Skip to main content

Dg. Anwar Amin, Mencintai Buku Sejak Kecil


Spanduk Kedai Baca Sipakainga (Foto: Ais Em Aris)

Berbekal sejumlah foto di dinding Facebook seorang kawan, ia mengundang untuk menatap petualangannya kala mengunjungi sebuah kedai baca di jalan Veteran Utara Lorong 43, Makassar.
“Sungguh mengganggu, tak sabar rasanya ingin ke sana.” Gumamku.
Kuamati dengan seksama foto-foto itu, rasanya tidak percaya jika di Makassar bisa menjumpai kedai buku yang mengoleksi buku-buku langka. Tapi itulah kenyataanya, ia menemukan trilogi ‘Bumi yang Subur’ karya peraih Nobel Sastra 1938, Pearl S. Buck.
Saya menutup Facebook usai berkomentar kalau saya akan bertandang ke sana.

***

Menjelang Magrib, saya memarkir kendaraan roda dua di depan kedai baca yang dimaksud.

“Akh! Rasa-rasanya saya sering melewati kedai ini.”

Terlihat tiga orang sudah tenggelam di balik Koran dan dua lainnya beradu asap kretek. Saya memesan kopi dan langsung menerobos masuk membuka lemari, mencari Pearl S. Buck, Bundel Majalah Prisma, dan Fredy S.

Dg. Anwar Amin dan buku Di Bawah Bendera Revolusi (Foto: Ais Em Aris)

“Kopinya Nak!” Sapa Dg. Anwar Amin, pemilik kedai buku yang sebelumnya sudah saya baca profilnya di harian Fajar tahun 2011.

“Iye, simpanmaki di meja Daeng!” Balasku

Mataku menjalar ke seluruh ruangan seukuran kamar tidurku ini. Di sisi kanan, koleksi Ensiklopedia Britanica memaku kedua mataku, namun di samping kiri Ensiklopedia Americana menggodah untuk dijamah. Saya bingung. Tapi buku kecil karya Ali Syariati mengajakku duduk manis meneguk kopi.

Butuh sebatang kretek untuk berbincang dengan pemikir Islam itu, pas di depanku. Masih ada satu rak yang belum kujamah, saya bangkit dan menggeledah. Pemilik kedai tak acuh melihatku. Eureka! Saya menemukan sesuatu, risalah tua dari Soekarno ‘Indonesia Menggugat’ berdesakan dengan buku-buku ekonomi dan sebuah buku panduan Salat.
Pemilik kedai meraih buku itu dari genggamanku. “Inimi saya cari Nak! Saya kira sudah hilang, bagus sekali ini buku. Saya juga punya Di Bawah Bendera Revolusi.” Ia meraih buku tebal itu lalu duduk. Menatapnya lekat-lekat.

Melihat tingkahnya, saya duduk di depannya dan menyulut kretek. Membuka dialog.
“Kita beli di mana buku itu Daeng?”

“Lamami ini Nak, saya lupa beli di mana.”

“Daeng, tidak ada koleksi novelnya Pram!”

“Apa!”

“Novelnya Pramodeya Ananta Toer Daeng!” Saya mengulang.

Menggeleng.

“Tidak Nak! Saya tidak tertarik dengan dia, saya lebih suka Buya Hamkah.”

“Kenapa Daeng!”

“Ya, bukannya tidak suka Nak! Saya termasuk orang yang kagum dengan karya-karyanya, tapi saya tidak tertarik. Tapi saya kira perlu dibaca.”
Ia pun menyulut kretek, mengisap dalam dan memuntahkan asap. Saya menambahkan hembusan asap, dan kaburlah pandangan.

Selanjutnya ia bercerita banyak perihal Soekarno dan Pancasila, Mengutuk amuk sosial yang terjadi di Papua dan sejumlah daerah di tanah air. Ia juga fasih menjelaskan sepotong sejarah Rusia hingga lahirnya Negara-Negara baru di Eropa Timur.
Saya mengangguk dan mengikhlaskannya berpidato. Tersembul rasa bahagia dan bangga, sepertinya ada sungai yang hendak menerobos bulu mataku. Tiba-tiba sosok almahrum Ayahku hadir, tepat di sampingnya, meneguk kopi pekat. Nampaknya mereka sebaya, 64 tahun. Secepatnya kusembunyikan dengan hembusan asap dan sebisa mungkin menggantinya dengan lelehan senyum.

Dg. Anwar Amin terus menjelajah. Kali ini, ia pulang ke masa kecilnya.

“Dulu itu Nak! Kalau saya ulang tahun. Bapak saya tidak memberi hadiah berupa mainan apalagi uang. Ia mengajak saya ke toko buku.”

“Toko buku apa itu Daeng!”

“Toko Buku Assegaf di Jalan Pangeran Ponegoro dan Toko Buku Hidayat di Jalan Gunung Lompobattang. Yang pertama itu, neneknya almahrum Prof. Dr. Ahmad Ali, yang kedua, adalah Pamannya.”

Kembali ia mengisap dalam kreteknya.

“Kira-kira begitumi Nak! Sehingga saya suka buku. Hari ini pun saya masih membeli buku jika uang curian saya sudah cukup untuk sejudul buku. Terkadang saya menyelipkan uang hasil jajanan kopi istri untuk membeli buku. Karena saya pikir buku itu adalah dunia yang saya jaga supaya generasi muda mau membaca.

Makassar, 14 Desember 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap