-satunya hiasan di ruang tamu. Belum siang, masih pukul 9 pagi. Ah! Tak biasanya Matahari bangun secepat itu.
Dasar Matahari! Saya kembali dikibuli, kemarin sore ia datang ke rumah dengan senyum yang tak biasa, ia bahkan menggendongku untuk makan bakso di warung Mas Boby. Dua tanda yang gagal kuterjemahkan. Rupanya, ia menginap di rumah sebagai penyempurnaan penyamarannya itu.
Esoknya, lewat pesan pendek, ia baru mengabari, kalau ia ingin fokus mendalami tembang Ta Gendong. Dasar Matahari! Selera musiknya ikut-ikutan. Padahal, saya punya koleksi Bob Marley yang lumayan lengkap. Kalau sekadar butuh referensi musik reggae.
Siapa Mbah Surip itu! Pernah sepintas saya melihatnya di layar kaca. aksesoris reggae melekat di tubuhnya. Ah! Jangan-jangan ini hanya tren saja. Lagi pula, pendatang baru hanya punya satu hits yang selal…

Gitar Satu Senar dan Wajah Orde Baru

Harry Roesly
Minggu pagi sekitar pukul 9, saya hampir saja berkelahi dengan anak tetangga. Pasalnya, saya menolak melanjutkan permainan kelereng. Ia ngotot, karena ingin menebus kekalahannya kemarin.
Rupanya, nasib baik berpihak padaku. Emaknya segera datang melerai. Saya bisa rugi dua kali jika adu jotos itu terjadi. Pertama, karena saya yakin tak punya kuasa untuk menangkis pukulannya. Kedua, saya bisa ketinggalan acara album Minggu di TVRI.
Apa kau tahu, Kang Harry! Saya tidak ingin melewatkan video klipmu. Meski usia saya kala itu masihlah 7 tahun, dan program tembang anak juga ada, tetapi saya ingin berbeda, saya tidak mau menyanyikan Abang Tukang Bakso, Nyamuk-Nyamuk Nakal, atau Ayo Menabung.
Mereka pikir saya tak pandai menyanyi karena suara saya jauh dari merdu, sekali waktu saya ditertawakan mendendangkan Abang Tukang Bakso. Saya dianggap telah merusak tembang itu, karena bunyi yang keluar dari mulutku lebih tepat disebut lenguh kerbau.
Tahukah kau, Kang Harry!
Seketika ada po…