Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2013

Tentang Apa Saja yang Terlintas di Benakku

Hans Bague Jassin
Saya tidak tahu, hendak mengabarkan apa padamu. Padahal, saya ingin sekali proyek penulisan surat ini terus berlanjut. Saya menyebutnya 30 hari menulis surat. Dan, surat kesembilan ini, saya ingin mengirimkannya untukmu.
Terhitung, sudah dua bungkus kretek tersulut, tiga pesan di inbox Facebook, dua judul buku telah saya baca ulang, beberapa alamat website saya kunjungi, sekali pertemuan dengan seseorang untuk menerima masukan, dan sesudahnya, saya tertidur 7 jam. Referensi yang saya deretkan ini kurasa sangat cukup untuk berkirim surat kepadamu, tuan Jassin. Tetapi, saya merasa telat memenuhi jadwal yang saya tentukan sendiri.
Saya berkeluh, nasihat yang menghampiri, saya tak memiliki kewajiban untuk menulis. Saya menyadari itu. Namun, saya sudah menyusun peta perjalanan 30 hari ke depan. Saya tak mau pulang sebelum sampai di hari ketigapuluh.
Baiklah, akan saya kabarkan beberapa hal yang selalu tidak pernah selesai. Apa itu, saya tak membuat patokan, saya mau mengali…

Perihal Bung Kecil

Syahrir
Seorang kawan yang kini melanjutkan studi di Jakarta, acap kali mengirimkan pesan pendek yang mengabarkan situasi paling hangat di ibu kota. Meski warta itu sudah tersiar di beberapa media. Namun sebagai kawan lekat, mungkin ia merasa perlu untuk mengabariku. Mungkin pula karena ia ingin menunjukkan sesuatu yang lain.
Setiap pesannya ia tak lagi menyapaku Sobat, Parner, atau Sodara, sapaan yang selalu kami ucapkan sejak pertama kali bertemu di tahun 2003. Tiba-tiba saja, saya merasakan jarak, saat ia menyapaku Bung.
Saya di Makassar dan ia di Jakarta. Apakah ia ingin menunjukkan sebentuk lingkungan yang berbeda? Entahlah.
Saya sadar, kalau kawan itu tak punya maksud apa-apa dengan perubahan penyebutan sapaan. Karena di ibu kota, atau di lingkungan di mana ia berjejak, sapaan Bung adalah bentuk kedekatan yang saling menghormati. Hanya saja, ada rasa yang terjemahkan, saya ini Bung kecil yang masih berdiam di Makassar. Karena warta terhangat perihal Makassar yang saya kirimkan kep…

Putra Daerah di Mana Kau Berpijak

25 Februari 2012, untuk pertama kalinya dalam sejarah demonstrasi di Pangkep dipimpin langsung oleh Bupati. Sungguh sebuah peristiwa sejarah yang akan selalu dikenang, hal itu dipicu oleh keputusan rapat umum pemegang saham luar biasa (RU-PSLB) PT Semen Tonasa yang menetapkan lima komisaris tanpa putra daerah.

Negarawan yang Terus Hidup

Mohammad Hatta
Suatu malam di penghujung sebuah tahun, lima pemuda menolak larut dalam gemerlap pesta kembang api. Sehari sebelumnya, mereka sepakat melewati malam peralihan tahun dengan berkumpul di salah satu rumah di antara mereka.
Tak ada terompet bertalu. Dengan iringan gitar, mereka bernyanyi. Dari sekian banyak lirik yang didendangkan, mereka selalu saja mengulang sebuah lirik gubahan maestro balada, Iwan Fals. Ya! Entah berapa kali lirik itu diulang. yang jelas, ketika mereka merasa jenuh dengan lirik yang lain. Mereka akan memulai lagi.
“Tuhan, terlalu cepat semua. Kau panggil satu-satunya yang tersisa. Proklamator tercinta.”
Mereka mengenangmu, Sang Negarawan! Mereka mengingat bakti, jasa, dan kesederhanaanmu. Walau kutahu, kelima pemuda itu tak pernah membaca biografimu. Berbekal pengalaman di sekolah, mereka mengingat dari sebuah postermu yang terpasang di tembok, atau mengeja namamu dari pelajaran sejarah. Kemudian mereka tahu, kalau Iwan Fals menggubah lirik untukmu, belaja…

Guru Kencing Berdiri, Murid Seharunya Menegur

*** Kurikulum hanyalah situasi klise yang akan terus berulang di masa mendatang, karena perancangannya memang tidak visioner sehingga sangat dimungkinkan menjadi masalah itu tersendiri. Kita bisa menebak bahwa akan muncul ketidaksiapan guru dalam mengimplementasikan muatan kurikulum tersebut, dengan demikian perubahan yang diharapkan mustahil dicapai ***

Ijtihad Intelektual Garis Miring

Soekarno
Di meja makanmu tersaji tiga menu, kau memakan semuanya, kau bahkan mampu menghafal resep ketiga menu itu, yang lebih fantastis lagi, kau pernah meracik ketiga resep itu menjadi satu resep. Hasilnya, lahirlah Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunis).
Kau seorang koki yang andal, tuan! Tentunya, kau perlu menjaga arti sebuah selera agar pelangganmu tidak beralih ke warung lain atau malah membangun warung sendiri. Hanya saja, racikanmu itu tak bertahan lama, mungkin di luar perkiraanmu. Lidah pelangganmu tak terbiasa mengunyah jenis makanan terbaru apalagi itu berupa resep campur aduk.
Tetapi, tahukah kau sang Proklamator! Penolakan atas idemu itu harus dibayar mahal.
Nasionalisme kehilangan bentuk, terasa hambar, dan menyakitkan. Apa kau tahu di mana sakit itu menghantam? Saya yakin, kau bisa menerkanya, karena kau menolak penambangan tanah ibu pertiwi oleh pihak luar. Di eramu, penanaman modal asing (PMA) itu musuh yang harus diganyang, karena kau ingin anak-anak yang lahir da…