Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2013

Pemilih yang Merawat Ingatan

Sejarah mengingatkan kalau hasil perhitungan cepat (Quick Count), itu tak jauh berbeda dengan hasil perhitungan manual yang dilakukan penyelenggara (KPU). Maka luapan ekspresi guna merespons hasil hitung cepat itu menjadi wajar untuk dilakukan. Mungkin perasaan demikian yang menghampiri pasangan kandidat yang unggul sementara saat menyaksikannya di televisi.

Cerpen dari Sulawesi Selatan

Banjir dan Perilaku Demokrasi Kita

Air bah demokrasi ini tak hanya mengaktual di jalan, perumahan warga di sejumlah titik di daerah juga menjadi sasaran. Karena hal ini kejadian tahunan dan terjadi di titik yang sama, maka barang tentu turunnya air hujan tak bisa dicap sebagai faktor utama (baca: bukan takdir). Nah, pada dasar inilah tanya dan tuntutan berhak diajukan kepada aparatus Negara.


Peristiwa tahunan kembali lagi terulang, tumpahan air dari langit telah menggenangi ruas jalan dan pemukiman warga. Tak tanggung-tanggung, semua kabupaten/kota di Sulawesi Selatan memiliki titik genangan air yang disebut banjir.

Kartu, Syal, Kemeja, dan Regulasi

Syahdan! Lalu bagaimana jika di hari pemilihan, ada warga yang masuk ke bilik suara mengenakan kemeja kotak-kotak, atau sedang memakai syal karena memang sedang masuk angin. Atau ia lupa membawa kartu selaku pemilih yang sudah terdata, dan hanya membawa kartu bebas yang selalu terselip di saku celananya. Ya, kali saja ada peristiwa yang demikian di hari pemilihan.
Pilgub Sulsel untuk kali kedua hanya menyisakan beberapa hari lagi menjelang hari pemilihan, dan media massa setiap hari menghidangkan informasi terbaru perihal seputar kegiatan yang sedang dilakoni para pasangan kandidat. Bersamaan dengan itu pula, penanda dari masing-masing kandidat makin tertanam di batok kepala kita.

Berdebat di Pilgub Sulsel

Debat kandidat Pilgub Sulsel tahap pertama sudah berlalu, sebuah debat yang dinilai sejumlah pengamat lebih mirip stand up comedy. Yang terparah, adalah bentrokan dua pendukung kandidat usai debat. Ironi memang, karena sebelumnya tiga pasangan kandidat telah menandatangi MoU Pilkada damai di Kantor KPU Sulsel.
Bahkan perubahan jadwal debat dari malam hari ke siang hari, juga tak menjadi jaminan akan kondusifnya situasi, sebagaimana yang diprediksi Kapolda Sulsel. Amuk massa rupanya sulit diterka, namun peristiwa ini bisa pula dibaca sebagai desain atas adanya hegemoni sebuah kekuatan. Paling tidak, kita bisa mengajukan dasar terkait pembatalan debat kandidat tahap kedua.

Iklan Politik yang Mengkhawatirkan

Menjelang hari pemilihan Pilgub Sulsel, rupanya ada sejumlah prolog yang telah menguak. Setelah sebelumnya penembakan dua teroris dan amuk alam (Banjir dan Puting Beliung) yang melanda sejumlah daerah. Kedua realitas ini tentu bisa menjadi komoditas politik untuk merebut simpati pemilih guna memenangkan pertarungan.
Isu lain yang tak kalah mengkhawatirkan, ialah kemungkinan benturan massa masing-masing kandidat. Hal inilah yang menjadi analisis Kapolda Sulsel sehingga memberikan instruksi agar debat kandidat dilaksanakan pada sore hari saja. Mengingat sebelumnya jadwal yang ditetapkan KPU akan berlangsung pada malam hari. (Tribun Timur, 9 Januari 2013).

Sekolah Demokrasi Pangkep dan Gejala Perubahan

Pangkep di Awal Tahun 2010
Sebuah kelenganan sedang terjadi, jika tidak dikatakan lesuh. Kursi di salah satu ruang di kantor pemerintah daerah sedang ditinggal pergi sang empu untuk selamanya. Bupati yang sedang menjabat, Ir. Syafruddin Nur, MSi. Wafat.
Tapi itu tidak berlangsung lama, riuh mulai nampak di pelupuk mata, sebuah pagelaran sedang dirancang. Ya! Untuk kali kedua, Pangkep menggelar pemilukada langsung. Tak tanggung-tanggung, ada lima pasangan kandidat yang diusung koalisi partai. Satunya lagi maju secara independen.