Skip to main content

Berdebat di Pilgub Sulsel



Debat kandidat Pilgub Sulsel tahap pertama sudah berlalu, sebuah debat yang dinilai sejumlah pengamat lebih mirip stand up comedy. Yang terparah, adalah bentrokan dua pendukung kandidat usai debat. Ironi memang, karena sebelumnya tiga pasangan kandidat telah menandatangi MoU Pilkada damai di Kantor KPU Sulsel.

Bahkan perubahan jadwal debat dari malam hari ke siang hari, juga tak menjadi jaminan akan kondusifnya situasi, sebagaimana yang diprediksi Kapolda Sulsel. Amuk massa rupanya sulit diterka, namun peristiwa ini bisa pula dibaca sebagai desain atas adanya hegemoni sebuah kekuatan. Paling tidak, kita bisa mengajukan dasar terkait pembatalan debat kandidat tahap kedua.

Namun tahukah kita, kalau jauh hari sebelum acara debat kandidat dilaksanakan. Bahkan sebelum penetapan nomor urut, riuh perdebatan di dunia maya sudah terjadi. Khususnya di jejaring sosial facebook. Meski yang berdebat tidak saling bertatap muka, tapi lontaran argumen sangatlah panas. Terbukti dengan adanya kalimat sinis yang jelas bisa melukai perasaan yang ditujukan.

Tapi ini adalah dunia maya, serius dan pura-pura sulit ditakar. Bahwa apa yang dikatakan melalui kalimat di dinding facebook, masih perlu untuk dipertanyakan perihal kekonsistenan serta perilaku pengguna akun. Saya menduga, perdebatan sejumlah loyalis kandidat  ini tak lebih sebagai perayaan kebebasan yang kebablasan. Mungkin karena mempublikasikan kandidat di dunia maya tak tersentuh regulasi, sehingga kampanye tetap bisa dilakukan hingga hari pencoblosan.

Layaknya berjalan di lorong yang gelap, para loyalis yang bersuara di dunia maya sibuk membabat apa saja yang menyandung kakinya dalam melangkah. Karena tidak ada hal produktif yang bisa dihasilkan dari sesumbar yang dipublis di dunia maya. Tujuannya cuma satu, mengkampanyekan sang kandidat, persoalan misi visi dan program bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan.

Sehingga debat yang terbangun dengan loyalis kandidat yang berbeda, hanyalah persoalan hitam putih, bahwa kandidat pilihan saya lebih baik dari pilihan anda. Namun, inilah dunia maya, serius dan pura-pura sulit ditakar. Tapi boleh jadi, ini sebuah gejala sikap apatis di dunia nyata, yakni menjadi agen penyebar ilusi.

Ilusi Perubahan

Sebenarnya apa yang membedakan kita, loyalis, dan para kandidat selain sebagai orang yang akan dipilih pada 22 Januari mendatang. Kita pun bisa mengkampanyekan proyeksi perubahan atau melakukan tindakan nyata di lingkungan terdekat. Atau yang paling heroik, menolak berbuat korup.

Bahwa pegalaman kita dalam proses politik lima tahunan ini, bukanlah hal yang pertama. Tentu sudah ada beberapa proses yang demikian. Yang mana melahirkan dua gejala. Pertama, kita merasa punya kewajiban untuk turut menyukseskan pemilihan yang diukur dengan kemauan melangkah ke TPS. Kedua, pengalaman yang banyak ini merupakan keengganan kita untuk tidak terlibat lagi.

Pilihan pertama di atas merupakan konsekuensi logis dari hegemoni ilusi perubahan yang disebar para kandidat, pilihan kedua, erat kaitannya dengan perlawanan yang coba ditempuh para pemilih. Bahwa pengalaman mengingatkan kalau proyeksi perubahan yang dijejalkan selama ini, itu tak terwujud.

Jadi, ilusi perubahan yang ditawarkan kandidat di dunia nyata dengan debat para loyalis di dunia maya. Itu adalah sinonim, sama-sama terjebak pada euforia kebebasan dalam menawarkan solusi imajinatif. Sungguh tak membumi.

Kita tahu, kalau pasangan kandidat yang saat ini bertarung di Pilgub Sulsel, adalah mereka yang telah memiliki sejarah memenangi pemilihan langsung. Berarti, tokoh-tokoh ini sudah punya pengalaman dalam menyusun strategi kemenangan dan telah menjual ilusi perubahan kepada masyarakat.

Mendahulukan Esensi

Benarkah ada kepuasan yang tumbuh jika debat yang diharapkan betul-betul sesuai definisi yang teresepakati. Yakni: pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. (http://kamusbahasaindonesia.org/debat).

Jika ini yang terjadi, bisa dibayangkan pasangan kandidat akan saling memasang wajah tegang dengan senyum kecut. Komunikasi verbal yang terbangun dalam sesi waktu yang telah ditentukan, bisa berujung sebagai vonis. Manakala argumen yang dilontarkan mengangkat isu terkait dugaan cela kandidat.

Jika kemudian ada yang unggul dari debat itu karena kepiawaian beretorika dan adanya tunjangan data dalam mempertahankan pendapat. Lantas, apakah kita benar-benar akan mengubah persepsi, yang mana mereka telah kita tahu akan sosok dan kinerjanya? Lalu bagaimana pula dengan masyarakat yang menyaksikan, adakah debat ini sebagai jalan pencerah untuk menetapkan pilihan? Sembari melupakan jejak pasangan kandidat yang telah lalu?

Saya pikir, acara debat dalam bentuknya yang paling frontal sekalipun, itu tak jauh beda dengan menjual ilusi perubahan, Karena esensi dari perhelatan Pilgub Sulsel ini, bukanlah mendahulukan prosedural saja. Kita tentu menantikan perubahan yang membumi.

Sehingga acara debat yang dipaksakan akan melahirkan akibat yang fatal. Patut diingat, kalau pola kesadaran yang masih dominan, adalah ketidaksiapan menerima kritikan apalagi kekalahan. Hal ini sama halnya dengan meniadakan debat yang juga melahirkan efek. Yang rupanya menimbulkan dugaan ketidaksiapan dari otoritas penyelenggara maupun aparat yang memang memiliki fungsi guna menjamin keamanan.

Magnet Pilgub Sulsel rupanya memang kuat, hukum tarik menarik dan tolak menolak telah lahir dan tumbuh di mana-mana. Bukan hanya di dunia nyata, dunia maya pun tak kalah ramainya. Bahkan yang berdebat bukan hanya kandidat. Tapi juga para loyalis, pengamat, penyelenggara, pengawas, media, hingga aparatus Negara.

Namun, adakah semua itu mendahulukan esensi. Dan tak sekadar bersembunyi di balik teks regulasi yang sepertinya tak membutuhkan lagi ijtihad. Ataukah ini sebuah gejala kalau demokrasi yang tengah dijalankan masihlah proses prosedural semata. Miskin interpretasi dan melahirkan kepura-puraan. Entahlah, yang pastinya masyarakat menunggu perubahan yang membumi dan bukan ilusi perubahan.
***
Makassar, 14 Januari 2013
Dimuat di Tribun Timur, 15 Januari 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap