Skip to main content

Negarawan yang Terus Hidup



Mohammad Hatta

Suatu malam di penghujung sebuah tahun, lima pemuda menolak larut dalam gemerlap pesta kembang api. Sehari sebelumnya, mereka sepakat melewati malam peralihan tahun dengan berkumpul di salah satu rumah di antara mereka.

Tak ada terompet bertalu. Dengan iringan gitar, mereka bernyanyi. Dari sekian banyak lirik yang didendangkan, mereka selalu saja mengulang sebuah lirik gubahan maestro balada, Iwan Fals. Ya! Entah berapa kali lirik itu diulang. yang jelas, ketika mereka merasa jenuh dengan lirik yang lain. Mereka akan memulai lagi.

“Tuhan, terlalu cepat semua. Kau panggil satu-satunya yang tersisa. Proklamator tercinta.”

Mereka mengenangmu, Sang Negarawan! Mereka mengingat bakti, jasa, dan kesederhanaanmu. Walau kutahu, kelima pemuda itu tak pernah membaca biografimu. Berbekal pengalaman di sekolah, mereka mengingat dari sebuah postermu yang terpasang di tembok, atau mengeja namamu dari pelajaran sejarah. Kemudian mereka tahu, kalau Iwan Fals menggubah lirik untukmu, belajarlah mereka menindis not di gagang gitar untuk mengenangmu.

Bagi mereka, kisahmu dalam lirik itu adalah bentuk heroisme. Layaknya mengenakan kaos berwajah Che Guevara. Karena dalam dunia populer di mana mereka tumbuh, mereka mau berbeda sebagai wujud perlawanan.

Tuan Hatta!

Namamu adalah kata yang tak pernah usai, kau mengalir hingga ke dunia yang tak pernah kau duga. Kau begitu cerewet di balik wajahmu yang dingin. Ketika di Banda Neira kau terus saja menulis, begitupun kala Belanda mengasingkanmu ke Boven Digoel. Kepalamu tetap sibuk bekerja. Berpikir.

Namamu adalah solusi, tak ada masalah sesudahnya. Sejarah yang melaju, tidak menuliskan di mana persinggahannya. Walau sekadar untuk mengisahakan di mana kau pernah terjatuh. Atau kapan kau lupa mencuci muka kala terjaga.

Tuan Hatta!

Sama dengan lima pemuda yang menolak larut dalam pesta kembang api di peralihan tahun itu. Pemuda lainnya yang sering saya jumpai, adalah pemuda yang mengenalmu begitu lekat dengan bacaan. Mereka pun menaruh hormat yang dalam. Mereka menulis tentangmu dan tak hanya mengulang lirik untuk mengenangmu. Terkadang, mereka mengulang lelucon, karena tak mampu menulis pertanyaan yang benar. “Bung Hatta! Adakah kau di sana bertemu dengan Tan Malaka?”

Ah! Saya ingin memetik gitar.

“Tuhan, terlalu cepat semua. Kau panggil satu-satunya yang tersisa. Proklamator tercinta”

***
Makassar, 30 Oktober 2012

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…