Skip to main content

Kartu, Syal, Kemeja, dan Regulasi



Syahdan! Lalu bagaimana jika di hari pemilihan, ada warga yang masuk ke bilik suara mengenakan kemeja kotak-kotak, atau sedang memakai syal karena memang sedang masuk angin. Atau ia lupa membawa kartu selaku pemilih yang sudah terdata, dan hanya membawa kartu bebas yang selalu terselip di saku celananya. Ya, kali saja ada peristiwa yang demikian di hari pemilihan.

Pilgub Sulsel untuk kali kedua hanya menyisakan beberapa hari lagi menjelang hari pemilihan, dan media massa setiap hari menghidangkan informasi terbaru perihal seputar kegiatan yang sedang dilakoni para pasangan kandidat. Bersamaan dengan itu pula, penanda dari masing-masing kandidat makin tertanam di batok kepala kita.

Dari pasangan nomor satu, meluncurkan tawaran program berupa kartu bebas yang mencakup Sembilan akses pelayanan yang bisa didapatkan dengan cuma-cuma. Pasangan nomor dua, dengan mudah dapat dikenal dengan syal macan yang melingkar di leher beserta ratusan penghargaan yang telah diraih. Selanjutnya pasangan nomor tiga, mengadopsi busana ala Jokowi-Ahok pada Pilgub DKI Jakarta. Kemeja kotak-kotak. Juga dengan sejumlah program unggulan. Tegasnya, ketiga pasangan kandidat sudah definitif dan siap bertarung.

Itulah simbol dari ketiga pasangan yang dengan mudah dapat tertanam di benak khalayak. Selain tentunya sebuah tagline untuk memperjelas identitas. Ya, sebuah identitas. Pada wilayah inilah saya kira telah terbangun dinding pemisah. Ada terjemahan cerdas dari Goenawan Moehammad, kalau identitas adalah suatu rumusan berdasarkan apa yang hendak dilawan. Maka lahirlah keseragaman dalam kelompok untuk membedakan dengan kelompok lainnya.

Dan inilah yang tengah berlangsung, di mana rancangan branding politik ini akan semakin masif seiring sisa hari menjelang hari pemilihan. Dalam jelajah ini, saya kira tidak berhenti pada perebutan ruang-ruang publik saja, seperti warung kopi, pasar, serta kantong-kantong komunitas. Pelosok terjauh pun menjadi prioritas.

Karena untuk memenangkan pemilihan, maka semua wilayah perlu direbut. Termasuk simbol-simbol yang sejauh ini melekat di benak masyarakat. Hal ini memang suatu kewajaran dalam takaran pembangunan strategi sosialiasi kandidat. Tapi pertanyaan dasarnya, apakah ketiga pasangan ini tidak begitu dikenal di Sulawesi Selatan? Sehingga perlu merancang identitas-identitas baru untuk lebih dikenal lagi.

Ya, ini bukan lagi soal dikenal atau tidak. Melainkan perebutan suara dan penekanan hegemoni kekuasaan untuk mendapatkan pengakuan regulasi. Maka bentuk perilaku apa pun akan menjadi wajar manakala hal yang demikian diperlukan untuk saling meredam dan adu gertak kekuatan yang sedang bertarung.

Nampaknya memang Pilgub melahirkan efek yang bisa menjangkiti apa saja. Di kekinian, jika anda berjalan di pusat keramaian, lantas mengenakan kemeja kotak-kotak. Maka asosiasi seseorang bisa saja melabeli anda sebagai pendukung salah satu kandidat. Apalagi itu berupa kemeja kotak-kotak merah bergaris hitam.

Hal ini sama halnya bagi anda yang gemar mengenakan syal, tak perlu bermotif macan pun, anda akan menjadi bahan perbincangan. Setidaknya menjadi bahan lelucon di kalangan kerabat. Lalu bagaimana dengan kepemilikan kartu, seorang teman mencoba membuat joke. Kalau kartu bebas juga bisa digunakan untuk memarkir kendaraan tanpa perlu membayar.

Kira-kira begitulah pelabelan akan bekerja mengikuti apa yang sedang populer. Gejala ini boleh jadi menunjukkan empati yang bermuara pada humor. Terlihat sangat serius, tapi sebenarnya begitu lucu bila sudah dicernah dengan baik.

Syahdan! Lalu bagaimana jika di hari pemilihan, ada warga yang masuk ke bilik suara mengenakan kemeja kotak-kotak, atau sedang memakai syal karena memang sedang masuk angin. Atau ia lupa membawa kartu selaku pemilih yang sudah terdata, dan hanya membawa kartu bebas yang selalu terselip di saku celananya. Ya, kali saja ada peristiwa yang demikian di hari pemilihan.

Lalu, apakah hal yang demikian menjadi wilayah pengawasan Panwas atau sesuatu yang boleh-boleh saja dilakukan! Entahlah, kreatifitas tim pemenangan dalam Pemilukada memang sulit dibendung dan tak cukup waktu guna membuat regulasi khusus.

Siapa yang Menang?

Pertanyaan ini memang teknis, tapi itulah yang menjadi kesimpulan dari semua argumentasi yang telah diutarakan, dari semua kerja yang telah dilakukan, dan dari semua doa yang telah dipanjatkan.

Kita ingin segera tahu siapa yang menang setelah suara diberikan, hal ini sama halnya dengan keinginan tahu kita akan reaksi pasangan kandidat. Apakah akan menerima jika suara terbanyak tidak berpihak. Inilah tahap yang paling inti untuk disikapi, mengingat kerja keras dan segala pengorbanan yang telah dihibahkan selama perhelatan Pilgub ini. Tapi konsekuensinya, hanya satu pasangan yang diakui sebagai pemenang.

Lalu siapa yang menang! Tentulah pasangan kandidat yang memperoleh suara terbanyak, itu pasti dan dijamin dalam regulasi. Lalu setelah menang! Itulah pertanyaan kita selanjutnya yang membutuhkan jawaban, dan masyarakat Sulsel punya hak untuk menagih jawaban itu kepada pemenang.

Ada yang perlu digaris bawahi, bahwa masalah yang hendak diselesaikan di Sulsel ini bukanlah soal pembagian kartu yang merata bagi masyarakat, juga bukan persoalan penggunaan syal yang harus melingkar di leher, apalagi menyeragamkan masyarakat dengan kemeja kotak-kotak. Semua aksesoris itu sama sekali tak berguna bila masyarakat masih mengulang pengalaman getir dalam menjalani hidup.

Jawaban yang ditunggu masyarakat adalah realisasi dari semua susunan kata yang termaktub dalam draf program yang yang telah ditawarkan, yang telah diteriakkan, dan yang telah dijanjikan. Karena itu, wahai pasangan yang memperoleh suara terbanyak. Tetaplah berdiri dengan gagah, jangan lari, terlebih melupakan.

Sejarah Sulsel lima tahun ke depan ada di buku catatan harian Tuan! Catatlah sesuatu yang membanggakan dan bermartabat, agar kami masyarakat Sulsel mengingat Tuan tak sekadar sebagai pemenang Pilgub, tapi juga sebagai panutan yang memang pantas dikenang.
***
Makassar, 16 Januari 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…